Sebuah Catatan Perjalanan Perihal Merawat Kewarasan

Malam itu, ketika perjalanan LRT pulang ke Harjamukti, saya memandang ke luar jendela. Saya merenungkan curhat seorang rekan dan saya membayangkan bahwa lingkungan kerja adalah sebuah panggung cerita yang penuh dengan dinamika manusia. Dan di panggung itu, gesekan dengan sesama adalah sesuatu yang niscaya.

Mau selevel, ke atas, atau ke bawah, konflik rasanya selalu punya jalan untuk hadir mengetuk pintu ruang kerja. Ada saja hal yang mengganggu ketenangan jiwa. Di satu sudut, kita melihat rekan sejawat yang mendadak sibuk cari muka karena enggan tersaingi. Di sudut lain, ada tekanan dari atas yang datang bertubi tubi tanpa pernah diiringi oleh kata apresiasi yang tulus. Sementara di tingkat bawah, kita harus terus menguras energi untuk menyamakan frekuensi agar komunikasi tidak salah arah.

Rasanya seperti sedang berjalan di jalur setapak yang penuh bebatuan tajam; salah melangkah sedikit, jiwa terluka.

Secara personal, saya melihat rentetan gangguan ini bukan sekadar kebetulan semata. Jika kita mau meninjau dari teori lingkungan kerja, ini adalah sinyal dari ekosistem yang sedang tidak sehat.
Ketika ruang gerak, peluang, atau pengakuan dalam sebuah organisasi dirasa menyempit, politik kantor akan otomatis mengambil alih. Orang orang mulai memakai topeng, depan belakang berbeda, hingga akhirnya menciptakan iklim toksik yang menguras energi. Gesekan peran dan ketidakjelasan batasan tanggung jawab inilah yang melahirkan rasa tidak aman, yang kemudian menular ke mana mana menjadi sebuah kegelisahan kelompok termasuk saya sendiri.

Bila dibiarkan berlarut larut tanpa ada jeda, konflik yang tidak sehat ini akan membawa dampak buruk yang sangat nyata, baik bagi jiwa kita sendiri maupun bagi organisasi tempat kita bernaung. Bagi pribadi, tekanan yang konstan ini perlahan akan merayap masuk ke dalam ruang domestik kita. Ia merusak ketenangan malam, mencuri waktu istirahat, bahkan menjelma menjadi alarm fisik yang nyata. Tubuh kita itu jujur; ia akan protes lewat rasa lelah yang tidak berkesudahan atau asam lambung yang mendadak kambuh saat kecemasan memuncak.

Bagi organisasi, riuh politik ini adalah sebuah kerugian besar. Energi kreatif yang seharusnya dipakai untuk berinovasi dan melangkah maju, habis terbakar begitu saja hanya untuk mengurusi konflik ego dan saling sikut di koridor kantor.

Lalu, bagaimana kita mengenali bahwa situasi ini sudah mulai merusak diri kita? Kuncinya ada pada kepekaan batin. Saat kita mulai merasa hari Senin terasa seperti momok yang menakutkan, atau saat suara kita mulai bergetar karena menahan beban emosi yang terlalu berat, itulah saatnya kita harus berani menekan tombol jeda.

Jika alarm itu sudah berbunyi, ada beberapa langkah sadar yang perlu kita ambil untuk menyelamatkan diri sendiri:

Pertama, mencari  sosok tepercaya atau mentor yang bersedia mendengarkan dengan utuh tanpa menghakimi. Sebuah tempat di mana kita bisa menumpahkan isi kepala dengan aman tanpa takut reputasi kita runtuh.

Kedua, ambillah waktu untuk menjauh sejenak. Berjalan kaki di ruang terbuka, menikmati udara luar, atau membiarkan langkah kaki hanya sekedar membeli sekeping coklat di supermarket. Gerakan fisik selalu punya cara magis untuk mengalirkan kembali energi yang tersumbat dan mengurai benang kusut di kepala.

Ketiga, menyadari bahwa menghadapi situasi yang sulit bukan berarti kita pasrah pasrah saja pada keadaan. Ini adalah bentuk resiliensi; sebuah keberanian untuk tetap tegak berdiri di tengah badai karena kita tahu kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri.

Keempat, mengubah mindset.
Bahwa kita tidak dapat mengendalikan seluruhnya, seperti sifat buruk rekan kerja atau penilaian atasan yang subjektif. Sebaliknya, mari ubah dengan memusatkan energi pada hal hal yang bisa kita kelola: respons kita, profesionalisme kita, dan batasan emosional yang kita bangun di sekeliling jiwa kita.

Pada akhirnya, perubahan terbesar tidak terjadi saat lingkungan kantor mendadak berubah menjadi ideal, melainkan saat kita berani mengubah cara kita memandang pekerjaan itu sendiri. Kita semua tahu dan harus jujur bahwa kita membutuhkan pekerjaan ini. Ada tanggung jawab hidup yang harus ditunaikan, ada dapur yang harus tetap mengepul, dan ada masa depan yang sedang kita bangun dengan penuh tanggung jawab. Mempertahankan pekerjaan adalah sebuah tindakan yang terhormat. Namun, bertahan saja tidak akan pernah cukup jika jiwa kita terus terkikis.

Di sinilah kiblat berpikir kita harus bergeser. Ketika ruang kantor berubah menjadi medan pertempuran ego yang melelahkan, mari kita ubah ruang kerja kita menjadi sebuah altar. Sembari menunaikan tugas profesional, setiap karya, setiap analisis, dan setiap keputusan yang kita hasilkan dalam situasi sesulit apa pun harus diletakkan sebagai bentuk persembahan yang hidup. Ketika kita memilih untuk tetap bekerja dengan integritas tinggi di tengah lingkungan yang tidak jujur, di situlah nama Tuhan sedang dimuliakan. Kita tidak lagi bekerja untuk menyenangkan mata manusia atau sekadar mengejar tepuk tangan atasan, melainkan untuk sebuah otoritas yang jauh lebih tinggi.
Kesulitan dan perlakuan tidak adil di kantor sejatinya adalah sebuah ruang kelas yang sunyi untuk kita berlatih menghadapi penderitaan. Anggaplah tekanan ini sebagai beban latihan yang sedang menempa otot otot rohani kita agar semakin kuat.

Penderitaan tidak hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk mengikis kesombongan, melatih kesabaran yang murni, dan memperluas kapasitas hati kita. Dari sinilah kita belajar untuk bangkit kembali setiap kali terjatuh. Kita belajar berdiri tegak bukan karena kita kebal rasa sakit, tetapi karena kita tahu bahwa kekuatan kita bersumber dari tempat yang tidak tergoyahkan.

Mari kita melangkah dengan sebuah kesadaran penuh bahwa badai ini, sedahsyat apa pun ia berembus, suatu saat pasti akan berakhir. Kesulitan ini memiliki masa kedaluwarsa. Ruangan yang terasa menyesakkan, konflik dengan rekan kerja, hingga rapat yang mencemaskan, semuanya hanyalah satu babak pendek dari buku kehidupan kita yang tebal.

Dan di atas semua itu, yakinkan hati kita bahwa tidak ada satupun pekerjaan yang sia sia, termasuk air mata. Setiap tetes air mata yang jatuh karena menahan lelah, menahan amarah yang terpendam, atau karena merasa tidak dihargai, tidak akan pernah menguap begitu saja tanpa arti. Di hadapan Tuhan, air mata itu adalah saksi bisu dari sebuah perjuangan suci untuk tetap bertahan dan menjaga integritas di tengah badai. Ia adalah bagian dari proses penempaan emosi yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih lembut sekaligus kokoh.

Sebuah peribahasa Latin yang sangat indah meringkas seluruh perjalanan spiritual dan mental ini dengan begitu kokoh:
“Per aspera ad astra” (Melalui jalan yang penuh duri dan kesulitan, menuju bintang bintang)

Peribahasa ini mengingatkan kita bahwa tidak ada keindahan bintang yang bisa dicapai tanpa melewati kegelapan malam dan jalur setapak yang terjal. Jalur yang penuh duri  saat ini, bersama dengan segala peluh dan air mata yang menyertainya, adalah jalan yang harus kita daki untuk mencapai kedewasaan jiwa yang sejati.

Suatu hari nanti, ketika kita menengok ke belakang, kita akan tersenyum dan menyadari bahwa semua kesulitan ini hadir bukan untuk menghentikan langkah kita, melainkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang jauh lebih bijaksana, tangguh, dan bercahaya di bawah naungan kebaikan Tuhan.

Selamat terus berkarya dalam ketekunan serta merawat kewarasan.