30 Hari Bercerita #7 Sebuah Amplop Terbuka Untukmu

Anggaplah layar ponsel Anda saat ini adalah sebuah amplop.

Bayangkan Anda baru saja menerimanya. Rasakan tekstur kertasnya di ujung jari Anda. Ada sedikit ketegangan saat Anda membuka segelnya perlahan, lalu menarik keluar secarik kertas di dalamnya.

Kertas itu adalah foto di slide berikutnya.

Di era di mana jempol kita terbiasa menari di atas layar kaca dengan kecepatan kilat, mengetik telah menjadi aktivitas mekanis. Efisien, cepat, namun seringkali berjarak. Huruf ‘A’ yang saya ketik di Jakarta akan terlihat persis sama dengan huruf ‘A’ yang diketik seseorang di Entah Dimana :D.

Menulis tangan itu berbeda. Ia adalah sebuah ritual yang melibatkan seluruh tubuh. Saat pena menggores kertas, terjadi koneksi langsung yang ajaib antara pikiran, detak jantung, dan ujung jari. Dalam setiap lekukan huruf, tarikan garis yang tegas, atau titik yang ditekan agak dalam, terlibat emosi yang jujur. Ada keraguan, ada keyakinan, ada seluruh indra yang bersatu di sana.

Tulisan tangan adalah sidik jari jiwa pada saat itu.
Pesan digital mudah sekali tenggelam dalam lautan notifikasi, atau lenyap tak berbekas karena ponsel yang rusak atau di-reset. Ia fana. Tapi selembar kertas yang ditulis tangan? Ia memiliki “nyawa” yang bertahan melampaui waktu. Ia adalah bentuk paling purba dan paling jujur dari upaya manusia untuk merekam jejak pikirannya.

Hari ini, saya ingin mengirimkan “amplop” ini, khususnya bagi para perempuan muda yang sedang bertumbuh, atau siapapun yang membutuhkan pengingat ini.

Silakan geser ke samping. Anggaplah Anda baru saja membuka lipatan suratnya.

Selamat membaca.

HWS