Jurnal Fotopuisi #6 Doa di Padang Ilalang

*Doa di Padang Ilalang* . Telah ku panggul salibku dalam merenda hari depan, Meski ku terseok-seok dan selalu harus pulang pada tembok ratapan. . Tak ada yang mampu memastikan bahwa rindu dan cinta tak mungkin lekang, termasuk pula oleh kenangan. Tak ada yang sanggup memastikan bahwa hari esok hanya dipenuhi oleh kebahagiaan; itu tak mungkin…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #6 Doa di Padang Ilalang”

Jurnal Fotopuisi #5: Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan

‚Äč*Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan* Telah kujelajahi banyak tanah tempat manusia mengarungi hidup, tempat rindu dendamnya berkubang. . Jejak tanah basah antara Parapat dan pulau Samosir bentang alam Danau Toba kulewati dalam karnaval ingatan Berjejer deretan waktu terus mengulang-ulang rinduku yang luka ingatan itu tiba di poros langit mengadu tentang luka rindu yang berkali…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #5: Tak ada Tempat (lagi) Bagi Kehilangan”

Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon

Matahari Terbit dari Takengon Hangat sinar mentari mendekap udara yang dingin Awan berbisik mesra dengan gumpalan menari-nari dipelupuk mata Pagi itu tibalah sebuah pesan darimu, kekasih. Pesanmu adalah nasihat bijak bagi hidup yang kita aliri cinta yang dihidupi batas harapan dan kenyataan yang harus dikhidmati Pesanmu menyitir Coelho dari Sang Alkemis; “jika engkau mendambakan sesuatu,…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #4 Matahari Terbit dari Takengon”

Jurnal Fotopuisi #3: Orang-orang yang berjalan

Orang-orang yang berjalan . Hidup adalah permainan layang-layang Demikian Kuntowijoyo meracik kata dalam cerpen “Dilarang mencintai bunga-bunga” orang-orang berjalan mengikuti langkah kaki setia pada degup jantung juga suara hati. orang-orang berjalan mencari penghidupan karena tak ingin mati apalagi hidup sia sia Lihatlah, langit melengkungkan cahaya pepohonan rimbun menghimpun udara Burung burung bertasbih dengan cinta dari…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #3: Orang-orang yang berjalan”

Kepada jalan setapak yang disesaki lautan manusia dan kendaraan di Kota Medan Jalan panjang yang terhampar antara Siantar-Tebing tinggi-Parapat hingga tiba di Pelabuhan Ajibata Angin bertiup menyapu dedaunan yang berserakan di tanah Ia berjanji tak membebani Seperti janji rindu kepada waktu.. Swiss van Java, Oktober 2017 12.35 dari Bangsal Rumah Sakit Dian Cahaya

Menonton Konser Paduan Suara Mahasiswa UNPAD: Bara Renjana

Setelah sekian lama nggak menonton konser paduan suara, baru kali ini saya berkesempatan kembali menonton paduan suara di Bandung. Kadang orang Bandung sendiri belum tentu tahu informasi seperti ini. Hanya orang yang terhubung dengan sumber informasi terpercaya baru bisa mendapatkannya (tsaah). Ya betul. Sebelumnya saya mengandalkan informasi dari koran pikiran rakyat. Setiap Selasa atau Rabu…Continue Reading “Menonton Konser Paduan Suara Mahasiswa UNPAD: Bara Renjana”

Soemardja Book Fair: Kegelisahan pegiat literasi

Sebuah book fair tidak melulu pameran buku. Di dalamnya ada interaksi. Di situlah terjadi pertukaran informasi, mengenal budaya, mengapresiasi karya. Pada 24 Februari 2017 lalu, saya berkesempatan mendatangi Galeri Soemardja di Fakultas Seni Rupa ITB. Perihal kemari bukanlah menonton pagelaran seni rupa, tetapi melihat dan bertemu dengan para komunitas penjual buku di Bandung, dimana beberapa…Continue Reading “Soemardja Book Fair: Kegelisahan pegiat literasi”

Menonton Teater Cahaya Memintas Malam

Awalnya saya bingung dengan isi cerita teater Cahaya Memintas Malam yang dipentaskan di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, 15 Februari 2017 lalu, akhirnya liputan pada Kompas hari ini membantu saya (sedikit) lebih memahami bagaimana jalan cerita serta pesan yang dibawakan. Ada beberapa point yang saya dapat: Bahwa kehidupan yang sulit pada dasarnya merupakan pergumulan yang sama…Continue Reading “Menonton Teater Cahaya Memintas Malam”

The Road and The Window

Minggu lalu, tepatnya Hari Senin 9 Mei 2016, saya menginjakkan kembali ke ibukota Jakarta setelah kurang lebih sebulan berada di ranah Minang.
Sudah lama saya rencanakan untuk mengurus KTP Tangerang Selatan saya yang sudah kadaluarsa sejak Februari lalu. Itulah yang membuat saya harus kembali ke daerah bilangan Bintaro dan sekitarnya untuk mengurus perpanjangan KTP dan menelusuri jalan-jalan memori tersebut.

Singkat cerita, ternyata saya harus membuat perpindahan KTP, dan kantor RW hanya buka malam. Saya beruntung teman saya sejak SMA hingga kuliah, Samuel (Sammy) meminjamkan kamarnya untuk saya agar bisa beristirahat dari siang sampai sore. Saya selesai dari kantor RW sekitar pkl. 20.30, dan proses selanjutnya akan saya lanjutkan keesokan harinya. Saya dikabari oleh Sammy bahwa ia pulang tengah malam dan janjian ketemu di Epicentrum Walk.

Continue Reading "The Road and The Window"
Taman Vanda Bandung

Salah satu sudut kota yang suka saya kunjungi di Bandung adalah Taman Vanda. Letaknya cukup strategis di sebelah Bank Indonesia, berseberang dengan Taman Dewi Sartika Balai Kota Bandung serta Gereja Katedral Bandung. Sehabis dari acara bookfair di gedung Landmark Braga, saya menyempatkan diri singgah di sini sejenak, mengingat minggu lalu, malam-malam berlalu dengan jam makan…Continue Reading “Taman Vanda Bandung”