Soemardja Book Fair: Kegelisahan pegiat literasi

Categories Book, Journey


Sebuah book fair tidak melulu pameran buku. Di dalamnya ada interaksi. Di situlah terjadi pertukaran informasi, mengenal budaya, mengapresiasi karya. Pada 24 Februari 2017 lalu, saya berkesempatan mendatangi Galeri Soemardja di Fakultas Seni Rupa ITB. Perihal kemari bukanlah menonton pagelaran seni rupa, tetapi melihat dan bertemu dengan para komunitas penjual buku di Bandung, dimana beberapa diantaranya sudah cukup terkenal di Kota Bandung. Sebuah event dinamakan Soemardja Book Fair yang berisikan pameran buku dan penjualan buku.

Dari hasil pengamatan secara sekilas, saya melihat tempat yang digunakan untuk acara tersebut sangat memadai. Pertama, dari tempat yang digunakan oleh para peserta bookfair adalah selasar fakultas seni rupa yang outdoor, sehingga udara segar masih dapat dihirup dengan leluasa. Meski bercampur dengan asap rokok. Kedua, tersedia galeri soemardja yang menjadi tempat diskusi buku. Tempatnya sangat representatif dimana ruangan sekelas galeri dengan pencahayaan yang bagus dan ruangan yang cukup lega, dapat menampung peserta dalam jumlah yang cukup banyak.

Saya juga berkesempatan untuk mewawancarai dua orang pelapak buku yaitu Kang Deni Lawang dan Kang Andre Katarsis. Kang Deni cukup dikenal sebagai pemilik Lawang Buku yang tadinya membuka kiosnya di Balubur Town Square (Baltos) saat ini berpindah di kelana buku di Jalan Menjangan Bandung (sebelah kampus Universitas Parahyangan). Kang Andre sebagai pelapak buku yang membuka kiosnya di Mall Cimahi, disamping itu ia juga sebagai editor dan pegiat penerbit buku indie Katarsis Book.

Di samping menjual buku, mereka sangat terlibat dalam kegiatan literasi .. Kang Andre berkegiatan di Komunitas Jelajah Cimahi, http://jelajahcimahi.blogspot.co.id/. Sementara Kang Deni sebagai pegiat dalam diskusi buku di komunitas Asia Africa Reading Club bertempat di Museum Konferensi Asia Afrika. Apa yang menjadi kegelisahan mereka adalah rendahnya kesadaran literasi baik itu di Bandung maupun di Indonesia.

Kesimpulan mereka mirip walau tak sama, yaitu masih rendahnya kesadaran literasi masyarakat. Kang Deni mengharapkan dengan adanya rekayasa literasi dapat menjembatani kekhawatiran meningkatnya kebiasaan membaca gadget atau chatting sementara dari Kang Andre mengharapkan peran Pemerintah untuk berkomitmen menerbitkan 1.000 judul buku dalam sebulan lewat subsidi ke penerbit. Selain itu, baik Kang Deni dan Kang Andre mengharapkan kampus sebagai gudangnya intelektualitas dapat terus menerus menghidupkan dan menggulirkan kegiatan berliterasi, membaca, menulis, berseni, dan berbuku.

Hasil wawancara sudah saya unggah di youtube seperti di bawah.

 

1. Wawancara dengan Kang Andrenaline Katarsis (IG: andrenalinekatarsis)

2. Wawacara dengan Kang Deni (IG: lawangbuku)

Demikian laporan singkat saya. Salam literasi dari Bandung.

Helvry Sinaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *