Catatan Kecil dari Panti Asuhan Fajar Baru

Sabtu, 23 Mei lalu, saya mengenang kembali momen hangat di Panti Asuhan Fajar Baru, Cimanggis, Depok, meninggalkan jejak mendalam di dalam hati saya. Kunjungan yang awalnya dirancang sebagai program perayaan Paskah ini pada akhirnya menjadi sebuah perjalanan spiritual yang personal bagi saya.

Dari persiapan hingga pelaksanaan acara, saya menemukan banyak makna tersembunyi. Ada refleksi mendalam yang saya bawa pulang dari rumah penuh senyuman tersebut, dan saya tuliskan sebagai pengingat.

Pertama, soal merawat kesehatian dalam keterbatasan dan keberagaman. Bagi saya pribadi, program bakti sosial ini sebenarnya adalah sebuah cara esensial untuk merawat kebersamaan dan kesehatian persekutuan kami di tengah kesibukan dunia kerja. Tentu saja, perjalanannya tidak luput dari tantangan. Dari sekitar 20 orang yang menjadi anggota persekutuan, pada hari H hanya 9 orang yang bisa hadir secara langsung.

Namun, di balik keterbatasan jumlah itu, Tuhan justru menunjukkan indahnya keberagaman dan inklusivitas. Keajaiban hadir ketika rekan rekan lintas iman, seperti Manda dari kantor dan Didi yang sehari hari bersama di rumah saya, bersedia dengan sukarela meluangkan waktu mereka untuk ikut. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa ketulusan dan rasa kemanusiaan mampu melampaui segala perbedaan, sehingga persekutuan menjadi lebih kaya dan bermakna.

Kedua, keajaiban hati yang diketuk perlahan. Ada sebuah proses iman yang luar biasa ketika melihat bagaimana seluruh donasi ini akhirnya terkumpul. Pada mulanya, pergerakan dukungan terasa sangat lambat. Sebetulnya ada kecemasan kecil apakah niat baik ini akan tersampaikan dengan maksimal. Namun perlahan, keajaiban itu terjadi. Satu per satu pintu hati rekan rekan pekerja terketuk. Sedikit demi sedikit donasi mulai mengalir, mulai dari uang tunai, sepatu, pakaian, hingga buku bacaan.

Proses ini mengajarkan saya untuk percaya pada kekuatan niat baik yang tulus. Ketika kita memulai sesuatu dengan hati, sekecil apa pun langkah awalnya, Tuhan sendiri yang akan menggerakkan hati orang-orang untuk menggenapinya. Sungguh, keajaiban ini saya percaya, bahwa yang paling sulit dalam suatu pekerjaan adalah memulainya, selebihnya ada sebuah kekuatan yang mengalirinya dan bekerja luar biasa.

Ketiga, diberkati dalam cara baru. Sering kali kita datang ke panti asuhan dengan pola pikir untuk memberikan sesuatu kepada mereka. Namun yang saya alami di Fajar Baru justru sebaliknya. Saya datang untuk berbagi, tetapi pulang dengan hati yang penuh. Senyum yang merekah tulus dan mata yang berbinar dari 61 anak asuh di sana menjadi bentuk penghiburan luar biasa yang saya terima. Tuhan sangat menghibur dan menguatkan saya lewat kehadiran mereka. Saya pribadi merasa sangat terberkati. Saya merasa dalam wajah-wajah mereka memancarkan ketulusan dan kejujuran. Saya yang sudah tiap hari melihat ‘kemunafikan”, rasanya ada wajah seperti itu, saya merasa saya dikenalkan kembali bahwa ada kejujuran yang hendaknya menjadi prinsip berlaku dalam hidup, lewat mereka saya diingatkan kembali.

Satu lagi, momen kebersamaan ini menjadi ruang yang sangat berharga untuk mempererat kedekatan saya dengan teman teman kerja. Di sana, kami melepaskan sekat sekat formalitas pekerjaan. Kami mulai berlatih bekerja sama dengan tidak memandang level jabatan, belajar gotong royong, dan saling menghargai satu sama lain. Bagi saya, ini adalah sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal dan tidak bisa ditemukan di dalam ruang kerja.

Catatan ini tidak akan lengkap tanpa mengabadikan nama nama baik yang telah merajut cerita indah ini bersama. Tulisan ini saya dedikasikan sebagai pengingat akan ketulusan yang nyata. Terima kasih yang tak terhingga kepada 9 orang luar biasa yang melangkah bersama hari itu: Elizabeth Adelia Tania, Yolanda, Septi, Pak Triyono, Krisna, Andreas, serta Manda dan Didi.
Apresiasi dan terima kasih yang sama besarnya juga saya haturkan kepada seluruh teman teman persekutuan yang tidak dapat hadir secara fisik karena tuntutan tugas dan kondisi lainnya. Terima kasih atas kemurahan hati kalian yang luar biasa melalui donasi barang, uang, sepatu, pakaian, dan buku. Dukungan mereka semua adalah pilar yang menggenapi kebahagiaan adik adik di panti.

Kepada anak anak Fajar Baru yang terkasih, ingatan saya mungkin terbatas untuk bisa mengingat seluruh nama kalian satu per satu. Namun, binar mata dan kehangatan kalian hari itu telah menetap rapi dalam memori saya.

Dokumentasi, foto foto, dan video yang kita buat hari itu kini tersimpan sebagai saksi bisu. Suatu saat nanti, entah kapan, ketika kalian tumbuh dewasa dan menemukan kembali foto foto ini di sudut digital medsosatau di tempat ini, ingatlah satu hal: kita pernah berjumpa, kita pernah berbagi tawa, dan kita pernah saling menguatkan sebagai satu keluarga di dalam kasih Nya.

Kita semua akan kembali ke rutinitas masing masing, namun esensi dari pelayanan ini akan tetap hidup. Seperti sebuah peribahasa Latin yang indah:

“Ubi caritas et amor, Deus ibi est.”
(Di mana ada cinta kasih dan kepedulian, di situ Tuhan hadir.)

kita tidak hanya berbagi waktu dan kehidupan, tetapi kita telah menghadirkan Tuhan di tengah tengah kita melalui kasih persaudaraan yang tulus.

Sampai jumpa di pelukan kairos Tuhan berikutnya.