Jurnal Fotopuisi #1 Pintu Kedatangan

Pada pintu kedatangan Aku mulai tunaikan rindu meski bercampur resah dan cemas satu bababk cerita hidup tempat manusia merebahkan harap kepada segala dzat yang asali Rindu tempat pulang ke muasal kasih yang paling manusiawi Lekaslah tunggu kedatanganku di pintu rumah ketulusanmu kelak disanalah tempat terakhirku memulai cerita dalam kehidupan yang baru Lekas lepaskanlah segala ragu…Continue Reading “Jurnal Fotopuisi #1 Pintu Kedatangan”

Berikut adalah rekaman dari Rock of Ages Choir, sebuah paduan suara di GKI Kranggan yang beranggotakan bapak-bapak. Mereka membawakan lagu ini pada Kebaktian sore tanggal 22 Januari 2017 yang lalu. Saya tertarik pada lirik lagu ini, dimana menceritakan bagaimana suatu kehidupan harus terus berjalan dengan terus menatap rel seraya melalui gunung, lembah, gua, barangkali jembatan,…Continue Reading “Life is Railway to Heaven”

Andai saja Bandung-Cirebon Tersambung

Nawa Tunggal dan Ahmad Arif

Jalur kereta api dari Cirebon menuju Kadipaten, Majalengka, hampir terhubung dengan jalur dari Citali di Sumedang sampai Stasiun Rancaekek, Bandung. Bandung dan Cirebon ketika itu hampir terhubung dengan kereta api langsung, tetapi gagal akibat resesi ekonomi dunia tahun 1929-1930.

Sampai sekarang, pembuatan jalur tembus kereta api dari Bandung ke Cirebon melintasi Sumedang itu gagal terwujud. Bekas relnya pun raib. Jalur Cirebon ke Kadipaten sepanjang 48,7 kilometer, sedangkan jalur dari Stasiun Rancaekek sampai Citali sepanjang 14,5 kilometer.

Jalur tengah yang belum terhubung antara Kadipaten dan Citali sekitar 43,1 kilometer. Jalur itu melintasi kota Sumedang.

“Perencanaan jalur kereta api dari Bandung ke Cirebon itu terkait hasil produksi perkebunan yang melimpah di Priangan selatan pada masa itu. Di antaranya dari wilayah Ciwideuy, Bandung Selatan,” kata Aditya Dwi Laksana dari lembaga Kereta Anak Bangsa ketika mendampingi Susur Rel Kompas, Rabu (8/6).

Sebuah perusahaan swasta, Semarang-Cheribon Stoomtram-Maatschappij (SCS), berhasil membuka jalur kereta api dari Semarang sampai Cirebon pada 1899. Hanya berselang dua tahun kemudian, SCS membuka jalur Cirebon ke Kadipaten. Jalur Cirebon-Kadipaten tidak jauh beda dengan jalur Semarang-Cirebon, diutamakan untuk angkutan tebu dan gula.

Di antara Cirebon sampai Kadipaten terdapat beberapa bekas pabrik gula, meliputi Pabrik Gula (PG) Soerawinangoen, PG Gempol, PG Paroengdjaja, PG Djatiwangi, dan PG Kadipaten.

“Jalur ini sempat bertahan sampai 1976,” kata Aditya.

Jalur Rancaekek menuju Citali pada awalnya hanya beroperasi sampai Stasiun Tanjungsari berjarak 11,2 kilometer. Jalur ini dibuka pada 13 Februari 1921. Kemudian sempat diperpanjang 3,3 kilometer sampai Citali, tetapi jalur perpanjangan tersebut belum sempat dioperasikan sampai jalur itu ditutup pada 1942, ketika masuk pendudukan tentara Jepang.

Continue Reading "Andai saja Bandung-Cirebon Tersambung"