Sabda Khong Guan dalam Syukuran Sutabawor

Perjamuan Khong Guan dan Senyum Karyamin |
Joko Pinurbo dan Ahmad Tohari

In three words I can sum up everything I have learned about life: it goes on.

Robert Frost

Buku yang saya baca ulang di awal tahun 2021 ini mengingatkan Kembali pada masa-masa blogwalking, membuat giveaway, membuat surat di mailing list komunitas, dan berdiskusi membuat program-program membaca. Seruan untuk melakukan pekerjaan dari rumah pun semakin menggema di ruang maya kotak surat. Keadaan semakin berbahaya sebenarnya, tetapi saya merasa malu bila tidak melakukan apa-apa. Saya membayangkan cak siapa Namanya yang selalu semangat dan ramah melayani pembeli sarapan nasi sotonya di suatu pagi. Ia bilang begini, kalau matahari tidak ada, tidak akan membuat orang mati, hanya membuat orang lemas. Bagi saya, ungkapan itu sangat puitik, bernas, dan memiliki kedalaman makna. Ia mengatakan hal tersebut dengan pengalaman di belakangnya yang tidak semuanya terceritakan. Mendengar ucapan itu, saya seperti membaca buku. Betapa ajaib.

Continue reading

sampul

Don’t judge book by it’s cover.

Kata pepatah bijak. Bagaimanapun, di dunia nyata, orang (banyak) lebih tertarik melihat cover dulu baru isi. Atau baca judul dulu baru isi. Bila cover buku tidak menggambarkan isinya, tak apa juga bukan? apalagi desainnya merupakan suatu karya yang di dalamnya ada unsur seni. Bagi saya, membaca cerpen koran berbeda dengan membaca kumpulan cerpen di buku, karena di koran biasanya diikuti dengan gambar ilustrasi yang dapat dinikmati tersendiri selain membaca cerpennya. Cuma saya belum menemukan ada buku yang khusus memuat gambar ilustrasi dari kumpulan cerpen koran, tampaknya itu menarik.

Sebuah cuitan dari akun bernama sukutangan, memberikan desainnya untuk dibagikan secara nonkomersial. Sukutangan ini terkenal akan desainnya pada buku-buku terbitan penerbit terbesar Indonesia, dan kebetulan saya mengenal salah satu pendirinya. Saya unduh dan berpikir, “ini kok bisa kepikiran bikin macam gini, gimana caranya dan kok bisa ya…?”

Terima kasih, ndari dan suku tangan. Sejenak saya dapat berjalan-jalan untuk merawat nalar dan kepekaan. Terus berkarya.

Helv25102020

Greeting from Jakarta

Berkat itu datang tidak selalu diukur dengan uang, apalagi di masa seperti ini. Kita harus pintar-pintar menjaga imunitas, dengan tertawa contohnya.

Sepertinya menjadi kurator tak mesti benda-benda seni, bukan? seperti kemarin saya ditawari urunan langganan buku digital, saya ambil saja karena cukup (bahkan lebih dari cukup) untuk mengefisienkan belanja buku (yang umumnya akhirnya menjadi timbunan) dan juga mengefisienkan tempat penyimpanan.

Efisien. Jargon masyarakat digital 4.0.

Dari grup klub pengunyah – hanya datang sekali kopdarnya – saya beroleh informasi seperti ini:

Greetings from Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950

Berkah Dalem Gusti. Dulu saya tahan berdiri membuka-buka buku ini di toko buku, membuka lembar-lembarnya begitu memesona. Kertasnya luks dan seluruhnya berwarna. Ngarep banget dapat diskon, dan ternyata diberikan gratis oleh Scott Merrillees, penulisnya. Segera saya ke lamannya, mengisi form dan mengunduh buku itu.

Bagaimanapun, Jakarta menjadi tempat pengembaraan saya. Saya juga pelaku urban yang mengadu keberuntungan di kota ini yang juga dilakukan oleh orang-orang dahulu untuk bertahan hidup. Jakarta menjadi simbol kesuksesan dan keberhasilan perantau, meski kenyataannya tak begitu. Orang yang hidup di Jakarta menjadi miskin hati dan cinta. Halah.

Museum Fatahillah yang dulu saya lihat di prangko, hadir dalam sebuah kartu pos:

Untuk cerita di balik gedung-gedung tua di Jakarta, saya suka baca bukunya Bapak alm. Adolf Heuken, SJ. Latar belakang sebagai seorang arsitek (seperti Romo Mangun) memberi kekayaan dalam memaknai seni arsitektur, dan akhirnya membuat saya belajar mengapresiasi seni rancang bangunan.

Berikut saya letakkan tautannya, sebagai pengingat, semoga mesin pencari google bisa menemukan laman ini.

https://drive.google.com/file/d/1SvOWbljfNhdeD7j1vF_OQ9LktVR2xL1B/view?usp=drivesdk

Terima kasih bapak Scott, bekal belajar sejarah saya bertambah. Tabik.

Helvry Sinaga

On duty – a short story

Never idealize others. They will never live up to your expectations.

Leo Buscaglia

Demi apa ya saya harus pergi di minggu siang berpanas-panas untuk menemui seseorang yang belum saya kenal. Saya sadar bahwa saya sedang dimintai tolong karena saya punya kapasitas untuk bertemu: jarak!

Tempat perjumpaannya adalah sebuah kafe atau warung kopi yang cukup terkenal, di mana hampir hadir di setiap kota terlebih yang punya pusat perbelanjaan. Tempat itu menjadi demikian populer karena mungkin sudah populer atau banyak orang menyematkan kepopuleran dengan tempat itu sebagai titik kumpul yang populer. Orang yang saya jumpai cukup ramah, bercerita tentang kesibukannya yang akhir-akhir ini, termasuk menyelenggarakan kelas daring dengan topik kurang lebih tentang stratejik di masa pandemi, serta ide-ide yang sebaiknya dilakukan untuk menerobos celah sempit pandemi demi keberlangsungan bisnis. Saya serasa katak di bawah tempurung. Kadang kala pembicaraan semacam itu hanya ada di ruang diskusi para pengambil keputusan. sementara roda waktu berputar dengan teratur, harus ada keputusan besar yang harus diambil.

Saya menunaikan tugas yang dititipkan ke saya seraya meminta petugas toko mengabadikannya:

Saya memerhatikan sekeliling, ada dua orang perempuan di meja masing-masing yang asyik dengan kegiatannya: satu menghirup nikotin, dan satu asyik membaca novel. Saya berpikir kira kira apa yang membuat orang mau datang hingga sampai mengantre ke tempat ini, dan saya simpulkan: bukan kopi. Tetapi pemandangan aktivitas orang lain dan merk.

Sekilas saya teringat mengenal merk tempat ini, ketika awal-awal di Bandung. Sebagai tempat titik temu. Kebetulan memang, sofa yang empuk serta ruangan yang nyaman membuat mood lebih baik. Perjalanan waktu akhirnya tidak membuat saya memilih tempat itu menjadi suatu tempat perjumpaan baik bagi orang lain maupun buat diri saya sendiri. Mungkin klise, tapi saya tidak suka minum kopi dari gelas plastik. Masih ada faktor lain, baiknya akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

Urusan saya selesai. Nyamannya AC tidak membuat saya betah, saya pulang menerobos panas aspal. Saya bayar siang panas saya dengan 20 gram kopi dan 300 ml air panas:

Semoga saya bisa mengambil hikmah positif, biar nggak terlalu jadi orang pengeluh.

hongpimpa alaihong gambreng: “dari Tuhan kembali pada Tuhan, ayo bermain!”

Usia mungkin sudah setengah jalan, banyakin main, dibikin happy saja okay.

Adap atasi Kebiasaan Lama

Sedang menapaki kembali kebiasaan lama yang lama tidak dilakukan, yaitu meresensi buku. Di tengah-tengah waktu panggilan dadakan, undangan zoom meeting, webinar atau mendengarkan kursus daring, menyendiri dalam imajinasi bacaan sungguh menghibur.

Ditengah maraknya buat konten supaya eksis, saya tetap sambut positif. Berkarya itu tidak mudah, tapi sejatinya itu panggilan hakiki sebagai manusia. Harta yang- kalau tidak disebut paling- berharga adalah karya.

Buku pertama di tahun 2020 yang saya resensi adalah tempat terbaik di dunia, sebuah perjalanan kisah antropolog Roanne van Voorst ketika tinggal di kawasan kumuh di Jakarta. Karya bukunya merupakan hasil penelitian doktoral yang dikemas seperti membaca prosa. Jauh dari istilah akademis yang rumit, namun tetap segar dengan cukilan kondisi yang nyata dan selama ini tak terdengar oleh berita media.

Tempat Terbaik di Dunia: Roanne van Voorst

Semoga terus bisa menjaga konsistensi. Amin.

The road

Saya baru tahu ada hari ayah. Itupun karena perbincangan dengan rekan-rekan yang umumnya adalah ayah muda. Saya tidak menuduh bahwa perayaan itu seperti ikut-ikutan, namun tampaknya warga internet tidak begitu peduli dengan asal muasal suatu perayaan, karena lebih penting memajang foto (baik foto diri maupun foto duduk) dengan diberi judul yang hampir sama: Semoga….

Saya teringat dengan novel The Road, karangan Cormac McCarthy (2006) yang juga sudah difilmkan (2009) dengan judul yang sama. Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang ayah dan putranya. Tidak bernama. Perihal ibunya hanya sedikit diceritakan: meninggalkan pria dewasa itu dan anaknya. Mereka berjalan pada suatu kota yang tidak diberi nama dan keadaannya begitu hancur dan sepi ditinggalkan penduduknya. Mereka menyusuri kota dan masuk-keluar toko atau rumah yang mungkin menyisakan makanan. Novel ini begitu absurd karena dalam dialog mereka tidak menunjukkan perbedaan tokoh yang bicara. Hampir tidak ada tanda baca selain titik. Mereka mengusir kesepian dan kelaparan itu dengan bercakap-cakap, yang mungkin tujuannya mengulur waktu sampai hari terang tiba dan mereka berjalan lagi.

Mereka duduk berdampingan dan makan sekaleng pir. Lalu mereka makan sekaleng persik. Mereka menjilat sendok-sendok dan menumpahkan ke mangkuk dan minum sirup manis yang lezat dari kaleng itu. Mereka saling memandang.

Satu lagi.

Aku tak mau kau jadi sakit.

Aku takkan sakit.

Kau sudah lama tak makan.

Aku tahu.

Oke.

The Road. Cormac McCarthy

Konon Cormac McCarthy menulis novel itu dilatarbelakangi hubungannya yang mendalam dengan putranya, John – saat penulisan novel itu berusia 11 tahun – dari istri ketiganya, Jennifer. Mungkin ada analisis-atau apalah namanya kajian teori sastra, psikologi dan sebagainya yang membahas buku ini. Tetapi yang saya tangkap adalah betapa pelajaran empati dan harapan adalah modal dasar berharga yang diberikan ayah kepada putranya untuk bertahan hidup. Itulah warisan yang sejati.

Kembali ke soal gambar diatas? apa kaitannya? saya berefleksi bahwa pencarian kehidupan tak ubahnya seperti jalan. Dan di jalan banyak para ayah yang juga sedang bertaruh hidupnya. Saya melihat para pejuang di sekeliling saya yang setiap minggu berjuang pulang ke rumah atas jarak yang begitu jauh. Pergi minggu malam untuk pulang jumat malam -orang mengistilahkan PJKA, namun persepsinya menjadi keliru karena seharusnya pergi dimulai dari rumah-. Termasuk saya sendiri yang beberapa minggu ini menekuni sebagian jalan raya pos Daendels. Saya menghayati kehidupan jalanan sebagai cara bertahan hidup sembari melihat kejutan kecil dalam perjalanan itu.

Pada suatu masa, pastilah ada saat dimana melepas anak untuk menempuh hidup dan cita-citanya. Ada sebuah lagu berbahasa batak oleh seorang ayah kepada putranya, agar memiliki ketabahan karena itulah kunci berharga dalam hidup. Lagu ini berjudul Poda (Amsal/nasihat). Edo Kondologit menyanyikan dengan gaya khasnya, aslinya tidak seperti itu. Tadinya saya mau menyanyikan, tapi saya belum layak mood saya terganggu karena lapar yang sangat.

Saya buru-buru pulang.

New deal

Sekali-sekali sarapan berkualitas tinggi, biar kuat imunitas pikirannya. Tidak mudah lemah. Tan Malaka, nama yang nyaris terlupa. Memeringati hari lahirnya ke 123 tahun. Perihal new normal sudah dikemukakan Tan Malaka dalam tulisannya ini, dalam bahasanya: new deal, meski dalam konteks politik-ekonomi tahun 1946, nuansanya tetap sama dengan tahun 2020. Ia tidak menyukai glorifikasi negeri Eropa yang dalam pandangannya rakus dan egois, tetapi membela Asia Afrika yang dikangkangi Eropa. Ramalannya jitu, berdasarkan situasi politik saat itu, bandingkan dengan situasi sekarang. Stasiun Manggarai juga disebutkannya dalam tulisan ini, ketika ia melihat lokomotif tertulis AMSTERDAM, ternyata made in Manchester. Belanda pada dasarnya negeri pertanian yang saat itu memang berkepentingan berdagang hasil tani ke Eropa dengan menguasai tanah koloni dari hulu ke hilir. Ilmu Belanda di bidang industri, masih kalah di bawah Amerika atau Inggris. Indonesia, memang sengaja tidak diberi kesempatan untuk maju oleh Belanda. Bagaimana dengan saat ini, apakah kita bersepakat dengan new deal yang nyaris tidak memedulikan masa lalu?

Hari depan kita adalah bergantung kepada keadaan sekarang. Seterusnya pula, keadaan sekarang berseluk beluk dengan keadaan lampau.

Tan Malaka.

Merawat nalar

Baru sadar, resensi buku Ong Hok Ham yang saya buat dimuat di web penerbit Komunitas Bambu.

Ong Hok Ham adalah dosen jurusan Sejarah UI, skripsinya mengambil topik pergerakan Madiun 1948. Ia lulusan UI dan Harvard University, dikenal suka menulis kolom di Kompas atau Majalah Tempo. Honor menulisnya suka dipakai untuk menraktir atau membantu kawannya.

Sedih juga mendengar berita ada penerbit yang sudah merumahkan (baca: memecat) editornya, demikian juga toko buku fisik juga mungkin akan dikurangi. Saya teringat sekitar delapan tahun lalu saya mengunjungi kantor penerbit Komunitas Bambu di Depok, dan berdiskusi dengan bang JJ Rizal mengenai industri perbukuan. Pada masa itu sudah terjadi dominasi penerbit besar yang mapan dengan jalur distribusi kuat. Saya baru mengerti bahwa ada buku-buku yang diterbitkan, menjadi “sumber” kas bagi penerbit. Dan mirisnya, buku itu seperti buku “How to…….”, “tips untuk………” atau juga seperti novel remaja populer. Sesuatu yang dangkal, yang putarannya cepat menghasilkan sejumlah kas masuk. Mungkin realita itu masih terjadi hingga sekarang. Idealisme untuk menerbitkan/menerjemahkan buku berkualitas masih saya lihat di Komunitas Bambu sampai sekarang. Membaca buku berkualitas tinggi turut merawat nalar kita agar tetap sehat dan waras.

Terakhir, katakan tidak pada pembelian buku bajakan. Kita mencederai intelektualitas dan nalar sehat jika melakukannya.