Perikeayaman

kadangkala kita tidak hanya mementingkan perikemanusiaan. Tetapi juga perikehewanan. Ya iyalah, sama-sama makhluk hidup kok. Jangan karena kita mentang-mentang yang diberi mandat untuk mengatur hewan dan tumbuhan kita menjadi semena-mena. Tergelitik dengan pemandangan di jalan raya, saya menganggap si pengendara ini keterlaluan sekali membawa ayam-ayam ini. Walau ayam ini juga toh akan mati di rumah jagal, mbok ya sewaktu hidup diperlakukan secara hewanilah.

Lokasi: Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat

Duh abang……kasian ayamnya….

Indonesia baru hanya milik mereka?

Hari ini tanggal 8 April, ya..besok adalah pemlihan calon legislatif, yang sesungguhnya salah kaprah juga, karena ada juga pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang tentunya bukan legislatif (?) Correct Me If I Wrong.

Agak miris juga, sebab di lingkungan RT kami, tidak ada semacam sosialisasi kira-kira seperti apakah surat suara itu? apa dan siapa saja lambang serta namanya? Saya hanya memprediksi, bisa jadi pemilu tahun ini adalah pemilu yang tergagal sepanjang sejarah Indonesia, karena TIDAK SIAP!

Tidak siap pemilihnya
“Siapa yang saya pilih? trus bagaimana saya memilihnya? kok surat suaranya banyak dan lebar-lebar? ah…pusing ah…mending milih yang tadi bayar gua aja.”

“Ah..buat apa capek capek, negara ini tidak akan berubah kalau hanya memilih legisatif, yang penting mah birokrasinya lancar. Anggota DPR nggak bakalan mau tahu sampai sekarang ngurus KTP susahnya minta ampun. Bersih? peduli? Uhh omong kosong”

Tidak siap yang Dipilih
Tidak siap untuk kalah tentunya. Pemilu kali ini adalah pemilu terboros dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pertama, karena setiap calon terpilih bersaing dengan sesama calon terpilih dari dalam partainya sendiri dan dari luar partainya. Artinya, ongkos lebih gede untuk mensponsori kegiatan kampanyenya sendiri-sendiri, yang dia sendiri tidak dapat prediksi, apakah dia akan benar-benar terpilih atau tidak. Rumah sakit-rumah sakit telah disiapkan untuk mereka-mereka yang yang akan (berpotensi) gila.

Kedua, boros surat suara. KPU akan mencetak surat suara anggota DPR/DPRD yang terdiri dari logo partai serta nama calon terpilih. Hal  itu menyebabkan ongkos cetak naik karena luasnya kertas suara. otomatis ongkos melipat kertas, ongkos angkut, dan ongkos produksi meningkat tajam dibanding pemilu 5 tahun lalu. Sampai sekarang belum dirilis, berapa banyak sudah dana yang habis untuk penyelenggaraan (pesta demokrasi?) ini.

Lalu apa yang harus saya lakukan?
Perubahan bangsa ini bukan hanya terletak pada mereka (anggota dewan yang terhormat), tetapi yang paling besar adalah pada rakyatnya. keinginan untuk maju, serta memberikan karya terbaiknya bagi bangsa ini adalah bentuk patriotisme. Berkarya dalam bentuk seni, siapa bilang tidak ada faedahnya bagi negara kita ini? belajar dan bekerja keras untuk meraih satu kursi di olimpiade fisika atau beasiswa belajar ke luar negeri, siapa bilang tidak untuk Indonesia baru? Selamat berkarya dan selamat beraktivitas.

~helvry~


Selamat Hari Jumat

Selamat pagi.
Sebelum aku berangkat pagi ini, aku sempatin untuk menjenguk sebentar ke multiply. Maklum, sudah lama sekali tidak ditengokin. Sebelum posting ini, aku agak ubah sedikit settingan theme-nya, yah..dengan copy paste sedikit, background garis-garis putih yang dulu aku ilangin, trus kursor mouse-nya diganti dengan mawar dan piano (biar rada-rada terkesan berkelas musikal tinggi) hahaha.

Memang, disamping agak kehilangan waktu untuk posting, aku juga mengalami kendala koneksitas internet. Pinginnya sih punya modem mobile, shingga dimana saja nggak perlu terkendala, namun berhubung aku sudah langganan di rumah, niat itu dibatalkan saja. Soalnya nanti double costing padahal kepentingannya hanya untuk fun, hahahhaha.

Oklah..kalau tidak dipecahkan, nggak bakal pecah. Jadi, tunggu saja postinganku selanjutnya. otre…