Demi cinta.

Ini adalah cerita tentang perjumpaan dan perpisahan.

Dua tahun lalu, sebuah tanggung jawab baru membidangi HSE hadir di hadapan saya. Sebuah rumpun pekerjaan yang sama sekali belum pernah saya selami. Tugas saya saat itu cukup menantang: membuat isu HSE tersiar dan menjadi perhatian hingga ke meja jajaran direksi, sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak selalu menjadi prioritas utama.

Saya mulai mencari staf HSE. Dari sekian banyak riwayat hidup yang menumpuk di meja, ketertarikan saya jatuh pada Nisa. Ia adalah lulusan Kesehatan Masyarakat dengan konsentrasi K3 dan sedang bekerja di perusahaan manufaktur. Persepsi positif saya seketika muncul. Bagi saya, mereka yang terbiasa di lingkungan manufaktur umumnya sangat disiplin dan taat prosedur.

Jawaban cerdasnya saat wawancara serta pengalamannya mendampingi proses audit membuat saya mantap memilihnya.

Sering kali dalam hidup, kita memang dihadapkan pada sebuah pilihan. Bermodalkan kriteria sederhana untuk menolong kelancaran pekerjaan, sebuah daftar pertanyaan, dan sebersit insting, selebihnya saya biarkan kehidupan mengalir membawa arahnya.

Kebersamaan kerja kami di divisi itu ternyata hanya berlangsung satu tahun. Pada tahun 2025, saya dialihtugaskan untuk mengelola unit baru di bidang strategi. Ada rasa berat saat harus meninggalkan urusan HSE, apalagi saya sedang sangat menikmati peran tersebut hingga bersemangat mendapatkan dua sertifikasi BNSP. Namun, begitulah kenyataan hidup dan kedudukan, semuanya hanyalah kefanaan belaka.

Setahun terakhir, interaksi kami mulai memudar. Kami jarang berkomunikasi intens, sesekali hanya saling berbalas komentar di status WhatsApp. Tepat sebelum berpindah ke unit baru, saya sempat menyetujui permohonan cuti besarnya untuk persiapan persalinan sang putri.

Lalu, ada sebuah kejutan kecil. Saya baru menyadari bahwa saya mengenal ayah Nisa. Dulu, unit kerja sang ayah pernah menjadi objek audit saya. Betapa sempitnya dunia ini. Semesta memiliki cara unik untuk merajut pertemuan antarmanusia. Hal ini menjadi tamparan sekaligus pelajaran berharga bagi saya untuk selalu menjaga sopan santun dan meninggalkan kesan yang baik di mana pun kita berada. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kehidupan akan kembali menyilangkan jalan kita kelak. Komunikasi dengan ayahnya pun masih terjalin, sesekali saya menanggapi ceritanya yang kini aktif bersepeda menikmati masa pensiun bersama rekan sejawatnya.

Lalu tibalah akhir Juli. Nisa mendatangi saya khusus untuk berpamitan. Hari itu adalah hari terakhirnya bekerja. Ia pamit dengan air mata yang bercucuran. Saya bisa melihat kilau antusiasme yang masih menyala di matanya, menyiratkan masih banyak impian pekerjaan yang ingin ia capai. Namun, peran barunya tidak bisa ditawar. Tantangan pengasuhan bagi sang buah hati memaksanya untuk mengalah sejenak dari dunia profesional.

Saya menyemangatinya. Hanya itu pelukan verbal yang bisa saya berikan. Keputusan besar seperti ini pastilah sudah melewati ragam pertimbangan yang sangat mendalam.

Saya rasa bagi Nisa, momen ini bukanlah sebuah garis akhir, melainkan sekadar jeda sementara. Sebuah titik perhentian untuk menata ulang jalan yang sudah direncanakan. Terkadang kita memang perlu berhenti sejenak, sekadar menarik napas panjang, untuk merangkai kembali kekuatan sebelum memulai babak perjalanan yang baru.

Perpisahan selalu membawa pesannya sendiri. Ia mengajarkan saya tentang keikhlasan melepaskan sesuatu yang disenangi demi sesuatu yang lebih berharga. Mengorbankan karir demi keluarga adalah wujud cinta dan dedikasi yang paling utuh.

Perpisahan di dunia kerja juga mengingatkan kita bahwa tidak ada tempat berlabuh yang abadi selain kenangan baik yang kita tinggalkan.

Sebagai pengingat, saya mengajaknya berfoto bersama hari itu. Sebuah memori yang saya simpan dengan harapan manis: kelak, di dimensi waktu yang berbeda, kami akan bersua kembali. Duduk bersama, menyambung tali silaturahmi, dan saling bertukar cerita tentang perjalanan hidup yang sudah dipenuhi oleh ragam pengalaman serta makna yang jauh lebih kaya.

Sampai jumpa lagi, Nisa.

Mangga Besar, 30 Oktober 2026