Conflict, Berani?

Categories Uncategorized

Membiasakan diri berhadapan dengan konflik memang berat. Hal itu yang sekarang sering kualami. Permasalahannya bukan pada esensi konflik itu, namun bagaimana menyelesaikannya dengan segera.

Jujur, kalau otakku ini bisa di “audit”, aku tipe orang yang sebisa mungkin tidak berurusan dengan konflik. dengan kata lain, conflict avoider cuma, aku beruntung bisa berhadapan dengan konflik, sebab hal itu melatihku untuk tidak mudah merasa nyaman dengan keadaan sekarang.

Dampak negatifnya adalah:
– Tidak selera makan
– tidak konsen kerja
– diliputi rasa bersalah/marah
– sensitif.

Namun, begitulah dinamika hidup. Ketika ada rekonsiliasi, rasanya indah sekali.

*sebelum pulang kantor posting dulu*

17 thoughts on “Conflict, Berani?

  1. Boss ini unik juga, konflik bukannya sudah menjadi sebagian dari hidup kita sehari-hari, setiap menit setiap detik kita dealing dengan konflik. Conflict itulah yang membuat anda masih hidup sampai saat ini, membuat anda seimbang dan dapat maju terus, karena pada dasarnya konflik atau pertentangan sudah ada di dalam raga anda sendiri. Coba anda perhatikan sekarang saat ini juga, anda masih bernafas bukan??,— kenapa setelah ambil nafas ngisep udara susah payah tiba2 anda keluarkan lagi, kalau nggak mau ada konflik, isep terus dong Boss. Kenapa anda sudah susah payah mencari uang untuk beli makanan, setelah dapet makanan dimasukin keperut, sesudah diperut dikeluarin lagi. Jalan juga begitu saya lihat anda selalu melakukan hal bertentangan, harusnya kan kaki kiri melangkah terus kaki kiri lagi, terus kaki kiri lagi. kenapa kaki kanan anda ikut-ikutan Apalagi saat berhadapan dengan manusia lain, makin ruwet banget pertentangan yang akan terjadi. Apakah ada effect negative yang anda dapat dari pertentangan yang terjadi di dalam raga anda, tidak ada kan, bahkan sebaliknya. Jadi Boss- jika menghadapi konflik seperti apapun juga, ingat dan gunakan kemahiran yang telah anda miliki (mastering) dalam memanajemeni pertentangan2 yang terjadi di dalam raga anda.Artikel ini saya sembahkan kepada Boss, sebagai imbalan atas permainan piano nya yang aduhai, we have the similar style, asoy gual geol bari calik. Yang beda hanya bunyinya Boss, kalau anda bunyinya suara piano, kalau saya mah prat-pret prot, tadina mah isin bisi kadangu kucalon mitoha, eeeh kalahka beuki tarik sadana, ampuuuun ah, di usir deui di usir deui kucalon mitohaTerimakasih dan salam hormat

  2. Tanggapan Buat Boss Tony (Anda menyebut saya boss, jadi saya panggil juga Anda seperti itu biar seimbang):Pada dasarnya saya anti dengan konflik. Bagi saya, hal itu merupakan hal tersendiri yang membuat saya semakin dewasa. Benar yang bung Tony katakan bahwa kita tidak akan pernah lepas dari konflik sepanjang kita masih tinggal di dunia fana ini. Kalau mau lepas dari konflik, silakan mengurung diri di kamar, tutup hubungan dengan orang-orang dan jadilah patung.Saya meneceritakan diri saya yang punya "tabiat dasar" adalah seorang conflict avoider bukan berarti saya menikmati posisi itu. Tuntutan sudah berubah. Zona nyaman saya tidak lagi luas, saya berhadapan dengan banyak orang, dan konflik bukan barang aneh lagi -sekalipun saya sering tidak bijaksana menyelesaikannya-Dampak- dampak yang dimunculkan akibat konflik tentu ada. antara lain seperti yang saya tuliskan di atas, dan itulah yang saya alami. So, jika setiap orang merasakannya berbeda, toh itu adalah suatu keunikan.trimakasih buat sarannya buat saya agar saya menggunakan manajemen dalam memaintance setiap konflik. Jujur itu adalah proses pembelajaran, dan saya harap saya bisa belajar ke arah sana.Anyway, saya tidak bisa piano. Pingin bisa, namun apa lacur, usia sudah tua untuk melemaskan jari-jari ini menari-nari di atas tuts piano.Salam.helvry

  3. "So, jika setiap orang merasakannya berbeda, toh itu adalah suatu keunikan." Ini pernyataan yang hanya diucapkan oleh orang yang sangat bijak, hebat anda Boss sangat filosofis pemikiran anda, I like that one Boss.Bayangin Boss, tanpa keunikan semua orang akan rukun terus, sepakat terus, sama deh segala macemnya. Karena ada keunikan itulah maka timbul yang namanya konflik, and the world becoming fluorish and beatiful place for us.At the end conflict isn't bad at all, except the "head on conflict"-this will end up with lose -lose, dua-dua pihak ancur lebur berantakan.Seneng saya ngobrol sama ahli filsafat seperti anda Boss.Terimakasih dan salam hormat

  4. Wah Bung Tony, saya bukan ahli filsafat. Sepatutnya saya yang mengucapkan trimakasih kepada Bung Tony, karena tanggapan yang luar biasa atas topik ini. Saya sangat menghargai anda.Trimakasih dan salam hangat.

  5. klo ada conflict..biasanya aku lbh suka mengalah…spy tidak makin parah ato berlarut2 masalahnya…ato tenangkan hati & pikiran dulu, spy dpt mengambil keputusan secara bijaksana…

  6. iya…mengalah tidak selalu berarti kalah…& conflict kadang2 dibutuhkan di dalam kehidupan utk membuat kita 'fight' & belajar memutuskan sesuatu dlm situasi yg tdk menguntungkan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *