Ilustrasi cerpen karya I Putu Wirantawan

Jangan percaya sepenuhnya pada cerita ini. Sebab sebagian yang kualami, kusangsikan kebenarannya.

Sebagaimana kebanyakan cerita tentang benda antik, tak sengaja aku temukan jam saku tua savonette, pada selipan baju Ibu di lemari kayu. Warnanya kusam dan muram, sepuhan emasnya pupus terhapus waktu. Ketika penutupnya kubuka, engselnya hendak lepas. Percuma menyipitkan mata berkali, tak tersisa lagi merk atau lambang pembuatnya. Hanya seuntai rantai terjuntai, seakan jam itu sempat direnggut paksa dari pemiliknya.

Bukan lantaran bentuknya yang antik membuat perhatianku tercurah, melainkan gerak jarum jamnya yang bersilang arah. Yang lebih panjang beringsut tersengal ke arah kanan, yang pendek bergerak sebaliknya secara perlahan beraturan, sedangkan jarum terpendek diam bergeming. Seakan yang satu mengikuti matahari ke ambang petang, yang lainnya undur menuju terang siang. Namun, bila kudengarkan seksama, bunyi tik-taknya yang samar itu masih terjaga.

Dirundung tanya, pikiranku terbawa ke mana-mana. Bagaimana kisahnya hingga jam itu ada di lemari kami? Seingatku, Ibu tidak sekalipun pernah bercerita tentang jam saku ini. Apakah milik Ayah? Warisan dari kakek atau leluhur? Akan tetapi yang pasti, hingga pengujung hidupnya, sewaktu aku mulai beranjak dewasa, Ibu lebih suka mengulang-ulang cerita tentang Ayah. Selalu berakhir pada peristiwa yang sama, Ayah direnggut sakit, tak ada sanak keluarga yang sudi menjenguk hingga kematiannya tiba.

Kata Ibu, umurku waktu itu baru dua tahun. Tidak menangis, hanya berdiam saja sewaktu orang-orang mengantar Ayah ke kuburan. Masih kata Ibu, tak ada kakak, adik, atau keluarga dari Ayah atau Ibu yang turut mengiringi. “Begitulah Nak, dari dulu kita memang terbiasa sendiri.”

Terdorong rasa haru pada Ibu, kuputuskan memperbaiki savonette itu. Sudah kudatangi banyak tempat reparasi di kota kelahiranku ini. Mulai outlet-outlet jam ternama di mal hingga toko dan tukang jam kaki lima, mereka terkesan enggan memperbaiki. Ada saja alasannya, tapi intinya meyakinkanku bahwa sudah tak ada lagi onderdil yang sesuai dengan savonette itu. Jam saku ini boleh jadi dibuat masa kompeni dulu, awal atau akhir abad ke-18. Seorang tukang jam setengah bergurau menyampaikan, “Ini pasti milik Nyai Dasima, atau asisten residen zaman VOC.”

“Sudahlah Pak, sebaiknya mesinnya diganti saja yang digital. Casing-nya yang antik ini tetap dipertahankan. Tiga hari pasti jadi,” tukas tukang arloji lainnya di salah satu pasar yang dulu sering dikunjungi Ibu.

Nyaris saja aku mengikuti saran itu. Namun, wajah Ibu membayangi pikiranku, membuatku ragu-ragu mengambil keputusan. Ibu memang gemati, penuh cinta merawat benda-benda lama; dari kendi peninggalan nenek hingga sabuk kulit yang katanya dibeli Ayah sewaktu janji bertemu Ibu kali pertama.

Suara bujukan itu selalu datang berulang justru ketika aku menunggu kereta hendak pulang ke rumah. Suara-suara itu berbaur hiruk-pikuk dan lalu-lalang orang. Berulang datang, berulang membuatku semakin pening. Akibatnya, belakangan ini, seringkali aku tak sadar bahwa stasiun tujuanku sudah terlewat. Apakah aku tertidur? Mungkin saja, atau seluruh perhatianku terhanyut, terbawa simpang pilihan itu. Demikian juga hari ini, pikiranku nanar, turun di stasiun berikutnya.

Boleh jadi ini memang sebuah kebetulan. Tak jauh dari tempatku makan, ada kios kecil, bertuliskan “terima service arloji”. Segera kudatangi, rupanya hampir tutup. Ada lemari kaca antik berisi aneka jam, bermacam-macam jam. Juga seorang lelaki renta, mungkin mendekati 80-an tahun. Wajah lelaki itu membayang samar di bawah lampu yang lebih terfokus pada tangannya, tengah menggenggam sebuah jam.

Segera kukeluarkan savonette dari saku dan kutunjukkan padanya. Si tua bergeming. Seorang perempuan paruh baya, muncul begitu saja, mungkin anaknya atau bisa juga istrinya. Ia menyapa sekaligus bertanya apa keperluanku.

“Bisakah savonette-ku ini diperbaiki di sini?” jawabku seketika, lelah basa-basi berulang dengan tukang jam selama ini.

Perempuan itu tak menjawab, ia malah berbisik pada si tua, entah apa yang diucapkannya. Dalam bayangan samar di dinding, kulihat anggukan kepalanya seakan tanda memahami keinginanku. Tanpa banyak bicara, perempuan itu memberikan catatan tanda terima dan menyerahkannya padaku sambil meyakinkanku bahwa jam itu akan beres diperbaiki sepekan lagi.

Sewaktu aku pamit dan melangkah perlahan, kudengar suara si tua. Aku berhenti, ingin tahu apa yang dikatakannya tentang savonette itu. Mungkinkah diperbaiki? Atau jangan-jangan akan dia ganti mesinnya tanpa seizinku. Yang kutangkap hanyalah kalimat singkat ini, “Ini peruntungan, kau tahu bukan, jam ini sudah lama kutunggu.”

Jam itu kini selalu di sakuku, terbawa kemana-mana, dan kutunjukkan kepada siapa saja. Kecintaanku bertambah, bahkan setiap malam sebelum tidur, aku suka menimang-nimangnya. Melekatkan telinga, mendengar samar bunyi tik-taknya. Sungguh aku harus berterima kasih kepada pak tua itu. Ketiga jarumnya kini seiring sejalan memastikan waktu, tak pernah lambat atau lebih cepat sekalipun. Begitulah selalu, sebelum lelap, berlintasan kenangan masa kecil bersama Ibu; ke pasar, menyeberang jalan, membeli es krim, naik kereta; dan di pengujungnya adalah pemandangan petang hari di kuburan.

Seluruh hariku kini digenangi kenangan pada Ibu. Di rumah tua tempat lahirku ini, aku tak lagi merasa sendiri. Kawan-kawanku di kantor pun mengaku keheranan. Kata mereka, aku kini lebih riang dan terbuka, bukan lagi seperti tugu batu, penyendiri. Relasiku bertambah dan capaian kerjaku melampaui target. Ya, the best employee of the month, dengan lompatan penjualan yang tak pernah terjadi dalam perusahaan ini sebelumnya. Jabatan marketing manajer melambaiku.

Kemana-mana, setiap berjumpa klien, mereka memuji komunikasiku yang optimistis, semangat, serta inspiratif. Padahal bagiku tak ada yang berubah, masih seperti dulu. Hanya memang, sesekali kutunjukkan savonette sekadar menyelingi pembicaraan. Tanggapan mereka antusias, mendorongku mencari referensi lebih sungguh tentang sejarah savonette.

“Konon,” ujarku meyakinkan, “Jenis jam saku ini diciptakan perajin ulung Jerman, Peter Henlein sekitar tahun 1574. Selain menjadi kebanggaan para bangsawan, belakangan jam saku ini digunakan pula para masinis guna mengatur kecepatan kereta agar sesuai jadwal dan rencana perjalanannya. Coba bayangkan, bila tak ada savonette, kereta-kereta akan saling bertabrakan di banyak stasiun atau bertemu di jembatan secara bersamaan. Ini tragedi.”

Sesekali aku diundang pimpinan untuk mempresentasikan kiat-kiat dan strategi meraih prestasi. Pada saat seperti itulah, mengolah sumber bacaan dari berbagai buku, kutegaskan bahwa sesungguhnya sang waktu tidak berjalan linier sebagaimana keyakinan orang. “Bapak-bapak Ibu-ibu dan Saudara-saudara, waktu dalam jam saku saya, berbeda dengan waktu pada jam-jam lain, terlebih jam digital yang bersifat linier. Waktu dalam savonette saya bersifat kronometrik, melingkar. Itu berarti bahwa kemarin dan esok bisa bereinkarnasi menjadi waktu yang menyekarang.” Tamu-tamu tertegun, terkagum-kagum, mengangguk-angguk, seakan memahami. Kusaksikan wajah Ibu memenuhi dinding, senyumnya begitu lembut.

Sesungguhnya kuyakin kesuksesanku bukan karena keajaiban atau tuah peruntungan dari savonette itu. Itu buah kerja keras, dan tentu restu Ibu. Prestasiku kian gemilang, hari-hariku riang. Aku bukan lagi si penyendiri yang serba terbata-bata mengucapkan pikiran. Puncaknya, aku diam-diam ditaksir dara jelita. Rekan kantorku yang memperkenalkannya.

Aneh, seketika itu aku suka padanya dan perasaan cinta mulai merekah. Matanya yang hening tenang mengingatkan pada tatapan Ibu yang memandangku berulang sebelum tidur. Rambutnya memang berbeda, Ibuku lurus, ia ikal bergelombang. Tapi sama-sama sebahu dan selalu ada scarf tembus pandang yang membayangi leher jenjangnya.

Biasanya kami selalu bertemu bersama kawan-kawan. Tapi esok petang, kami sepakat akan berjumpa berdua saja di kafe dekat taman tepi kota, di mana sebuah pohon kamboja besar meneduhi berandanya. Ya, pukul enam sore, ini kali kencanku yang pertama. Sebelum itu, pukul lima sore, aku ada janji dengan calon klien yang sudah deal, sepakat membeli produk perusahaan kami. Sekadar singgah lima belas menit saja, menyerahkan surat kontrak resmi yang sekalian nanti ditandatangani.

Langkahku ringan, seringan batinku. Ketika tiba di stasiun, sempat kulihat kereta baru saja berlalu. Setengah tak percaya dan menduga-duga, aku merasa itulah kereta yang seharusnya kunaiki. Astaga, kupandangi jam dinding besar di koridor stasiun, pukul enam lebih lima belas menit. Kemudian kuperiksa kembali jam saku milikku dan ternyata masih menunjukkan pukul empat. Nanar, aku bertanya kepada orang-orang. Mereka serba tergesa dan menjawab sekenanya, tak acuh pada kebingunganku. Aku bertanya kepada petugas stasiun, dia hanya menunjukkan ke bagian informasi. Di tengah kegalauan itu, dorongan ke kamar kecil memuncak, penjaga di sana sama saja, menjawab sekenanya.

Kuperhatikan sekali lagi jam di dinding, ya pukul enam lebih dua puluh menit kini. Lalu mataku beralih, kuperhatikan sungguh-sungguh savonette ini, Astaga! Ternyata masih seperti tadi, tak beranjak dari pukul empat. Masih tak percaya, kupicingkan mata. Aduh, celaka! Jarum jamnya kini malah bersilangan persis seperti saat kutemukan. Yang panjang tersengal ke kanan, yang pendek undur ke arah sebaliknya, dan yang paling kecil, diam hening sempurna. Hancurlah semua peruntunganku. Gagal, gagal.

Begitu kesal dan marahnya, kuputuskan malam ini juga menemui si tua tukang reparasi arloji. Ingin kuluapkan seluruh emosiku.

“Permisi, apakah ada orang?” pekikku tertahan.

Sejenak hening, “Ya, ada apa anak muda?” jawab seseorang di balik lemari penuh arloji itu. Lelaki tua itu muncul begitu saja. Ruang remang, hanya ada lampu kecil yang menyorot tangannya, kosong tanpa sesuatu.

Menahan jengkel, “Bagaimana ini, Bapak. Jarum jam savonette saya kumat lagi seperti dulu. Apakah sewaktu diperbaiki, kurang kencang menyetelnya?” tukasku ketus.

Nadanya masih datar tak berubah, “Ya, mari aku akan lihat dulu,” timpal si tua.

Setelah jam saku itu kembali dipegang olehnya, ia letakkan dekat dengan telinga. Kemudian ia hanya menyentuh crown jam tersebut, lalu berkata sekenanya, bahwa tidak ada masalah pada jam ini, baik-baik saja.

“Benarkah? Gara-gara jam ini, gara-gara jarum jam yang berkhianat ini, saya kehilangan seorang klien, saya kehilangan seorang calon istri yang baik!” Meluap sudah marahku.

Ia tak seketika menjawab, hanya bergumaman, tak jelas, seperti menyebut sesuatu atau sepotong kata tertentu: antara kata buntung atau untung, samar kabur.

Darahku tersirap naik, seketika kurenggut paksa savonette dari tangannya. Si tua itu seperti mencoba menahan, wajah kami begitu dekat. Aku tertegun, matanya seperti kosong tanpa cahaya. Sempat terlintas di dalam pikiranku, apakah ia buta…

“Sabar Nak, coba lihat sekali lagi jarum jamnya.” Nadanya kini lebih lembut, dan jam itu terlepas, seketika berpindah ke tanganku.

Masih terbawa ngungun, kupandangi savonette itu, tak percaya, sungguh aku tak percaya, ketiga jarum jam itu seiring sejalan, tak satu pun bersimpangan.

Setibanya di rumah, dengan sepenuh rasa lelah, kunyalakan televisi. Pada setiap channel terdengar breaking news bahwa ada kereta petang tadi terguling setelah bertabrakan dengan kereta lainnya. Mobil-mobil ambulans berlintasan, suara sirinenya ramai berselingan dengan suara reporter yang melaporkan pandangan mata. Sementara wajah-wajah orang panik memenuhi layar kaca bergantian. Masih tak percaya, kubuka Twitter, berduyun tak putus me-retweet tragedi itu.

Wajah Ibu, wajah si tua itu, menggenangi seluruh diriku.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Desember 2015, di halaman 27 dengan judul “Savonette”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *