Menjadi bahagia

Categories Life

Saya mempunyai beberapa akun media sosial, yang saya kelola berdasarkan teman berjejaringnya maupun isi postingannya. Sebagai contoh, akun media sosial path, saya pakai hanya untuk posting poster-poster event atau kalimat-kalimat positif (dalam bahasa kerennya motivasi). Dari poster yang saya unggah, saya dapat membuat pemetaan terhadap para teman saya yang memberikan respon.

Pertama, orang yang setuju/sependapat akan memberikan respon senyum, tertawa, atau suka.

Kedua, orang yang setuju sebagian bisa memberikan komentar, atau memberi tanda senyum saja.

Ketiga, orang yang tidak sependapat atau sependapat tapi tidak yakin hal itu terjadi pada dirinya, maka ia tidak akan merespon apa-apa dalam bentuk emoticon.

Baiklah saya menampilkan contoh poster yang saya unggah ke akun medsos path berikut dengan responnya.

Dapat dilihat, bahwa dari 105 pemerhati, ada lima teman yang memberi respon.

Satu orang suka;

Dua orang memberi komentar;

Dua orang memberi icon ketawa.

Mari kita bermain-main dengan analisis ngaco.

Poster ini memberikan pesan bahwa jangan berpikir terlalu banyak karena belum tentu masalah yang dipikirkan memang betul-betul ada. Dengan kata lain, masalah tersebut kita sendiri yang membuat. Sekilas hal ini seperti teori. Bagi orang yang suka berpikir banyak dan yang menerapkan manajemen risiko dalam persoalan pribadi, tentu tidak akan lepas dari unsur: frekuensi keterjadian, dampak, rencana tindak (action plan), tingkat penerimaan risiko, dan seterusnya. Rumit yak. Yah memang hidup ini rumit. Dan ditambah tidak pasti. Jadi, pantaskah kuatir? Itu persoalan manusiawi sekali. Jawabannya pantas. Namun pertanyaan yang hakiki adalah pantaskah terus-menerus kuatir? Ini mengapa jalur berpikir setiap orang berbeda-beda. Banyak hal. Banyak faktor. Namun, pertanyaan itu kembali ke dalam diri ketika kita melewati permasalahan itu. Apakah dengan menambah kekuatiran akan menambah jalan keluar?

Pada gambar di atas saya memberikan judul: jangan lupa piknik. Bagi sebagian orang, piknik berarti meluangkan waktu berlibur ke Pulau Bali, Lombok, NTT, Ambon nan eksotis, atau berjalan-jalan ke luar negeri dan memamerkan foto-foto diri dengan latar belakang patung singa atau menara kembar. Saya khawatir dengan persepsi piknik seperti itu. Karena ia telah membuat susah dirinya sendiri membatasi makna piknik.

Oke mari kita lihat poster kedua.

Demikianlah hidup.

Dari gambar di atas dari114 orang, ada 12 orang yang memberikan respon.

Dua orang memberi respon suka

Sepuluh orang memberi respon tertawa

Keduabelas teman yang memberi respkln ini mengindikasikan setuju atau mengamini gambar di atas. Kenapa? Karena pada dasarnya memang apa yang direncanakan, tampaknya tak pernah sesuai dengan kenyataan. Begitu berlikunya kehidupan ini. Ada hal-hal yang tidak kita pahami pada saat mengalaminya, namun setelah melewati dan melihat jalan hidup seperti peta atau gambar kita mungkin hanya tersenyum bahwa kita memang pernah melewati tahapan itu.

Jadi, patutkah kita terus-menerus khawatir sementara masih banyak hal-hal menyenangkan (baca:piknik) yang dapat kita kerjakan?

Ditulis di Taman Saparua, Bandung.

13.03.2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *