berbahasa menulis

Sudah lama tidak melongok blog saya ini. Saya merasa kehilangan jam-jam sunyi untuk menulis. Pergi pulang pagi. Terdengar berlebihan memang, namun beberapa kali situasi itu terjadi. Tanpa harus menunggu jam-jam tersebut seharusnya tidak perlu ada alasan untuk berhenti menulis. Buktinya, “produksi” foto saya di instagram masih lebih baik dibanding di blog ini.

“Blog buku bagaimana?” mirip tapi tidak sesepi ini. Masih ada program yang “memaksa” saya harus mengupdate blog. Jika tidak, maka akan semakin penuhlah blog buku itu dengan “sarang laba-laba.” Disadari atau tidak, kehadiran banyaknya aplikasi chat, membuat mood menulis menjadi turun. Seringkali saya menanyakan sesuatu hal kepada teman-teman lebih suka menggunakan aplikasi chat daripada menggunakan email. Apakah hal itu sudah menjadi trend baru? saya kurang paham juga, namun saya menyadari perbedaan menulis pesan di chat daripada menulis pesan pada email. Perbedaan mendasarnya adalah pada email saya berusaha disiplin pada adanya pembuka, isi, dan salam penutup. Sementara pada chat, boro-boro mau ada pembuka, kalimat sapaan aja kadang kala main terabas aja. Sepertinya simpel, namun apa sih filosofinya?

Bagi saya barangkali sederhana. Intinya kita ingin agar pesan kita diperhatikan oleh lawan bicara kita. Bagaimana caranya agar diperhatikan? berlaku prinsip bila kau ingin dihargai orang lain, maka hargailah orang lain terlebih dahulu. Hal serupa terjadi dalam ragam tulisan. Salam pembuka lebih kepada bentuk menghargai pembaca terlebih dahulu agar ia memperhatikan pada inti pesan kita. Setelah itu ditutup dengan ucapan terima kasih atas perhatian pembaca pesan kita. Sepertinya repot ya? ya memang repot. Itulah risiko bersosial. Saya sendiri pernah diemail oleh atasan saya “bisa ke ruangan saya sebentar?” apakah itu ranahnya email atau chat? saya membayangkan kalau saya terlambat membacanya, maka akan lain ceritanya…tapi dari situ saya berkesimpulan, bahwa bagaimana orang memanusiakan manusia, adalah bagaimana ia berbahasa pada sesamanya.

Ah sudahlah..saya sendiri bingung…lebih baik saya akhiri tulisan saya ini…

terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini.

helvry

4 thoughts on “berbahasa menulis

  1. Zelie says:

    Iya Kak, rasanya sedih juga kalau orang lebih suka chatting daripada ngobrol lewat email.
    Terus, gemes juga kalau ada yang bales email dengan bahasa SMS 😛

    • helvry says:

      iya bener chei.
      tapi memang tergantung kedekatan dan kebutuhan sih…itu kenapa chatting lebih banyak emoticon, agar orang2nya yg terlibat pembicaraan bisa berekspresi. Kalau email, terkesan formal.

  2. imeel says:

    Manusia jaman skrg sering disibukan sendiri oleh hal2 yg tdk jelas dan kdg tidak penting.
    Just shareada teman yg jd uring2an ga jelas gegara ikutan group chat entah itu di BB atau di WA. krn puyeng dgn begitu banyaknya kalimat,obrolan dan akhirnya menyeret pada situasi yang tdk jelas. Setelah disarankan untuk keluar dari groupchat, teman saya mengaku hidupnya bisa tenang dan normal kembali…heheheh

    • helvry says:

      ah sampai sebegitunya kah?
      boleh jadi juga ya? hidupnya jadi terganggu karena dapat notifikasi dari obrolan grup. Kadangkala memang perlu ninggalin hiruk pikuk grup chat ya, hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 1 =