sampai Akhirnya

Hari-hari ini sebetulnya masih mencekam dalam diam. Ramadan tahun inipun terasa sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya, dan boleh jadi di masa mendatang. Berita investigasi terkini sebuah majalah mengungkap bahwa alat rapid test Covid19 terindikasi bermasalah sejak dari negeri produsennya. Di berbagai negara telah terjadi kemarahan terhadap ras yang menyebabkan pandemik ini. Tampaknya wabah ini bukan hanya mengakibatkan hilangnya manusia, namun terlebih hilangnya kemanusiaan. Mengerikan!

Saat ini benteng pertahanan adalah bertahan. Kewarasan jiwa haruslah terus dipelihara. Saya mengamati dari balik layar kaca kecil ini, kegiatan orang-orang yang bertahan. Bertahan dengan segala pergumulan yang tidak diceritakan. Bahkan dari balik benteng pertahanan itu lahir karya berupa pesan motivasi, tips memasak, menggambar, lokakarya, berbagi pengetahuan, bahkan akhirnya terungkap betapa selama sebelum pandemi ada banyak terjadi ketidakefisienan karena pertemuan fisik: ongkos, kemacetan, penginapan, dan kelelahan fisik lainnya. Dunia saat ini sedang berjuang untuk bertahan, tidak hanya terhadap serangan virus, namun paling besar terhadap dampak sosial dan ekonomi.

Berita PHK, unpaid leave, dirumahkan, penundaan THR dan pemotongan gaji sudah semakin dekat dengan lingkaran saya. Menyedihkan sekaligus mengkuatirkan. Namun, begitulah hidup. Duka dan suka memang datang bergantian atau bersamaan.

Video edisi ini merupakan katakanlah seperti surat untuk anak cucu. Jika suatu saat ada kurator karya-karya pandemik Psbb, lockdown, wfh, wfo, lfh, sfh, boleh jadi inilah wasiat kami supaya generasi mendatang jangan gampang menyerah. Lirik lagu ini menunjukkan seorang manusia kepada kepasrahan dan pengakuan akan dosa-dosa. Batas kekuatiran adalah kematian. Selama masih bertahan, berarti masih hidup. Berani hidup sebetulnya sebuah panggilan bagi manusia. Tinggal bagaimana manusia menghidupinya dengan kata dan karya.

Lagu ketiga pada masa pandemik ini lahir dari obrolan grup percakapan sebagai bentuk respon terhadap perjarakan pada momen bulan ramadan. Video lagu sebelumnya dapat dilihat disini (Rumah Kita) dan disini (Damai BersamaMu).

Jadi, sampai kapan? sampai Akhirnya. Semoga menghibur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =