Felix natalis

Tahun yang berulang, atau ulangan tahunan. Intinya adalah peringatan. Setiap peringatan sebaiknya adalah proses penambahan makna, sehingga tidak hanya peringatan masa lalu, tetapi juga persyukuran atas bertambahnya pemaknaan baru. Selamat ulang tahun Pak Jokowi dan Pak Jonan. Berkah Dalem, Deo gratias.

2106.2020

Staatsspoor- en Tramwegen

Masa pandemi, semasa belum bisa pergi dengan leluasa, tiada salahnya pergi jalan-jalan ke seluruh dunia dengan membaca buku. Gara-gara teman yang posting jualan buku kereta api bahasa belanda awal abad 20 dengan harga yang lumayan mahal πŸ™ Saya ketikkan judul bukunya di google, sembari mencoba peruntungan dan akhirnya saya tiba di koleksi digital Universitas Leiden (https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/). Buku itu ada disana. Sayangnya, buku itu tidak diberi akses. Ternyata perpustakaan digital Leiden, sangat luar biasa koleksinya terutama banyak foto-foto dengan kualitas gambar yang tinggi. Jadilah saya berjalan-jalan virtual ke masa hampir satu abad lalu, dan menemukan beberapa foto zaman dulu yang saya kenali.

Stasiun Bandung
Pintu Utara (1930)

Sedikit orang yang tahu, bahwa sesungguhnya pusat Stasiun Bandung ada di Jalan Stasiun Timur, bukan Jalan Kebon Kawung. Terlihat di gambar ini, ada tugu dan jalan lapangan yang begitu luas. Tampaknya mustahil mewujudkan kembali suasana sini, meski sekarang sudah dilakukan pengaspalan dan perbaikan saluran air. Tempat parkir serta banyaknya ojek online yang nongkrong membuat situasinya semrawut. Sekitar tahun 2016 dilakukan penertiban di seberang gedung stasiun, awalnya sudah menunjukkan adanya perbaikan namun tampaknya…….

Jembatan Kereta Api Yogyakarta (1930)

Pengetahuan mata angin saya yang lemah, tidak dapat mendeteksi mana timur mana barat. Apalagi kota seperti di Jogja, tidak menguasai mata angin, bersiap-siaplah………nanya. Jembatan ini merupakan penghubung jalan rel yang melintasi Kali Code. Tampaknya jalan rel yang ke kanan menuju Stasiun Tugu sedangkan yang ke kiri menuju Stasiun Lempuyangan.

Jembatan Nagrak – Lebakjero (1930)

Jawa Barat terkenal karena keindahan alamnya. Salah satu jembatan eksotis yaitu jembatan ini, yang terletak di jalur antara Lebak Jero – Nagrak, perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kecamatan Kadungora, Garut. Pemandangan dari atas kereta sewaktu melintas jembatan ini sungguh memesona. Terlihat gunung dan rumah-rumah serta pepohonan yang masih banyak. Kalau nggak kuat, jangan lihat ke bawah. Dan hanya orang terlatih yang bisa berjalan di jembatannya. Sampai sekarang jembatan baja yang berusia seabad ini masih berfungsi baik.

Sekian jalan-jalan edisi kali ini. Semoga Pemustaka Universitas Leiden diberikan kemurahan hati untuk memberi akses pada dokumentasi digital lainnya.

Menjadi sehat

Seminggu kemarin saya berhadapan dengan situasi seperti ini:

Pertama, akhirnya setelah tiga hari menahan sakitnya menelan, saya datang ke klinik kantor, saat masuk ke ruang tunggu, tetiba saya teringat tahun lalu ke tempat ini untuk secarik surat tanda kesehatan sebagai syarat mengikuti short course – yang akhirnya gagal ituβ€”

Kedua, sesudah jam kantor, saya beberes akan pulang, tetiba mendapat kabar bahwa ibu K, rekan seruangan baru saja jatuh dari sepeda motor setelah presensi pulang. Penyebabnya disinyalir tidak waspada ketika datang kendaraan roda empat dari arah berlawanan saat tikungan. Alhasil  ia mengalami memar dan luka ringan. Namun tampaknya tidak sesederhana itu. Klinik kantor menyarankan agar dirujuk ke rumah sakit. Kuatir terjadi hal-hal yang serius. Saya bertugas mengantar pulang motornya ke kantor, sedangkan rekan saya yang lain mengantar ke klinik hingga ke rumah sakit. Selesai pkl 21.

Ketiga, seperti biasa setiap saban jumat. Saya sudah di di kereta Argo Parahyangan beroleh kabar, bahwa pak BG baru saja diantar oleh ambulan klinik kantor ke rumah sakit. Seharian ia tidak masuk karena merasa perutnya sakit. Ternyata di mess-nya ia sampai pingsan, untungnya istri dan anaknya sudah datang. Menurut dokter, ternyata ia didiagnosis usus buntu dan keesokan harinya langsung diambil tindakan. Saat ini ia dalam proses pemulihan.

Saya merenungkan pengalaman saya berhadapan dengan rumah sakit. Hal yang umum dirasakan adalah ketidakpastian dalam menunggu. Pasien seolah warga kelas nomor sekian, meskipun berasuransi kesehatan komersial. Saya jadi berpikir, apakah saya nantinya akan dilarang untuk sakit? Apakah fasilitas kenyamanan dalam beroleh jasa kesehatan jika dan hanya jika saya Bersama dengan keluarga paramedis/dokter atau saya harus kondisi super kaya raya? Entahlah, yang jelas saya tidak mau berlama-lama mual membayangkan hal itu, terlebih sudah sekian butir entrostop saya makan.