Staatsspoor- en Tramwegen

Masa pandemi, semasa belum bisa pergi dengan leluasa, tiada salahnya pergi jalan-jalan ke seluruh dunia dengan membaca buku. Gara-gara teman yang posting jualan buku kereta api bahasa belanda awal abad 20 dengan harga yang lumayan mahal 🙁 Saya ketikkan judul bukunya di google, sembari mencoba peruntungan dan akhirnya saya tiba di koleksi digital Universitas Leiden (https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/). Buku itu ada disana. Sayangnya, buku itu tidak diberi akses. Ternyata perpustakaan digital Leiden, sangat luar biasa koleksinya terutama banyak foto-foto dengan kualitas gambar yang tinggi. Jadilah saya berjalan-jalan virtual ke masa hampir satu abad lalu, dan menemukan beberapa foto zaman dulu yang saya kenali.

Stasiun Bandung
Pintu Utara (1930)

Sedikit orang yang tahu, bahwa sesungguhnya pusat Stasiun Bandung ada di Jalan Stasiun Timur, bukan Jalan Kebon Kawung. Terlihat di gambar ini, ada tugu dan jalan lapangan yang begitu luas. Tampaknya mustahil mewujudkan kembali suasana sini, meski sekarang sudah dilakukan pengaspalan dan perbaikan saluran air. Tempat parkir serta banyaknya ojek online yang nongkrong membuat situasinya semrawut. Sekitar tahun 2016 dilakukan penertiban di seberang gedung stasiun, awalnya sudah menunjukkan adanya perbaikan namun tampaknya…….

Jembatan Kereta Api Yogyakarta (1930)

Pengetahuan mata angin saya yang lemah, tidak dapat mendeteksi mana timur mana barat. Apalagi kota seperti di Jogja, tidak menguasai mata angin, bersiap-siaplah………nanya. Jembatan ini merupakan penghubung jalan rel yang melintasi Kali Code. Tampaknya jalan rel yang ke kanan menuju Stasiun Tugu sedangkan yang ke kiri menuju Stasiun Lempuyangan.

Jembatan Nagrak – Lebakjero (1930)

Jawa Barat terkenal karena keindahan alamnya. Salah satu jembatan eksotis yaitu jembatan ini, yang terletak di jalur antara Lebak Jero – Nagrak, perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kecamatan Kadungora, Garut. Pemandangan dari atas kereta sewaktu melintas jembatan ini sungguh memesona. Terlihat gunung dan rumah-rumah serta pepohonan yang masih banyak. Kalau nggak kuat, jangan lihat ke bawah. Dan hanya orang terlatih yang bisa berjalan di jembatannya. Sampai sekarang jembatan baja yang berusia seabad ini masih berfungsi baik.

Sekian jalan-jalan edisi kali ini. Semoga Pemustaka Universitas Leiden diberikan kemurahan hati untuk memberi akses pada dokumentasi digital lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − one =