Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang…Continue Reading “Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua”

Tanah Air

MARTIN ALEIDA Hatiku teduh. Dia kelihatan tenang. Cuma matanya saja yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan aku ini siapa, bukan istrinya. Tadi, sambil duduk berdampingan menjuntaikan kaki di tubir tempat tidur, perlahan kupotongi kuku-kukunya yang panjang, hitam berdaki. Dari tangan sampai kaki. Gemertak pemotong kuku meningkahi angin pagi yang deras dan dingin memukuli jendela. Tanpa…Continue Reading “Tanah Air”

Andai saja Bandung-Cirebon Tersambung

Nawa Tunggal dan Ahmad Arif

Jalur kereta api dari Cirebon menuju Kadipaten, Majalengka, hampir terhubung dengan jalur dari Citali di Sumedang sampai Stasiun Rancaekek, Bandung. Bandung dan Cirebon ketika itu hampir terhubung dengan kereta api langsung, tetapi gagal akibat resesi ekonomi dunia tahun 1929-1930.

Sampai sekarang, pembuatan jalur tembus kereta api dari Bandung ke Cirebon melintasi Sumedang itu gagal terwujud. Bekas relnya pun raib. Jalur Cirebon ke Kadipaten sepanjang 48,7 kilometer, sedangkan jalur dari Stasiun Rancaekek sampai Citali sepanjang 14,5 kilometer.

Jalur tengah yang belum terhubung antara Kadipaten dan Citali sekitar 43,1 kilometer. Jalur itu melintasi kota Sumedang.

“Perencanaan jalur kereta api dari Bandung ke Cirebon itu terkait hasil produksi perkebunan yang melimpah di Priangan selatan pada masa itu. Di antaranya dari wilayah Ciwideuy, Bandung Selatan,” kata Aditya Dwi Laksana dari lembaga Kereta Anak Bangsa ketika mendampingi Susur Rel Kompas, Rabu (8/6).

Sebuah perusahaan swasta, Semarang-Cheribon Stoomtram-Maatschappij (SCS), berhasil membuka jalur kereta api dari Semarang sampai Cirebon pada 1899. Hanya berselang dua tahun kemudian, SCS membuka jalur Cirebon ke Kadipaten. Jalur Cirebon-Kadipaten tidak jauh beda dengan jalur Semarang-Cirebon, diutamakan untuk angkutan tebu dan gula.

Di antara Cirebon sampai Kadipaten terdapat beberapa bekas pabrik gula, meliputi Pabrik Gula (PG) Soerawinangoen, PG Gempol, PG Paroengdjaja, PG Djatiwangi, dan PG Kadipaten.

“Jalur ini sempat bertahan sampai 1976,” kata Aditya.

Jalur Rancaekek menuju Citali pada awalnya hanya beroperasi sampai Stasiun Tanjungsari berjarak 11,2 kilometer. Jalur ini dibuka pada 13 Februari 1921. Kemudian sempat diperpanjang 3,3 kilometer sampai Citali, tetapi jalur perpanjangan tersebut belum sempat dioperasikan sampai jalur itu ditutup pada 1942, ketika masuk pendudukan tentara Jepang.

Continue Reading "Andai saja Bandung-Cirebon Tersambung"
Mata Gunting dan Jiwa Rambut yang Dicukur

Ahmad Muchlish Amrin Setiap tukang cukur di dunia adalah pembunuh. Ruh-ruh setiap helai rambut yang dipotong mengendap-endap gentayangan di angkasa seperti jiwa-jiwa yang linglung. Rambut-rambut yang dipotong menjerit dan mengerang seperti jiwa-jiwa yang sakit. Gunting-gunting tajam dengan mulut menganga dan dua mata nanar mencelat layaknya seorang pembunuh berdarah dingin. Lelaki itu memutuskan berhenti menjadi tukang…Continue Reading “Mata Gunting dan Jiwa Rambut yang Dicukur”

Presiden Jebule

Budi Darma Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring. Dan dukun bayi buta huruf tahu apa sebabnya: pinggul ibu Jebule terlalu sempit, tapi, berkat kecerdasan pemberian…Continue Reading “Presiden Jebule”