30 Hari Bercerita #13 Nota Dinas

Jauh sebelum tombol “Send” di email atau pesan WhatsApp menjadi penentu nasib keputusan kantor, ada satu lembar kertas sakti yang hidupnya dihabiskan dengan berkelana: Nota Dinas.

Bagi saya, perkenalan pertama dengan dunia kerja adalah perkenalan dengan ritual panjang pembuatan kertas ini. Prosesnya adalah sebuah seni kesabaran. Diketik di Microsoft Word, dicetak, lalu diserahkan ke atasan. Di sinilah “drama” dimulai: kertas itu akan kembali dengan penuh tinta merah bolpoin. Koreksi, edit, cetak lagi. Jika sudah sempurna, barulah ditandatangani.

Di era itu, bagi pekerja junior seperti saya, tugas mengantar nota dinas adalah sebuah “privilese” terselubung. Bermodalkan buku ekspedisi sebagai paspor, saya seperti menjadi turis di kantor sendiri. Mengantar nota dinas berarti berkeliling menembus sekat-sekat unit kerja di gedung 11 lantai itu. Saat itu adalah momen emas untuk berinteraksi, menyapa senior di lantai lain, atau sekadar “numpang lewat” untuk melihat suasana unit kerja lain. Tak jarang, perjalanan itu memiliki rute memutar yang disengaja “nyangkut” di perpustakaan untuk membaca koran pagi barang 15 menit, sebelum akhirnya kembali ke ruangan dengan wajah tanpa dosa.

Bagi penerima di luar kota? Kita mengandalkan mesin faksimili, dengan bunyi “kring-ngiiik-grok” yang khas saat kertas itu ditelan dan dimuntahkan kembali di seberang pulau.

Bahasa nota dinas itu unik. Sangat formal, kaku, dan didesain agar tidak menimbulkan interpretasi ganda.

Namun, ada satu hal yang selalu membuat saya tersenyum geli hingga hari ini. Di bagian penutup, hampir selalu tertulis kalimat sakti:

“Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.”

Padahal, ini adalah tulisan di atas kertas, bukan voice note. Tidak ada satu pun kata yang benar-benar “diucapkan” secara lisan. Tapi begitulah tradisinya.

Kini, zaman telah berganti. Nota dinas manual yang penuh coretan tinta dan jejak tangan itu telah pensiun, digantikan oleh nota dinas elektronik yang bersih dan instan. Efisiensi meningkat drastis. Koreksian bukan lagi berupa tulisan yang kadang sangat sulit dibaca. Dokumen melesat dari lantai 1 ke lantai 11 dan ke seluruh lantai dalam hitungan detik tanpa perlu ada hitungan langkah kaki strava.

Praktis? Sangat.
Tapi kadang saya berpikir, hilangnya ritual jalan-jalan mengantar nota itulah yang mungkin berkontribusi pada lingkar pinggang yang makin melebar.

Kita kehilangan alasan paling sederhana untuk bergerak dan menyapa manusia lain secara tatap muka di tengah kesibukan.

Itu zaman saya.
Bagaimana dengan Anda?