Nelayan yang Malas Melepas Jala

DAMHURI MUHAMMAD Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh … Continue reading Nelayan yang Malas Melepas Jala

Terumbu Tulang Istri

MADE ADNYANA OLE Apakah tubuh menggiring perahu atau perahu menyeret tubuh, dari tepi ke tengah laut? Kayan tak pernah bertanya. Satu hal ia tahu, tubuh dan perahu seakan memiliki rasa pedih dan ngilu yang sama - pedih dan ngilu yang meluncurkan mereka dalam satu garis lurus di atas landai ombak, di laut utara, saban pagi, … Continue reading Terumbu Tulang Istri

Telepon dari Istanbul

VIKA WISNU Di Hagia Sophia seseorang lelaki asing menepuk bahu perempuan yang berdiri tak jauh di depannya dan bertanya, "Anda dari Indonesia?". Si perempuan menoleh hingga rambutnya seolah melayang, mengiyakan dengan girang, ribuan kilo dari kampung halamannya di Pasuruan, ada yang mengenalinya, "Benar!" senyumnya lebar. Tapi takdir telah memilihkan akhir dari percakapan itu. Keduanya sama-sama … Continue reading Telepon dari Istanbul

Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau pergi 

Faisal Oddang PERANG yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita, Arung. Saya harus pergi. Makassar setelah Ventje Sumual menyerah dan Permesta dibubarkan, bukan lagi Makassar yang membuat leluhur saya datang sebagai pedagang kulit penyu, ratusan tahun yang lalu. Nyawa saya terancam, kau tahu itu. Dan cinta? Cinta tidak pernah cukup dijadikan … Continue reading Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau pergi 

Kisah Ganjil Seorang Penggali Kubur

SANDI FIRLY   Karena kisah makam keramat seorang penggali kubur yang kudapatkan sore itu begitu memikat, malam harinya aku langsung menuliskannya menjadi sebuah cerpen dengan sangat lancar. Namun, ketika akan memasuki paragraf-paragraf akhir, aku baru sadar kalau cerpen ini atau tepatnya kisah itu-yang segera kamu baca, memiliki cacat logika. Aku tidak akan memberitahumu di mana … Continue reading Kisah Ganjil Seorang Penggali Kubur

Sejarah

PUTU WIJAYA Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lahir. Aku ingin berenang, tenggelam dalam sejarah. Agar aku tahu arah yang benar dalam meneruskan langkah. Sejarahku mentok, berhenti sebelum aku lahir. Jadi biar pun sejarahku ngelotok, sampai tahu berapa ekor nyamuk sudah terbunuh dalam kamar ini, aku tetap saja buta ke masa lalu. Maka terus-terang … Continue reading Sejarah

Nalea

Sungging Raga  Tidurlah, Nalea. Esok kita abadi. Gadis kecil itu memucat, bibirnya membiru karena dingin. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan kota ini.  "Ini, pakai jaket," kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat. "Sepertinya kamu masuk angin." Mereka … Continue reading Nalea

Tukang Cukur

Budi Darma Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, Sekolah Dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih … Continue reading Tukang Cukur

Milana dan Sungai Purba

KEN HANGGARA ”Dulu, di depan kita ada sungai,” kataku. ”Sungai besar dan nyata.” Telunjukku menuding ke timur, titik matahari berangkat, lalu jariku melayang dan mendekat pada kami, hingga melampaui wajah Milana dan bersambung ke arah benamnya hari. Milana menoleh sejenak. Ia tutup mulut dengan dua tangan. ”Sungguh,” kataku lagi. Ia menggeleng-geleng dan tersenyum. ”Bukan. Bukan … Continue reading Milana dan Sungai Purba

Surat untuk Ado

PUTU OKA SUKANTA Ado, ini surat aku tulis sepulang dari rumahmu.Engkau telah membawa aku ke kawah kerinduan yang luka. Sisa langit kelam, desingletupan di telinga, petir cambuk api seolah tersimpan di pembuluh darah halus bola matamu yang liar seperti ketika engkau menarikan tari Baris Bali. Tidak hanya itu Ado, aku masih sempoyongan ketika meninggalkan rumahmu, … Continue reading Surat untuk Ado