Dalam hukum, kita mengenal istilah “Mens Rea”—niat jahat atau pikiran yang bersalah. Seseorang baru bisa dinyatakan bersalah jika tindakannya dibarengi dengan niat untuk berbuat jahat.
Di dalam gerbong KRL yang sesak, saat bahu bertabrakan, saat tas seseorang menghantam rusuk kita, atau saat ada tangan yang terasa terlalu dekat dengan celana, sempatkah kita berpikir apakah ini murni ketidaksengajaan karena himpitan, atau ada “Mens Rea” di baliknya?
Di tengah kecurigaan yang melelahkan itu, kita tetap mencoba memegang teguh “etika publik”. Mengantre, menjaga ketertiban, tidak menyerobot, dan mendahulukan yang butuh kursi prioritas. Kita sepakat bahwa tertib adalah harga mati untuk disebut sebagai masyarakat kota yang maju dan beradab.

Namun, di suatu jam pulang kantor yang padat, di jalur Bogor yang penuh peluh, “analisis” saya tentang niat manusia seketika runtuh.
Karena posisi berdiri yang sangat rapat, mata saya tak sengaja menangkap layar ponsel seorang bapak tepat di depan saya. Di atas layar yang retak itu, ia sedang mengetik pesan untuk istrinya:
“Sayang, aku lapar. Ada nasi kita?”
Tak lama, balasan muncul:
“Nggak ada, sayang, beras habis.
Siang tadi.”
Saya segera mengalihkan pandangan, merasa bersalah telah mengintip ruang privat seseorang.
Ternyata, dibalik mereka yang tidak sabar saat mengantre atau mereka yang menyerbu” masuk di Stasiun Manggarai, saya ditunjukkan bahwa ada jenis “niat” lain yang sedang berkecamuk di antara desakan di gerbong.
Bukan Mens Rea atau niat jahat, melainkan niat pulang dan keinginan disambut sepiring nasi hangat.


Kita menghabiskan banyak energi untuk membangun peradaban kota lewat sistem transportasi yang modern, membanggakan kota yang berisi warga yang tertib dan taat aturan.
Namun, di samping bahu yang berimpitan, ada urusan perut yang merupakan urusan paling privat dan brutal. Sebuah pergumulan yang tak otomatis selesai hanya karena kita berhasil menge-tap kartu di gerbang keluar stasiun.