Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon

Matahari Terbit dari Takengon Hangat sinar mentari mendekap udara yang dingin Awan berbisik mesra dengan gumpalan menari-nari dipelupuk mata Pagi itu tibalah sebuah pesan darimu, kekasih. Pesanmu adalah nasihat bijak bagi hidup yang kita aliri cinta yang dihidupi batas harapan dan kenyataan yang harus dikhidmati Pesanmu menyitir Coelho dari Sang Alkemis; “jika engkau mendambakan sesuatu,…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon”

Jurnal Fotopuisi #3: Orang-orang yang berjalan

Orang-orang yang berjalan . Hidup adalah permainan layang-layang Demikian Kuntowijoyo meracik kata dalam cerpen “Dilarang mencintai bunga-bunga” orang-orang berjalan mengikuti langkah kaki setia pada degup jantung juga suara hati. orang-orang berjalan mencari penghidupan karena tak ingin mati apalagi hidup sia sia Lihatlah, langit melengkungkan cahaya pepohonan rimbun menghimpun udara Burung burung bertasbih dengan cinta dari…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #3: Orang-orang yang berjalan”

Kepada jalan setapak yang disesaki lautan manusia dan kendaraan di Kota Medan Jalan panjang yang terhampar antara Siantar-Tebing tinggi-Parapat hingga tiba di Pelabuhan Ajibata Angin bertiup menyapu dedaunan yang berserakan di tanah Ia berjanji tak membebani Seperti janji rindu kepada waktu.. Swiss van Java, Oktober 2017 12.35 dari Bangsal Rumah Sakit Dian Cahaya

Jurnal Fotopuisi #1 Pintu Kedatangan

Pada pintu kedatangan Aku mulai tunaikan rindu meski bercampur resah dan cemas satu bababk cerita hidup tempat manusia merebahkan harap kepada segala dzat yang asali Rindu tempat pulang ke muasal kasih yang paling manusiawi Lekaslah tunggu kedatanganku di pintu rumah ketulusanmu kelak disanalah tempat terakhirku memulai cerita dalam kehidupan yang baru Lekas lepaskanlah segala ragu…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #1 Pintu Kedatangan”