Cek NIK Anda -Pilkada Serentak Provinsi, Kabupaten, Kota 2017

sumber gambar: http://pilihan-pilkada.blogspot.co.id

Ada 7 Provinsi, 18 Kota, dan 76 Kabupaten yang akan memilih kepala daerahnya di tahun 2017 ini. Kita harapkan akan terpilih pemimpin yang penuh integritas dan kejujuran. Saatnya sebagai warga negara kita memilih pemimpin daerah kita. Demi kemajuan bangsa dan negeri Indonesia. Lakukan pengecekan di mana Tempat Pemungutan Suara (TPS) Anda berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada link berikut:

http://www.kopitora.id/cek-dpt-pilkada-serentak-2017/

Berikut daerah-daerah yang melaksanakan pemilihan kepala daerah:

Provinsi:

1.  Aceh
2. Bangka Belitung
3. DKI Jakarta
4. Banten
5. Gorontalo
6. Sulawesi Barat
7. Papua Barat

Cek NIK Anda http://www.kopitora.id/cek-dpt-pilkada-serentak-2017/

Kota

1. Banda Aceh
2. Lhokseumawe
3. Langsa
4. Sabang
5. Tebing Tinggi
6. Payakumbuh
7. Pekanbaru
8. Cimahi
9. Tasikmalaya
10. Salatiga
11. Yogyakarta
12. Batu
13. Kupang
14. Singkawang
15. Kendari
16. Ambon
17. Jayapura
18. Sorong

Cek NIK Anda http://www.kopitora.id/cek-dpt-pilkada-serentak-2017/

Kabupaten
1. Mesuji
2. Lampung Barat
3. Tulang Bawang
4. Bekasi
5. Banjarnegara
6. Batang
7. Jepara
8. Pati
9. Cilacap
10. Brebes
11. Kulonprogo
12. Buleleng
13. Flores Timur
14. Lembata
15. Landak
16. Barito Selatan
17. Kotawaringin Barat
18. Hulu Sungai Utara
19. Barito Kuala
20. Banggai Kepulauan
21. Buol
22. Bolaang Mongondow
23. Kepulauan Sangihe
24. Takalar
25. Bombana
26. Kolaka Utara
27. Buton
28. Boalemo
29. Muna Barat
30. Buton Tengah
31. Buton Selatan
32. Seram Bagian Barat
33. Buru
34. Maluku Tenggara Barat
35. Maluku Tengah
36. Pulau Morotai
37. Halmahera Tengah
38. Nduga
39. Lanny Jaya
40. Sarmi
41. Mappi
42. Tolikara
43. Kepulauan Yapen
44. Jayapura
45. Intan Jaya
46. Puncak Jaya
47. Dogiyai
48. Tambrauw
49. Maybrat
50. Sorong
51. Aceh Besar
52. Aceh Utara
53. Aceh Timur
54. Aceh Jaya
55. Bener Meriah
56. Pidie
57. Simeulue
58. Aceh Singkil
59. Bireun
60. Aceh Barat Daya
61. Aceh Tenggara
62. Gayo Lues
63. Aceh Barat
64. Nagan Raya
65. Aceh Tengah
66. Aceh Tamiang
67. Tapanuli Tengah
68. Kepulauan Mentawai
69. Kampar
70. Muaro Jambi
71. Sarolangun
72. Tebo
73. Musi Banyuasin
74. Bengkulu Tengah
75. Tulang Bawang Barat
76. Pringsewu

Cek NIK Anda http://www.kopitora.id/cek-dpt-pilkada-serentak-2017/

Semoga terpilih Pemimpin yang membawa keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa. Amin.

Takengon; Nama Warisan Hurgronje yang Dibanggakan Orang Gayo


Takengon, saat ini adalah nama resmi untuk menyebut ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang juga kota terbesar di dataran tinggi Gayo. Nama ini dipakai secara resmi entah itu di peta atau untuk menyebut setiap instansi yang ada di kota ini.

Entah darimana asal muasalnya dan entah siapa yang memulai membuat teori ini, di Gayo sendiri banyak yang percaya kalau asal-usul nama Takengon adalah berasal dari kata bahasa Gayo “Beta ku engon” yang artinya begitu saya lihat.

Sekilas nama ini memang masuk akal, apalagi kalau asal-usul nama itu ditambah dengan cerita sejarah berbau spekulatif yang mengatakan kalau itu adalah ekspresi dari Genali (orang pertama yang dipercaya menemukan kota ini) saat pertama kali melihat danau yang menjadi ciri khgas lansekap kota ini dari salah satu bukit yang mengelilinginya.

Ketika berbicara dengan orang dari luar kota ini dan menanyakan asal, orang asal Kota ini memperkenalkan kota asalnya sebagai kota Takengon. Bahkan di kalangan suku-suku Aceh non-Gayo, nama Takengon secara de facto dipakai untuk menggantikan nama Gayo. Di Banda Aceh misalnya, oleh suku-suku Aceh lainnya darimana pun asalnya, “orang Gayo” lebih umum dipanggil sebagai “orang Takengon”. Tidak peduli darimanapun asalnya, entah dari Tingkem, Ponok Baru, Ketol, Timang Gajah bahkan Isaq daN Lumut.

Berpedoman pada nama Takengon ini pula, di kalangan suku Aceh pesisir berkembang cerita tentang asal usul nama Kota ini, dengan sumber yang lebih tidak jelas lagi juntrungannya. Menurut beberapa orang Aceh pesisir, nama Kota Takengon itu berasal dari kata “Taki Ngon”, kata-kata bahasa Aceh yang berarti “menipu teman”. Lebih kacau lagi ada juga orang Aceh pesisir yang bilang nama Takengon berasal dari “Tak Ngon”, artinya membacok teman. Keduanya sama sekali tidak berkonotasi positif.

Tapi anehnya meskipun cerita tentang asal usul nama Kota Takengon versi orang Gayo di atas cukup masuk akal. Tapi orang Gayo sendiri, jika sedang berbicara dalam bahasa Gayo, sama sekali tidak pernah menyebut nama ini dengan nama Takengon. Ketika berbicara dalam bahasa Gayo orang gayo menyebut nama Kota ini dengan nama “Takengen” (huruf “e” pertama dibaca seperti “e” dalam kata “tempe” dan huruf e kedua dibaca seperti “e” dalam kata “sendu”). Pengucapan ini misalnya dapat kita dengar dalam lirik sebuah lagu Gayo legendaris karangan seniman besar almarhum AR Moese ” Kin Takengen aku denem”, bukan “Kin Takengon aku denem”.

Berdasarkan fakta inilah saya berpendapat bahwa nama asli kota kelahiran saya ini adalah TAKENGEN bukan TAKENGON. Nama Takengen sendiri saya yakin berasal dari kata dalam bahasa Gayo yang dibentuk dari kata dasar “Takeng” dan akhiran “en”. Kemungkinan ini adalah bahasa Gayo lama yang karena seperti banyak bahasa daerah lainnya bukanlah bahasa tertulis, kata-kata lama tersebut sudah banyak yang hilang digantikan kata-kata serapan baru dan tidak diketahui lagi artinya. Apalagi dalam berbahasa orang Gayo cepat sekali terpengaruh terhadap ungkapan-ungkapan baru. Baca : http://winwannur.blogspot.com/2008/12/takengen-setelah-10-tahun.html

Dalam bahasa Gayo akhiran “en” digunakan untuk menjelaskan tempat dilakukannya sebuah aktifitas. Misalnya “perempusen” yang berarti tempat berempus (berkebun), pelipenen yang berarti tempat berlipe (menyeberang sungai), peruweren yang berarti tempat beruwer (mengandangkan kerbau), Didisen yang tempat melakukan aktifitas Berdidis (menangkap ikan depik yang memijah di pinggir danau). Begitulah, dengan mengikuti pola yang sama seperti pembentukan kata-kata di atas, maka Takengen maksudnya adalah tempat melakukan aktifitas “bertakeng” yang entah apa artinya.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa di kota kelahiran atau di tempat lain di dataran tinggi Gayo, orang Gayo hanya menyebut nama Takengon ketika mereka sedang berbicara dalam bahasa melayu, baik itu ketika berbicara dengan suku-suku Non-Gayo atau sesama orang Gayo sendiri.

Kebiasaan penyebutan nama Takengon ini bermula nama ini telah dilekatkan pada kota ini oleh pemerintah kolonial Belanda. Di samping itu saya pikir, penyebutan nama Takengon menjadi semakin kuat dan melekat dan dijadikan nama resmi kota ini oleh orang Gayo sendiri tidak lain karena masalah prestise. Dibanding nama Takengen (Nama kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Gayo), di telinga orang Gayo nama Takengon (Nama Kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Melayu) terdengar lebih keren.

Terbentuknya pola prestise seperti ini dalam masyarakat Gayo tidak bisa dilepaskan dari peristiwa merebaknya euforia modernisme di kota kecil kelahiran saya ini pada masa awal kemerdekaan dulu.

Pada masa itu, di negeri saya, modernisme kurang lebih dipahami sebagai segala sesuatu yang berbau ‘luar’. Entah itu cara beragama, cara bersikap, bentuk rumah tinggal, cara berpakaian sampai penggunaan bahasa saat berbicara.

Praktek keagamaan misalnya, praktek lama yang banyak mengamodasi praktek-praktek religius lokal (kaum tue) diangap tidak modern dan kuno, karenanya praktek keagamaan ala “kaum tue” ini tidak begitu populer di kota ini.

Sejak masa awal kemerdekaan para pemeluk Islam yang tinggal di kota kelahiran saya lebih banyak menganut faham yang dipengaruhi oleh pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh yang dibawa ke kota ini oleh anggota Muhammadiyah yang belajar di Minang dan orang Gayo yang belajar Islam di perguruan Al Irsyad Surabaya . Di banding “kaum tue”, paham yang disebut “kaum mude” ini lebih tegas membatasi praktek-praktek keagamaan yang diadopsi dari kebiasaan pra Islam. Paham ini disebut ‘Kaum Mude”.

Untuk rumah tinggal, pada masa itu, semua “Umah pitu ruang” (rumah adat Gayo) di kota kelahiran saya ini dihancurkan untuk diganti dengan rumah-rumah kayu modern, berbentuk ruko yang bertingkat dua. Di beberapa tempat, seperti daerah pasar pagi dan Bebesen, “rumah-rumah modern” yang menggantikan “Umah pitu ruang” ini masih bisa kita saksikan sampai hari ini.

Dalam hal berpakaian, demi modernitas, pakaian adat lama juga ditinggalkan dan diganti dengan pakaian modern, untuk mempertegas ditinggalkannya cara hidup lama itu, di Blang Kejeren, para perempuan membakar pakaian adat gayo di depan umum (Bowen 1991: 112).

Perilaku berbahasa juga demikian, bahasa melayu yang menjadi bahasa nasional di negara ini pun naik kasta menjadi bahasa yang memiliki status lebih tinggi dibanding bahasa Gayo yang merupakan bahasa sehari-hari orang-orang yang tinggal di daerah ini.

Sebagaimana paham ‘kaum mude”, rumah berbentuk ruko dan pakaian ala barat. Oleh masyarakat yang tinggal di kota kelahiran saya ini, penguasaan bahasa Melayu dianggap sebagai cermin modernitas. Secara umum masyarakat memandang status keluarga yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa Melayu lebih tinggi dibanding orang yang dalam keluarganya berbicara dalam bahasa Gayo. Dalam pandangan masyarakat kota ini, orang yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa melayu terkesan lebih terpelajar.

Cara pandang seperti inilah yang membuat penyebutan nama Takengon terdengar lebih keren dibanding nama Takengen.Begitulah yang terjadi di Gayo pasca hengkangnya penjajah kolonial, tapi itu semua tidak menjawab asal usul nama Takengon.Tapi, asal-usul nama TAKENGON akan terlihat sangat jelas jika kita membaca “Het Gajoland en Zijne Bewoners” (Tanah Gayo dan penduduknya) sebuah karya antropologis dari Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dari Universitas Leiden yang menulis tesis tentang Haji yang memulai pendidikannya di bidang Teologi dan kemudian mengalihkan studinya kepada studi bahasa Arab dan Islam.

C.Snouck Hurgronje sempat belajar di Mekkah selama 5 bulan, mengganti agamanya menjadi Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul al Ghaffar (Waardenburg 1962:19).Tahun 1889 Hurgronje meninggalkan Belanda menuju Batavia dan 2 tahun kemudian dia diminta oleh pemerintah Belanda untuk menjadi penasehat politik dan militer Belanda di Aceh.Atas nasehat Hurgronje inilah Gubernur Belanda J. Van Heutz, merekrut Ulee Balang (priyayi Aceh) untuk berkoalisi melawan Ulama yang oleh belanda dianggap sebagai pusat kekuatan perlawanan Aceh (van’ t Veer 1980).

Pada tahun 1900 Hurgronje mulai mengumpulkan informasi tentang Gayo dari orang-orang Gayo yang dia temui di pantai barat Aceh. Hurgronje yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kaki di Tanoh Gayo, mendapatkan kebanyakan informasinya tentang Gayo dari seorang pemuda cerdas asal Isaq bernama Njaq Putih yang saat itu sedang belajar agama di Aceh Barat dan pada tahun 1902, Hurgronje mendapat satu lagi nara sumber tentang Gayo yang bernama Aman Ratus yang berasal dari Gayo Lues.

Pada tahun 1903, Hurgronje yang dianggap Penghianat Besar Islam oleh orang Aceh dan Orang Gayo tapi dianggap pahlawan oleh pemerintah Belanda ini menyelesaikan Het Gajoland en Zijne Bewoners. Dalam buku ini Hurgronje memaparkan permasalahan perpolitikan dan militer di Gayo, jalan-jalan yang mlintasi daerah Gayo, lokasi desa dan dusun serta kekuasaan yang dimiliki setiap pemimpin kelompok di Gayo. Dalam buku ini Hurgronje juga memaparkan banyak informasi tentanga nama -nama tempat, benda yang kita lihat sehari-hari, praktek keagamaan dan budaya sehari-hari orang Gayo.

Dalam menjelaskan nama-nama ini, sepertinya lidah eropa Hurgronje kesulitan menyebut nama-nama yang mengandung bunyi “e” seperti bunyi “e” dalam kata “sendu” . Dalam buku Het Gajoland en Zijne Bewoners, semua kata yang mengandung bunyi “e” ini oleh Hurgronje diganti dengan “O”.Mengenai ini bisa dilihat di buku Het Gajoland en Zijne Bewoners yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tanah Gayo dan Penduduknya yang diterbitkan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada tahun 1996.

Dalam buku ini kita bisa membaca di halaman 66 misalnya, oleh Hurgronje, kata “reje” disebut Hurgronje “rojo”, “edet” menjadi “odot”, “Tue” menjadi “Tuo”, “saudere” menjadi “saudoro”, “bedel” menjadi “bodol”, “imem” menjadi “imom” dan “kerje” menjadi “kerjo”.Demikian juga dengan nama tempat sebagaimana nama TAKENGEN. Dalam buku ini Hurgronje mengubah nama itu menjadi TAKENGON.

Bukan hanya TAKENGON, tapi semua nama tempat lain yang mengandung bunyi “e” seperti bunyi “e” dalam kata “sendu” juga bernasib sama. Sebut saja misalnya Bebesen yang oleh Hurgronje diubah menjadi Bobasan (hal 17), Serbejadi menjadi Serbojadi (hal 10), Gayo Lues menjadi Gayo Luos (hal 9), Arul Ramasen menjadi Arul Ramason (hal 13), Kute Glime menjadi Kuto Glimo (hal 17), Oneng Niken menjadi Oneng Nikon (hal 21), Peruweren Tulen menjadi Peruworon Tulon (hal 29), Linge menjadi Linggo (hal 29), Ise-ise menjadi Iso-iso (hal 34), Blang Gele menjadi Blang Golo (hal 132), Reje Buket menjadi Rojo Buket (hal 141), Teungku Uyem menjadi Teungku (Uyom 144), Tami Delem menjadi Tami Dolom (hal 144), Paya Reje menjadi Paya Rojo (hal 144), Serule menjadi Serulo (hal 144), Menye menjadi Monyo (hal 152), Tingkem menjadi Tingkom (hal 154) dan banyak lagi.


Begitulah, soal nama-nama tempat di Gayo yang dimodifikasi oleh Hurgronje ini.

Belakangan ini saya melihat banyak orang Gayo yang begitu gencar untuk menunjukkan kembali identitas diri dan menggali kembali akar asal-usulnya. Sampai-sampai ada ide untuk membuat provinsi sendiri segala.Tapi Ironisnya orang Gayo yang katanya sangat mencintai budayanya ini, yang katanya sangat Islami ini justru bangga memakai nama hasil modifikasi seorang pengkhianat besar Islam sebagai nama kota kebanggaannya.

Sejauh ini, saya sama sekali tidak melihat tokoh-tokoh Gayo, baik yang muda apalagi yang tua yang merasa terganggu dengan asal-usul nama TAKENGON yang sampai hari ini melekat menjadi nama kota kebanggaan orang Gayo ini. Sepanjang yang saya tahu, SAMPAI HARI INI hanya sayalah satu-satunya orang Gayo yang merasa terganggu dengan nama yang ‘dihadiahkan’ oleh Hurgronje kepada Kota Kelahiran saya tersebut.Karena merasa terganggu, makanya dalam setiap tulisan saya yang menceritakan kota ini, saya selalu menyebut kota ini dengan nama TAKENGEN yang merupakan nama pemberian muyang datu saya, bukan TAKENGON yang merupakan ‘hadiah’ dari Hurgronje.


Wassalam

Win Wan Nur

Orang Gayo yang Lahir di TAKENGEN

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

Dorang pe ikutan Antri

Budaya antri di kita ini masih lemah yah. Pengalaman saya selama di Gorontalo ini, saya mengalami “disalip” dari belakang tanpa basa-basi. Yang pertama ketika antrian di kasir bank. Bank Bunga (bukan nama sebenarnya). Tujuan saya adalah melakukan transfer tetapi lewat kasir, bukan ATM. Terlihat ada kursi tunggu di depan barisan meja kasir. Nah baru kali ini saya melihat model antrian seperti ini. Nasabah dibuat dua jalur antrian. Antrian pertama adalah antrian untuk setoran di atas 5juta dan antrian kedua dibuat untuk setoran di bawah 5juta. Untuk antrian pertama, jalur antriannya dibuat seperti huruf S gitu, dan antrian kedua dibuat lurus. Nah, kedua antrian tadi dibuat kursi (supaya nasabahnya nggak parises kalee yaa). Saya berada di antrian kedua. Awalnya berjalan dengan lancar. Setiap ada nasabah yang maju ke meja kasir, otomatis nasabah bergeser tempat duduk ke kanan satu kursi. Sekali waktu, ketika sudah waktunya untuk bergeser, seorang wanita di sebelah saya asyik buka-buka handphone. Tanpa praduga, saya menunggunya supaya ia bergeser. Karena disebelah kanannya, sudah kosong 3 kursi. Tahu-tahu tanpa banyak tanya, 3 orang yang baru datang dari pintu langsung mengisi di sebelah kanan mbak tadi. Beugh…menyebalkan! dan satu lagi yang bikin kesal setengah mati, ternyata mbak tadi cuma nemenin seseorang yang baru saja menyetor uang nya di kasir, ia langsung keluar ketika temannya selesai bertransaksi. “ANJLOK” (baca: Doggy) dalam hatiku.

Yang kedua, dengan bank yang berbeda, mau mendapatkan informasi mengenai kredit usaha mikro di salah satu bank pemerintah (yang umurnya sudah seabad itu loh). Lagi-lagi setali tiga uang. Saya sedang menunggu di sebelah seorang ibu yang sedang berurusan dengan Customer Service Officer, maksudnya setelah dia ya saya. Namun, datang bapak tua yang langsung mengambil posisi agak ke belakang nasabah tadi, gitu si ibu berdiri, cepat2 ia ambil posisi yang manis banget (deh). dan ternyata ia cuma ngambilin tempat doang, karena selang beberapa menit kemudian datang dua anak muda yang sebenarnya berurusan dengan CSO tadi. Dongkolnya bukan kepalang. Mau marah, ini kampung orang…mau nggak marah…akhirnya balik kanan bubar ajah..

Bener-bener deh…

Ciri Manusia Indonesia Menurut Mochtar Lubis

Source: http://umum.kompasiana.com/2009/05/10/ciri-manusia-indonesia-menurut-mochtar-lubis/

–begins–
Ciri Manusia Indonesia Menurut Mochtar Lubis

Oleh: Chappy Hakim

Sekedar mengingatkan kembali, saya kutipkan ulang tentang ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis:

Ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik. Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Kalau ditawari sesuatu akan bilang tidak namun dalam hatinya berharap agar tawaran tadi bisa diterima. Banyak yang pura-pura alim, tapi begitu sampai di luar negeri lantas mencari nightclub dan pesan perempuan kepada bellboy hotel. Dia mengutuk dan memaki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Kemunafikan manusia Indonesia juga terlihat dari sikap asal bapak senang (ABS) dengan tujuan untuk survive.

Ciri kedua manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, ”Saya hanya melaksanakan perintah atasan.”

Ciri ketiga manusia Indonesia berjiwa feodal. Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan.

Ciri keempat manusia Indonesia, masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen.

”Kemudian kita membuat mantra dan semboyan baru, Tritura, Ampera, Orde Baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang adil dan merata, insan pembangunan,” ujar Mochtar Lubis. Dia melanjutkan kritiknya, ”Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi. Model dari negeri industri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala mantranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP.”

Ciri kelima, manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah.

Ciri keenam, manusia Indonesia, tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.

Kita, menurut Mochtar Lubis, juga bisa kejam, mengamuk, membunuh, berkhianat, membakar, dan dengki. Sifat buruk lain adalah kita cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati.

Selain menelanjangi yang buruk, pendiri harian Indonesia Raya itu tak lupa mengemukakan sifat yang baik. Misalnya, masih kuatnya ikatan saling tolong. Manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, serta dapat tertawa dalam penderitaan. Manusia Indonesia juga cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan. Selain itu, punya ikatan kekeluargaan yang mesra serta penyabar.

Dan terakhir ada juga  yang mengatakan bangsa kita senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

–end of article–

I’m lucky

inilah dia, kalau udah niat, pasti dengan segala cara akan ditempuh. Kata bang napi, kalau ada kesempatan, dan didukung dengan niat maka tercipta perbuatan. Hari ini aku putar otak bagaimana harus online dengan leluasa dengan menjembatani constraint yang berupa:
1. batere laptop yang sudah tidak bisa kompromi lagi.
2. gak enak pinjam laptop temen (thank you ya mbak niniek, atas Apple-nya)
3. menghirup asap rokok kalau di warnet.

Berhubung ada jaringan wifi di depan lapangan alun-alun kota Gorontalo, maka tempat itu menjadi tempat favorit bagi orang yang ingin berinternet dengan gratis. Namun, hanya satu masalahnya yaitu tidak adanya sambungan listrik.

Sebelumnya saya udah keliling-keliling lapangan untuk mengamati keadaan sekitar (macam Densus aja yak) kali-kali aja ada ntah itu warung kah, kantor kecil kah yang bisa buat dapatin sambungan listrik. Ada tiga kali keliling (untungnya lagi ada mobil, jadi nggak norak gitu loh, heheh). Beruntung mata saya sempat melihat ke pos jaga di depan rumah dinas, saya melihat ada charger handphone yang sedang nancap disitu. Setelah memarkir mobil, saya hampiri si bapak,
“maaf pak, saya boleh menumpang ambil listrik disini, laptop saya mati.”
“oh..silahkan..silahkan” seraya menggeser sebuah kursi pada saya.

Saat ini, aku harus berterimakasih dengan dua orang pak satpam yang berbaik hati untuk saya bisa nongkrong di pos nya. Kali-kali aja lagi kalau mau online lagi, ke pos bapak ini lagi.


Your choice?

Setelah mengobrol dengan salah seorang teman di Gorontalo, aku sedikit mendapat pencerahan. Dua orang teman lebih tepatnya. Satu orang berprinsip bahwa dalam setiap pekerjaan, hal atau karya apa yang sudah kau kerjakan? semesntara satu orang teman yang lain berprinsip bahwa pekerjaan itu harus dinikmati dan tidak usah terkekang. Sepintas tidak ada yang aneh dengan hal ini. wajar-wajar saja toh dengan prinsip yang berbeda dan unik?

Namun setelah menelisik lebih dalam, saya memeroleh pemahaman yang berbeda. Dari bincang-bincang selanjutnya, saya memeroleh konteks permasalahan yang berbeda. Teman saya yang pertama, sebut saja Dw adalah seorang pekerja IT, yang selalu berkutat dengan laporan yang ia harus compile dari jenjang di bawahnya untuk dilaporkan ke kantor pusatnya. Sehari-hari ia berusaha menyediakan informasi yang dibutuhkan bosnya sewaktu-waktu. Tak jarang ia harus pulang jam 11 malam dari kantor untuk menyelesaikan laporan yang diperlukan. Satunya lagi, sebut saja An, adalah seorang pegawai go.id, menurut penuturannya, ia masuk ke sini atas permintaan istrinya. Sebelumnya ia bekerja di swasta. Selama di kota ini, ia bekerja sesuai dengan keinginannya, yaitu tidak mau terkekang dan memiliki suatu usaha di luar pekerjaan utamanya. Alasannya, di daerah tempat bekerjanya sekaeang, banyak sekali peluang untuk berbisnis, ia merasa tidak cukup jika hanya mengandalkan gajinya saja untuk membiayai ia, istri, dan anaknya. Karena itu, ia memulai suatu usaha, dan cukup berjalan dengan lancar, dan ia sedang menjajaki jenis usaha-usaha yang lain. Ia menambahkan bahwa suatu saat kalau sudah tiba waktunya, ia akan keluar dari pekerjaannya sekarang dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Jawa.

Aku sendiri hanya termenung menyaksikan kedua fakta di atas,
**sigh**

Akhirnya pernah jugaa

kemarin sore waktu ngobrol2 dengan mbak niniek dan mas tito,datanglah pak jonari sambil membawa koran kompas minggu. aku membuka lembar2nya,tadinya mau ngeliat artikelnya samuel mulia,namun gak ketemu,mungkin karena lembarannya sdg dibaca sama mas tito. akhirnya aku baca karikatur beny dan mice yang bercerita tentang midnight sale yang baru2 ini di plasa semanggi. akhirnya mataku tertumbuk pada tts kompas. aku nyeletuk sendiri bahwa selama hidupku belum pernah ngisi tts sampai full.ternyata,hal serupa juga dialami mas tito dan mbak niniek. jadilah kita keroyok bertiga itu soal soal ttsnya.berhasil!!kita memecahkan rekor bagi diri kita sendiri.aku juga baru tahu bahwa bhs inggrisnya keledai bukan hanya donkey,tapi juga ass,itu juga taunya dari searching di google. jadi intinya aku mengucapkan selamat pada mas tito dan mbak niniek,dan pada diriku sendiri.bravo tts kompas!