Di Antara KRL, Ruang Rapat, dan Perpustakaan: Refleksi Makna Ruang

Kamis kemarin merangkum sebuah ironi keseharian kita. Sebuah hari yang diawali dengan niat sederhana, namun berujung pada refleksi tentang makna ruang.

Pagi itu, saya sengaja melewatkan jadwal latihan di gym. Niatnya satu, yaitu ingin ikut gerak jalan sehat HUT RI di kantor yang tak pernah saya ikuti sebelumnya. Saya berangkat lebih awal dari biasanya. Namun, saat transit di Stasiun Cawang, terdengar pengumuman nyaring mengenai gangguan operasional KRL.

Lima puluh menit saya berdiri menunggu sejak pukul tujuh pagi. Alhasil, saya baru tiba di kantor pukul setengah sembilan, dan rombongan jalan sehat sudah bubar. Ketika menunggu kereta kembali melaju, saya memerhatikan banyak penumpang mulai menelepon rekan kerja mereka untuk mengabarkan keterlambatan. Dari ragam obrolan yang terdengar, penyebabnya jelas. KRL terhambat akibat menabrak sebuah sepeda motor. Beredar kabar bahwa komponen coupler kereta patah dan selang udara mengalami kebocoran.

Kejadian ini memicu perenungan pagi. Betapa rentannya urat nadi transportasi kita akibat perlintasan liar. KRL adalah andalan ribuan warga, namun risikonya menjadi sangat tinggi. Ironisnya, perlintasan tak resmi ini sering dijaga secara swadaya oleh warga sekitar hanya demi memangkas jarak putar bagi kendaraan roda dua. Dampaknya meluas, merugikan mereka yang sedang berpacu dengan waktu. 

Siang harinya, setelah gagal mengikuti jalan santai, saya melanjutkan agenda dengan menghadiri rapat di kawasan Cikini. Mengadakan pertemuan di luar kantor sesekali memang menyenangkan. Ada suasana baru, jeda rehat kopi yang nikmat, dan nuansa yang lebih segar.

Namun, inti dari sebuah rapat adalah apakah outputnya bisa terealisasi atau tidak. Saya kerap bertanya dalam hati, mengapa banyak sekali pertemuan korporasi, bahkan yang digelar di hotel mewah sekalipun, berujung pada minimnya eksekusi? Kualitas keputusan sering kali tidak tuntas. Undangan rapat datang silih berganti, namun waktu pelaksanaannya tidak terkendali. Materi tidak disiapkan dengan serius. Waktu terbuang tidak efektif, lalu besoknya kita kembali membahas agenda usang yang belum selesai. Paradoks ini diproduksi tiada henti, menciptakan ilusi kegiatan korporasi. Terlihat sibuk, padahal minim dampak.

Sadar bahwa energi saya sudah terkuras oleh kejadian pagi dan rapat siang, saya mengirim pesan kepada ci Ling Ling. Saya mengajaknya ke Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Saya butuh ruang untuk merilis penat. Gayung bersambut, Deni ternyata ikut bergabung. Jadilah kami, menyambangi perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki, Cikini.

oplus_131104

Di sana, saya akhirnya menemukan ruang jeda. Kami duduk tenang sambil mengobrol ditemani buku pilihan kami. Suasana yang sangat dirindukan hadir di sini. Keheningan, kenyamanan, deretan buku, serta ruang bagi imajinasi dan kreasi. Menjelang akhir pertemuan, Deni dengan penuh semangat mempresentasikan program yang sedang ia jalankan, yaitu Jambore Runner serta perayaan hari jadi Perusahaannya. Ada antusiasme luar biasa yang terpancar. Energinya menyala terang, memancarkan aura positif tanpa disekat oleh batasan dimana organisasi kami bekerja.

Melihat itu semua, saya berpikir, di mana lagi kita bisa menemukan ruang publik yang ramah? Ruang kantor tidak akan mungkin menyediakannya. Mereka tidak peduli pada penyediaan ruang khusus untuk kreasi atau dialog literasi. Ruang pertemuan selalu penuh, sementara meja kerja dipenuhi layar PC yang sibuk menampilkan aplikasi pesan web.

Saya merenung lebih dalam, ada benang merah yang mengikat ketiga realita hari itu yaitu transportasi publik, ruang rapat, dan ruang literasi.

Ketiganya pada hakikatnya adalah medium pergerakan dan konektivitas. Transportasi publik memindahkan fisik dari satu titik ke titik lain. Ruang rapat seharusnya menggerakkan ide menjadi sebuah tindakan nyata dan keputusan strategis. Sedangkan ruang literasi menggerakkan pikiran, membuka wawasan, dan menumbuhkan imajinasi yang progresif.

Lalu, bagaimana kita memadupadankannya dalam ritme hidup ini?

Kuncinya ada pada kejelasan intensi dan penciptaan ruang yang bermakna. Kita perlu membawa efisiensi dan kejelasan arah ke dalam ruang rapat, memastikan setiap agenda melaju lurus menuju eksekusi tanpa terhambat diskusi tanpa arah.

Sebaliknya, kita juga harus membawa ketenangan, kejernihan, dan kebebasan berekspresi ala ruang literasi ke dalam lingkungan korporasi. Bayangkan jika setiap diskusi pekerjaan diisi dengan antusiasme murni tanpa sekat birokrasi, persis seperti energi murni yang terpancar saat membahas program komunitas lari sore itu.

Kita membutuhkan ketiganya beroperasi secara ideal. Fisik yang terfasilitasi oleh transportasi yang aman, pekerjaan yang berdampak dalam ruang diskusi yang tajam, dan jiwa yang senantiasa terjaga oleh ruang literasi yang hening. Ruang publik bagi mobilitas tubuh ternyata sama seriusnya dengan ruang publik bagi kewarasan akal budi.

Akhirnya, sore itu kami berpisah. Melangkah pulang, membawa kerumitan hidup masing masing kembali ke habitatnya, namun dengan pikiran yang jauh lebih lapang.

Sebagai penutup hari yang penuh perenungan ini, ada satu refleksi tajam dari filsuf Yunani, Socrates, yang rasanya begitu pas menampar rutinitas kita yang seolah tak pernah berhenti: “Beware the barrenness of a busy life,”