Gubeng

Suara palu memelan, suara sirine memanggil takzim para kerani dan pegiat logam besi. Barangkali kudapan dan kopi hangat sudah menanti di rumah, sembari mendengar berita hujan di bulan desember. Betapa nikmatnya kesusahan yang selesai sehari.

Wahai yang masih menunggu pagebluk reda, sabarkan dan kuatkan. Kesusahan ini akan nikmat.

Pada waktunya.

Pekerja

karena sesungguhnya tiada pekerjaan yang benar-benar selesai, karena itu memutuskan beristirahat lebih baik alih-alih berdalih menyelesaikan pekerjaan.

Nak, ingatlah. Milikilah semangat. Itulah yang membuatmu hidup. Milikilah harapan, itulah yang membuatmu semangat. Hidup itu bekerja. tak usah lagi kau termakan kata-kata orang pintar, ingatlah apa kata Rumi, bahwa antara kau dan segalanya ada jembatan yang dinamakan cinta. Hiduplah dengan cinta.

Jalan sekarang masih panjang, tetapi masa semakin sulit. Kita bertarung setiap hari dalam kesunyian. Sesungguhnya saat ini hanyalah bertahan. Pertahanan yang baik adalah bertahan. Tetapi, jangan padamkan api cinta. Ingatlah kebaikanNya dalam perjalanan sunyimu.

Syukur atas kecukupan dan kasihMu penuh. Syukur atas pekerjaan walau tubuhpun lemban. Syukur atas awan hitam dan mentari berseri. Syukur atas suka duka yang Kau beri tiap saat.

Small things

Be faithful in small things because it is in them that your strength lies.

Mother Teresa

Demikian Bunda Teresa mengatakan, apa yang dikatakannya terlihat dari hasil pekerjaannya. Lalu, bagian kecil mana yang bisa saya lakukan? semoga bukan main medsos. Bagian yang saya suka lakukan di kala masih kecil adalah jalan di rel. Setiap minggu kalau mau ke gereja, lebih cepat jalan melalui rel kereta dari belakang rumah Ompung. Kalau melewati jalan besar, terlalu jauh memutar dan memang harus naik becak. Hal lumrah pemandangan di sisi kanan kiri rel adalah kandang babi. Wanginya cukup menembus tiga lapis masker. Ketika menyusuri rel itu dalam Perjalanan dari stasiun Medan ke Stasiun Kualanamu, saya mengingat kembali perjalanan kecil saya kala itu mengepaskan penjejakan kaki ke bantalan kayu.

Perjalanan waktu membawa saya menyusuri rel-rel di tempat lain, yang bahkan tidak pernah saya duga. Termasuk pada gambar di atas, Stasiun Martapura di bagian selatan Pulau Sumatera. Jika menyusuri rel, Bedanya semarang harus mengenakan rompi keselamatan dan harus memperoleh izin dari petugas.

Tapi dulu happy-happy aja, karena masih kecil. Sekarang baru tahu bahaya. Dulu kagak.

Lalu apa hubungannya dengan kutipan Bunda Teresa di atas? Tidak terlalu ada, tapi sambil saya tuliskan ini, saya meresapinya.

Staatsspoor- en Tramwegen

Masa pandemi, semasa belum bisa pergi dengan leluasa, tiada salahnya pergi jalan-jalan ke seluruh dunia dengan membaca buku. Gara-gara teman yang posting jualan buku kereta api bahasa belanda awal abad 20 dengan harga yang lumayan mahal 🙁 Saya ketikkan judul bukunya di google, sembari mencoba peruntungan dan akhirnya saya tiba di koleksi digital Universitas Leiden (https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/). Buku itu ada disana. Sayangnya, buku itu tidak diberi akses. Ternyata perpustakaan digital Leiden, sangat luar biasa koleksinya terutama banyak foto-foto dengan kualitas gambar yang tinggi. Jadilah saya berjalan-jalan virtual ke masa hampir satu abad lalu, dan menemukan beberapa foto zaman dulu yang saya kenali.

Stasiun Bandung
Pintu Utara (1930)

Sedikit orang yang tahu, bahwa sesungguhnya pusat Stasiun Bandung ada di Jalan Stasiun Timur, bukan Jalan Kebon Kawung. Terlihat di gambar ini, ada tugu dan jalan lapangan yang begitu luas. Tampaknya mustahil mewujudkan kembali suasana sini, meski sekarang sudah dilakukan pengaspalan dan perbaikan saluran air. Tempat parkir serta banyaknya ojek online yang nongkrong membuat situasinya semrawut. Sekitar tahun 2016 dilakukan penertiban di seberang gedung stasiun, awalnya sudah menunjukkan adanya perbaikan namun tampaknya…….

Jembatan Kereta Api Yogyakarta (1930)

Pengetahuan mata angin saya yang lemah, tidak dapat mendeteksi mana timur mana barat. Apalagi kota seperti di Jogja, tidak menguasai mata angin, bersiap-siaplah………nanya. Jembatan ini merupakan penghubung jalan rel yang melintasi Kali Code. Tampaknya jalan rel yang ke kanan menuju Stasiun Tugu sedangkan yang ke kiri menuju Stasiun Lempuyangan.

Jembatan Nagrak – Lebakjero (1930)

Jawa Barat terkenal karena keindahan alamnya. Salah satu jembatan eksotis yaitu jembatan ini, yang terletak di jalur antara Lebak Jero – Nagrak, perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kecamatan Kadungora, Garut. Pemandangan dari atas kereta sewaktu melintas jembatan ini sungguh memesona. Terlihat gunung dan rumah-rumah serta pepohonan yang masih banyak. Kalau nggak kuat, jangan lihat ke bawah. Dan hanya orang terlatih yang bisa berjalan di jembatannya. Sampai sekarang jembatan baja yang berusia seabad ini masih berfungsi baik.

Sekian jalan-jalan edisi kali ini. Semoga Pemustaka Universitas Leiden diberikan kemurahan hati untuk memberi akses pada dokumentasi digital lainnya.

Damai BersamaMu: Sebuah Refleksi

Berjumpa lagi dalam ruang maya
kini memasuki bulan puasa

Tak kuasa juga saya menahan haru, tatkala menyaksikan ruang yang kosong. Salah satu sudutnya adalah meja saya yang menjadi saksi tempat berkumpul saya dan teman-teman untuk melakukan ritual sebelum bekerja: Ngopi.

Menggiling kopi yang dibawa bergantian saya, Bisma, dan Om Taofik. Memfilter kopinya, lalu membaginya ke cawan masing-masing, menyesapnya sembari menertawakan hal-hal remeh -namun sekarang mahal-.

Sekarang kami berjumpa dalam layar kaca 360×640 atau 1024 x 760 secara dua dimensi. Dimanakah realitas dunia sesungguhnya, karena kita telah akrab dengan realitas pada gawai. Pertanyaannnya, apakah tercipta kedamaian berdasarkan jarak? suatu telaahan boleh terlahir dari sini.

Dalam proyek kolaborasi ini, kembali menyiarkan kerinduan akan kedamaian. Tidak rusuh, tidak ada berita duka. Namun begitulah kehidupan. Kehidupanpun seperti piano, kata orang bijak. Manakala kita mainkan tuts putih, mengingatkan kita pada kenangan manis, kenangan indah. Ketika kita mainkan tuts hitam, mengingatkan kita pada kenangan sedih, kenangan akan kecemasan dan kekuatiran. Namun bermain tuts putih dan tuts hitam menghasilkan musik yang indah. Nada-nada minorpun menjadikan lagu indah, sendu, haru. Nada mayor menggambarkan optimisme, semangat, antusiasme. Bukankah hidup juga berjalan seperti itu?

Damai bersamaMu. Akhirnya kita sadar pada siapa kita berlabuh. Di tengah dunia yang hiper-realis saat ini, kita sulit membedakan mana yang palsu mana yang tulus. Dalam kondisi sebelum pandemik ini saja sulit membedakannya, apalagi situasi sekarang ini. Bagaimana kita mengetahui ketulusan seseorang dari fotonya, suara, teks, dalam ruang-ruang virtual. Bagaimana cara kita mengetahui kedewasaan dan empati dari sekedar teks? entahkah teks itu asli atau salinan dari tempat yang entah berantah.

Namun lirik lagu ini mengajar optimisme, bahwa ada tempat bersandar di kala lelah. Ada tempat persembunyian dari hiruk-pikuk urusan dunia. Lewat lagu, menjadi duta damai.

Proses pembuatan videoklip ini sangat luarbiasa, proyek kolaborasi yang berjarak sosial. Terhubung dengan media percakapan, ide Pak Karim dan diaransemen oleh Pak Budiman dan disunting oleh Megi. Sungguh sebuah karya yang tidak hanya kata. Terima kasih teman-teman: Rida, Billy, Dini, Monica, Rano, Daniel, Ari, Adin, Om Taofik, Itep, Rizky, Alwy, Lae Angga, Agung, Yansen, Irfan, dan Mega. Pembuatan video ini mengajarkan saya banyak hal, termasuk patuh pada aturan nada dasar, supaya tak menjadi lagu sumbang. Selamat menikmati, semoga terhibur. Selamat memasuki bulan suci Ramadan.

Pax vobiscum

HWS23042020

cerita sore

sore tadi

perjalanan pulang

bertukar kisah

tentang tugas-tugas

tidur berjam-jam di kursi kereta

tentang rencana bekerja di lain kota

kami singgah sebentar di toko yogya

sekedar melapis perut yang tidak rata

kembali roda besi membawa

kisah-kisah baru dan cerita lama

bahwa dulu

perjalanan ke stasiun

tak sekedar berjumpa.

Dari pinggir jalan


Nak,

Jangan takut dan tawar hati
tahun-tahunmu masih panjang
selamat memasuki tahun baru

kau akan menghadapi duka yang sama
jalan yang lebih menanjak
luka dan airmata akan menyertai perjalananmu
berjalanlah lebih jauh
tak perlu takut jatuh

itulah hakikat perjalananmu:
berjuang untuk hidup

dari pinggir jalan ini
satu hal yang kau ingat:
aku mengasihimu.