Rumah Batu Kakek Songkok

Karya Lina PW “Jadi juga pesan pasir?” tanya Sabang pada ayahnya, dengan napas tersengal. Sabang tinggal tak jauh dari rumah Kakek Songkok, panggilan sang ayah oleh warga kampung. Ia memperhatikan sebuah pikap menurunkan pasir, lalu tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya. “Iye, kita bikin baru rumah kita, jadi rumah batu,” jawab Kakek dengan senyum mengembang sembari membenahi letak…Continue Reading “Rumah Batu Kakek Songkok”

Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba

Mashdar Zainal ARIMBI tak mengerti mengapa tiba-tiba ia sudah berada dalam sekoci itu. Semalam demamnya menjadi-jadi, badannya panas sekali. Saat itu-yang Arimbi ingat, Sugi datang dan membopong tubuhnya, lalu membaringkannya di suatu tempat yang dingin dan agak keras. Arimbi tak yakin di mana tempat itu. Apakah di puskesmas, atau di kamar Sugi, atau barangkali masih…Continue Reading “Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba”

Veronika Punya 4 Ayah 4 Ibu

Gatot Prakosa Sepasang burung pipit hinggap di bahunya. Dia terkejut, dan burung-burung kecil itu terbang. Di pohon talok di pekarangan bangsal perawatan, belakang kami, keduanya bercicit. Seekor pipit, entah salah satu dari dua yang tadi atau pipit lainnya, hinggap di atas kepalaku. Lalu seekor lagi menyusul ke bahu kananku. Aku merasa seperti nabi Sulaiman. Apa…Continue Reading “Veronika Punya 4 Ayah 4 Ibu”

Di Dalam Hutan, Entah di Mana

Dewi Ria Utari ¬† Aku tumbuh dengan sebuah larangan yang kudengar sejak aku memahami kata-kata. Sebuah larangan yang menetapkan bahwa seluruh kerabatku dan siapa pun yang masih segaris darah dengan nenek buyutku, untuk tidak memasuki hutan yang berada di pinggir desa tempat aku dan keluargaku hidup. Hutan itu mungkin terdiri dari berbagai macam pepohonan dan…Continue Reading “Di Dalam Hutan, Entah di Mana”

Perempuan Pencemburu

GDE ARYANTHA SOETHAMA Perempuan pencemburu itu tak pernah lengah sekejap pun mengawasi suaminya. Ia seperti memiliki seribu mata dan sejuta pikiran yang sanggup memberi laporan ke mana suaminya melangkah, di mana berada, dan apa yang dikerjakan.Jadi kamu ke perpustakaan di balai kota sepulang mengajar tadi?” selidiknya. “Iya, jadi, kenapa?” “Benar cuma ke perpustakaan?” Laki-laki itu…Continue Reading “Perempuan Pencemburu”

Celurit Warisan

MUNA MASYARI Keesokan malam setelah kulantangkan sumpah di halaman balai desa, celurit itu masih di tempat yang sama. Tergantung sungsang pada paku payung berkarat di dinding sebuah kamar yang sudah sekian tahun kau kosongkan. Celurit yang tidak terlalu melengkung dan matanya tidak mengilap, justru agak coklat seperti berkarat, itu seolah tidak sabar menanti malam eksekusi….Continue Reading “Celurit Warisan”

Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus

Ahmad Tohari Orang yang gencar memanggil-manggil saya dari warung tenda seberang jalan ternyata Jubedi. Ah, Jubedi, sudah agak lama saya tidak bertemu. Dia teman lama yang setengah abad lalu duduk bersama di bangku SMP. Saya menyeberang jalan sambil menyipitkan mata karena matahari di timur bikin silau. Jabat tangan Jubedi erat dan hangat. Sama dengan saya…Continue Reading “Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus”

Profesor Bermulut Runcing

RIZQI TURAMA Setiap hari ia memoles bibir, bukan dengan lipstik, tapi dengan darah yang mengucur dari jantung orang-orang di sekitarnya. Bibirnya yang runcing itu mampu merobek jantung dengan sangat lincah. Tak hanya runcing, bibir itu juga tajam selayaknya gunting yang dipakai dokter ketika akan menyunat sekelumit kulit hingga terlepas dari tempatnya. Membuat darah menetes dan…Continue Reading “Profesor Bermulut Runcing”

Istana Tembok BolongBong Suwung, Yogyakarta, 1970  Bong Suwung, Yogyakarta, 1970

SENO GUMIRA AJIDARMA ¬†Malam begitu kelam ketika ia melangkahkan kakinya melompati sisa tembok pada lobang itu, lobang yang membuat kawasan Bong Suwung di bagian ini disebut Istana Tembok Bolong. Dengan begitu ia pun sudah berada di dalam wilayah Stasiun Tugu. Di balik tembok segalanya gelap, dari balik kegelapan itu terdengar suara berat seorang lelaki. “Anak…Continue Reading “Istana Tembok BolongBong Suwung, Yogyakarta, 1970 Bong Suwung, Yogyakarta, 1970”

Ha-hi-hu-he-hooo

YANUSA NUGROHO “… dan adalah aku berasal dari perut bumi, yang kemudian dimuntahkan lewat kawah-kawah gunung, menjelma debu, pasir dan batu-batu. Itulah sebabnya, aku menyimpan seribu satu dongeng yang bisa kau jadikan permata hidupmu…,” bisikan itulah yang dengan jelas selalu menggema di lorong telinganya, melekat erat pada sanubarinya yang bening. Dia berjalan, seperti meneliti setiap…Continue Reading “Ha-hi-hu-he-hooo”