Jalan Pejompongan dulunya sangat saya akrabi karena jaraknya tidak sampai 100 meter dari kantor. Setiap hari saya rutin melewatinya naik motor dari kontrakan di Kelapa Gading menuju tempat kerja.
Sepanjang jalan tersebut, sejak dari perlintasan rel, banyak sekali pedagang yang berjualan cermin. Menjadi sebuah kekhasan tersendiri bila saya melintas di sana, saya bisa melihat pantulan diri saya bersama motor Supra X125 saya, membuat perjalanan terasa begitu gagah melewati cermin yang berderet-deret dipajang. Di antara deretan kios itu, mungkin ada sosok Pak Bambang Setiyawan yang sedang duduk setia menunggui tokonya.
Dari artikel Kompas yang saya baca, almarhum Pak Bambang yang berusia 60 tahun adalah sosok warga Bendungan Hilir yang sangat pekerja keras. Menurut anak sulungnya, Wisnu, ayahnya sudah 30 tahun bekerja untuk menghidupi keluarga sebagai penjual kaca, bermula dari berjualan menggunakan gerobak di depan Gedung DPR hingga akhirnya memiliki kios sendiri. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang amat peduli pada sesama. Setiap kali ada kecelakaan di depan kiosnya, Pak Bambang selalu menjadi orang pertama yang turun tangan menolong korban. Bahkan sebelum kejadian nahas itu, beliau baru saja mengantar temannya berobat ke RS Pelni.
Namun, peristiwa kerusuhan yang terjadi pada minggu lalu, 27 Agustus 2026, mengubah segalanya dan menyisakan duka mendalam. Pak Bambang yang dikenal detail dalam pekerjaannya, malam itu hanya berniat kembali untuk mengunci dan mematikan lampu di kiosnya agar tidak dirusak oleh para perusuh. Tragisnya, niat tulus itu berujung maut. Beliau menjadi korban kebrutalan massa yang sungguh sadis dan tidak berkemanusiaan. Pada akhirnya, sosok baik hati itu ditemukan tak bernyawa di RS Polri Kramat Jati setelah sebelumnya sempat dicari oleh kedua anaknya di berbagai rumah sakit lain.
Saya sungguh tak habis pikir saat mencermati berita dan membaca kronologis kejadiannya.
Kenapa ada orang orang yang brutal mengotori dan merampas hidup seseorang dengan sangat keji?
Mengapa kekuasaan begitu tak terkendali? Mengapa orang orang seperti itu seolah dibiarkan begitu saja?
Apakah sejarah kekerasan di negeri kita ini memang selalu berulang?
Kini saya tidak berharap banyak. Tiap kali melewati wilayah itu, saya akan melihatnya bukan sekadar sebagai jalan penuh kenangan, melainkan jalan yang telah berlumuran darah.
Pejompongan yang tak lagi sama.
