Minggu lalu saat libur lebaran, Pagi itu ketika langkah kaki saya menyusuri selasar Universitas Kristen Satya Wacana atau UKSW, suasana kampus yang asri dan tenang seolah memeluk batin saya. Di sana, tepat di depan salah satu gedung kuliah, terpahat sebuah kalimat dalam fon yang tegas dan mencolok.
Sebuah pengingat yang diletakkan sedemikian rupa agar setiap orang yang lewat selalu melihatnya: “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”
Menemukan kalimat ini di sebuah institusi pendidikan tinggi memberikan resonansi yang sangat dalam. Di tempat di mana intelektualitas dipuja, tulisan itu hadir sebagai jangkar. Ia seolah berbisik bahwa setinggi apa pun gelar yang kita raih atau sejauh apa pun strategi yang kita susun, semuanya akan kehilangan arah jika tidak dimulai dari satu titik koordinat yang tepat yaitu rasa hormat yang kudus kepada Sang Pencipta.


Sayangnya, kita sering melihat realitas yang kontras hari ini. Betapa banyak pengetahuan yang kita miliki justru tidak menjadi “berbunga” karena ia tidak lagi bertujuan untuk menjadikan dunia lebih baik.
Pengetahuan sering kali hanya digunakan untuk memuaskan hawa nafsu sendiri atau menjadi alat bagi para penguasa untuk melanggengkan dominasinya. Pengetahuan tanpa hikmat Tuhan hanyalah tumpukan informasi yang gersang dan tidak membawa kehidupan.
Selain itu, ada satu penyakit batin yang sering menjangkiti kita: mengabaikan didikan karena merasa sudah lebih tahu, lebih tua, atau lebih senior. Padahal, bukankah belajar itu adalah sebuah panggilan sepanjang hayat? Gelar dan usia bukanlah tanda bahwa kita sudah selesai belajar, melainkan tanggung jawab untuk terus membuka diri terhadap kebenaran yang baru.
Dalam hidup yang saya jalani sekarang, ayat dari Amsal 1:7 ini menjadi pengingat yang telak bagi saya:
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”
Sering kali bertambahnya pengetahuan membuat manusia cenderung menjadi sombong. Kita merasa sudah menguasai keadaan dan perlahan lahan mulai menggeser peran Tuhan dengan kalkulasi kita sendiri.
Namun masa Prapaskah mengajak kita untuk menjauhkan kesombongan itu. Kesombongan intelektual harus dipatahkan di masa ini. Pengetahuan yang sejati seharusnya tidak membuat kepala kita mendongak tinggi, melainkan membuat lutut kita bertelut rendah hati.
Di sisa masa Prapaskah ini, mari kita periksa kembali fondasi pemikiran kita. Apakah kita sedang membangun menara Babel kesombongan dengan kecerdasan kita? Ataukah kita sedang membangun altar penyembahan?
Orang yang paling berpengetahuan bukanlah ia yang paling banyak membaca buku, melainkan ia yang paling sadar betapa kecilnya dirinya di hadapan kemegahan Tuhan.
Sebagai penutup refleksi hari ini, mari kita ingat sebuah ungkapan Latin yang juga menjadi dasar dari ayat tersebut:
INITIUM SAPIENTIAE TIMOR DOMINI
Maknanya adalah “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.” Hikmat lebih dalam dari sekadar tahu. Hikmat adalah tahu bagaimana harus bersikap di hadapan kebenaran.
Semoga Prapaskah ini menelanjangi kesombongan intelektual kita dan menggantinya dengan hati yang penuh takjub serta haus akan didikan Nya.
Selamat merenung dan terus menjadi peziarah yang rendah hati.

