Gunung Slamet, “Atap Jawa Tengah”, berdiri megah dengan segala misteri dan tantangannya di ketinggian 3428 MDPL. Saya mengangkat kembali kenangan di puncak ini sebagai bentuk respek mendalam bagi siapa pun yang pernah beradu nyali dengan medannya yang luar biasa.

Slamet memiliki cara sendiri untuk menguji batas manusia. Di jalur Bambangan ini, saya merasakannya langsung: kaki yang terkilir dan kuku kaki yang patah menjadi saksi bisu betapa kasarnya rupa bebatuan vulkanik di sana. Beruntung, saat itu saya tidak dihadang cuaca buruk yang seringkali menjadi “hakim” terakhir bagi para pendaki.
Bicara soal Slamet, pikiran saya tak bisa lepas dari kisah Syafiq Ridha Ali Razan. Kepada Ali, sang penyintas, rasa empati ini saya kirimkan. Bertahan hidup di tengah dingin dan sunyinya lereng Slamet adalah mukjizat yang lahir dari daya juang jiwa yang luar biasa.
Salam hormat setinggi-tingginya juga saya tujukan bagi para relawan dan tim SAR yang tak kenal lelah mencari hingga Ali ditemukan. Mereka adalah pahlawan yang bekerja dalam senyap, yang terus mencari penyintas di pelukan gunung.

Perjalanan ini juga mengingatkan saya pada pesan dari mentor saya, Mas Widi. Sebuah pesan sederhana yang sering diabaikan karena ego pendaki: “Jangan remehkan istirahat. Tidur 6 jam adalah keharusan, wajib, kudu!.”
Di gunung, keselamatan adalah prioritas utama, sedangkan puncak hanyalah bonus yang sifatnya sementara.
Gunung tidak pernah butuh untuk ditaklukkan; kitalah yang perlu menaklukkan diri sendiri di lerengnya. Mari tetap mendaki dengan kerendahan hati, karena di hadapan alam yang perkasa, kita hanyalah butiran debu.

Salam hormat untuk para pejuang rimba,
dan lestarilah alam Indonesia.