
Seringkali, ruang rapat berubah menjadi panggung teater. Lampu diredupkan, cahaya proyektor menyorot ke layar, dan sang presenter mulai merapalkan “mantra-mantra” korporat. Tiba-tiba, ruangan dipenuhi oleh kata-kata yang terdengar canggih, mengilap, dan seolah-olah mengandung kebijaksanaan tingkat tinggi.
Saya sering mengamati fenomena ini. Penggunaan jargon seringkali bukan untuk memperjelas, melainkan untuk terlihat pintar, atau lebih parahnya, untuk menyembunyikan ketidaktahuan akan realitas di lapangan.
Mari kita bedah tiga mantra favorit:
Pertama, “Frontliner”. Kata ini terdengar heroik. “Kita harus memberdayakan frontliner kita.” Tapi ironisnya, si pengucap kalimat ini mungkin belum pernah sekali pun duduk di stasiun, menghadapi penumpang yang marah karena kereta terlambat, atau merasakan debu dan hujan di lapangan. Frontliner seringkali hanya menjadi objek diskusi, bukan subjek yang didengar suaranya.

Kedua, “In-line”. “Pastikan program ini in-line dengan visi 2030.” Terdengar rapi, seperti barisan tentara. Padahal realitas bisnis itu berantakan, penuh belokan tajam, dan jarang sekali lurus linear. Memaksakan segala sesuatu untuk in-line di atas kertas seringkali berarti mengabaikan kenyataan di lapangan yang kompleks. Padahal, memaksakan rencana tanpa realita adalah petaka.

Ketiga, cukup sering: “Align”. “Kita perlu meeting lagi supaya kita align.” Kata ini seringkali menjadi penghalus untuk: “Saya ingin memastikan kamu setuju dengan saya tanpa banyak bantahan.” Banyak orang keluar dari ruang rapat merasa sudah align, tapi begitu sampai di meja kerja masing-masing, lupa tadi maksudnya apa.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bersembunyi di balik kata-kata keren yang tidak kita jiwai maknanya. Daripada sibuk terlihat canggih di presentasi, lebih baik kita sibuk memastikan bahwa apa yang kita ucapkan benar-benar bisa dirasakan dampaknya oleh mereka yang bekerja di dunia nyata, bukan cuma di dunia PPT.
Selamat meng-alien-kan diri.