Kanvas

Kalau mengingat masa lalu, ada sebuah misteri menggelitik yang sampai sekarang selalu berhasil membuat saya berpikir. Sederhana saja: urusan menggambar pemandangan di buku gambar sekolah.

Entah bagaimana ceritanya, dulu saya dan teman sekelas seperti memiliki kesepakatan tanpa tertulis. Polanya seragam di mana mana. Dua gunung kembar, matahari yang terbit tepat di tengah lekukannya, hamparan sawah luas, lalu sebuah jalan yang membelah lurus ke depan.

Kalau sedang merasa punya bakat seni tingkat tinggi, kita akan menambahkan sosok Pak Tani atau Bu Tani lengkap dengan capingnya. Menggambar manusia saat itu adalah keahlian hebat anak sekolah.

Merbabu – Merapi 2025

Saya tidak pernah tahu siapa yang pertama kali mengajarkannya. Guru tidak pernah mengarahkan bentuk itu. Namun, ini seperti sebuah kecerdasan universal yang melampaui batas geografis. Bagaimana mungkin saya yang bersekolah di ujung Sumatra sana, bisa memiliki imajinasi yang persis sama dengan jutaan murid lain di berbagai pelosok Nusantara?

Jika mencoba mengaitkannya dengan ranah filsafat, fenomena unik ini mengingatkan saya pada pemikiran Plato tentang Dunia Ide (ada di Novel Dunia Sophie). Sang filsuf Yunani kuno itu percaya bahwa sebelum jiwa kita lahir ke dunia material, kita sudah lebih dulu mengakses alam ide yang sempurna. Di sana, wujud ideal dari segala keindahan sudah tercipta. Apa yang kita sebut sebagai imajinasi atau kreativitas di bumi, menurut Plato, sebenarnya hanyalah proses mengingat kembali (anamnesis) serpihan keindahan purba tersebut. Pola pemandangan masa kecil kita mungkin adalah cetak biru keindahan universal yang sudah tertanam di alam bawah sadar kolektif kita.

Lalu waktu berlalu, kita tumbuh dewasa dan mulai melupakan gambar itu.

Sampai pada suatu pagi yang cerah, saya berdiri menyaksikan sebuah lanskap nyata secara langsung, pada Gunung Slamet. Tidak sama persis , tetapi mirip sekali. Saya yakin anda sepakat. Dan ternyata, realitas itu benaran sebagus itu. Jauh lebih memukau daripada apa yang pernah kita goreskan di atas kertas masa kecil.

Momen itu membuat saya merenung kembali. Imajinasi sewaktu kecil ternyata bukan khayalan kosong. Ia adalah cara jiwa kita menangkap getaran dunia nyata yang mungkin belum sempat kita kunjungi secara fisik. Hal ini selaras dengan apa yang sering diungkapkan para pelukis maestro, bahwa imajinasi sebetulnya sedang menggambarkan dunia nyata secara lebih jujur. Kita mengira kita sedang mengarang sebuah fiksi, padahal kita sedang menangkap esensi dari realitas yang ada.

Melihat harmoni alam pagi itu, ada rasa damai yang merayap di hati. Saya menjadi sangat percaya, jika pemandangan alam saja diatur dengan komposisi sedemikian presisi dan menakjubkan, maka jalan hidup saya pun pasti sedang digambar oleh Sang Pelukis Agung dengan imajinasiNya yang tak terselami pikiran saya.

Setiap goresan takdir, perpaduan suka dan duka, semuanya sedang dirancang dengan indah di atas kanvas waktu, yang akan terlihat indahnya pada waktuNya yang rahasia.

Sekian dan terimalah kasih.