40 Hari Mencari Makna #19 Ironi Pontius Pilatus

Ada sebuah ironi yang sangat menggelitik setiap kali kita mendaraskan Doa Pengakuan Iman Rasuli. Di antara deretan pengakuan iman yang suci, terselip satu nama penguasa Romawi: Pontius Pilatus. Ia bukan seorang nabi, bukan pula orang suci, namun namanya disebut oleh jutaan orang setiap minggu selama berabad abad. Mengapa gereja merasa perlu “mengabadikan” nama seorang birokrat pengecut dalam dokumen iman yang paling mendasar?

Tujuan utamanya adalah sebagai jangkar sejarah. Nama Pilatus adalah penegasan bahwa peristiwa keselamatan ini bukan dongeng di negeri antah berantah. Ia terjadi dalam koordinat waktu yang nyata, di bawah administrasi kekaisaran yang nyata, dan di tangan penguasa yang memiliki catatan sejarah resmi. Namun di balik fakta sejarah itu, tersimpan ironi teologis yang jauh lebih dalam.

Ironi terbesarnya adalah fakta bahwa Tuhan memakai ketidakadilan Pilatus untuk menyukseskan misi keselamatan manusia. Pilatus mungkin mengira dia memegang kendali penuh saat duduk di kursi pengadilan. Ia merasa memiliki kuasa untuk melepaskan atau menghukum. Namun kenyataannya, ia hanyalah instrumen dalam skenario yang jauh lebih besar.

Mari kita bayangkan sejenak: jika saat itu Pilatus memiliki keberanian moral untuk membebaskan Yesus, atau jika ia tetap teguh pada hati nuraninya dan menolak tekanan massa, maka jalan salib tidak akan terjadi hari itu. Tanpa vonis Pilatus, tidak ada Golgota. Tanpa Golgota, tidak ada kubur kosong. Pilatus, dengan segala keraguan dan aksi cuci tangannya, secara tidak sengaja menjadi “pelaksana” dari rencana penebusan Tuhan.

Tuhan sanggup membelokkan kelemahan, ambisi politik, dan ketakutan seorang manusia untuk mencapai tujuan mulia Nya. Pilatus ingin menyelamatkan kariernya, namun Tuhan menggunakan keputusan itu untuk menyelamatkan dunia.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah doa jemaat mula mula yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 4:27-28:

“Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa bangsa lain dan suku suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak Mu.”

Ayat ini memperlihatkan betapa kedaulatan Tuhan tetap bekerja bahkan di tengah persekongkolan jahat manusia. Pilatus merasa dia yang memutuskan, padahal ia sedang menjalankan apa yang telah ditentukan dari semula.

Merenungkan sosok Pilatus dalam kisah Paskah memberikan perspektif yang berbeda. Sering kali kita merasa dunia ini sedang kacau karena keputusan pemimpin yang buruk atau situasi politik yang tidak adil. Namun kisah Pilatus mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun penguasa di bumi ini yang berada di luar jangkauan kendali Tuhan.

Seperti pepatah Latin yang sangat masyhur:

HOMO PROPONIT, SED DEUS DISPONIT

“Manusia berencana, namun Tuhanlah yang menentukan.” 

Pilatus merencanakan stabilitas politik di Yudea dengan mencuci tangannya, tetapi Tuhan menentukan bahwa melalui tangan yang “kotor” itulah sejarah manusia akan diubah selamanya.

Prapaskah mengajak kita untuk tenang di tengah hiruk pikuk dunia. Sebagaimana Tuhan mampu memakai seorang Pilatus untuk menghadirkan keselamatan, Ia pun sanggup memakai setiap peristiwa pahit dan keputusan sulit dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan yang tak terduga.

Selamat melanjutkan peziarahan dengan kepercayaan penuh pada kedaulatan Nya.