40 Hari Mencari Makna #18 Pertobatan Ekologis

Saya sempat tersentak ketika mendengar istilah “pertobatan ekologis” dalam sebuah program di gereja kami. Bagi saya, penggunaan istilah itu sangat dalam maknanya. Pertobatan biasanya dikaitkan dengan urusan moral pribadi atau relasi vertikal dengan Tuhan, namun kali ini ia ditarik ke ranah lingkungan. Ini adalah pengakuan bahwa cara kita memperlakukan bumi adalah cerminan dari kondisi batin kita.

Sayangnya, isu memelihara bumi ini memang jarang sekali dibicarakan atau dikhotbahkan di mimbar mimbar. Entah kenapa kita seolah abai, padahal situasi bumi sedang sangat mengkhawatirkan. Bencana alam yang baru baru ini menimpa saudara saudara di Sumatra Utara dan Aceh bukanlah sekadar “takdir” yang jatuh dari langit. Itu adalah buah pahit dari keserakahan ekologis yang sudah dipupuk selama bertahun tahun. Hutan yang gundul dan alam yang diperkosa demi keuntungan sesaat akhirnya menagih utangnya melalui banjir dan longsor.

Namun, sebelum kita menunjuk hidung para perusak hutan, mari kita periksa diri sendiri. Kita sering menumpuk kebiasaan yang merugikan sumber daya alam tanpa merasa berdosa. Membiarkan lampu menyala saat ruangan kosong, boros menggunakan bbm kendaraan untuk jarak dekat, hingga pemborosan air yang dianggap remeh.

Satu hal yang paling sering saya lihat adalah kebiasaan tidak menghabiskan makanan. Hal ini sering terjadi dalam acara kumpul keluarga atau jamuan bersama. Kita sering membeli makanan secara berlebih dengan alasan “takut kurang” atau demi gengsi agar jamuan terlihat melimpah. Akhirnya, piring piring yang masih penuh itu hanya berakhir di tempat sampah. Ini adalah ironi yang menyakitkan di tengah dunia yang banyak orang masih kelaparan.

Masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki ini. Hakikat Prapaskah adalah menahan hawa nafsu dan belajar mencukupkan diri. Jika kita bisa menahan lapar saat berpuasa, seharusnya kita juga bisa menahan nafsu untuk mengonsumsi sumber daya secara berlebihan. Belajar merasa “cukup” adalah bentuk matiraga yang sangat relevan di zaman ini.

Kita perlu kembali ke panggilan dasar manusia untuk merawat alam. Ini bukan sekadar gerakan lingkungan hidup, melainkan mandat ilahi. Seperti yang tertulis dalam Kejadian 2:15:

 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Tugas kita adalah memelihara, bukan menguras habis. Hal sederhana seperti mematikan satu saklar lampu yang tidak perlu atau menghabiskan butir nasi terakhir di piring adalah awal dari sebuah perubahan besar. Percayalah, jika kita konsisten memperbaiki kebiasaan kecil ini, kita akan mulai melihat dunia dan bumi dengan cara yang berbeda, sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Dalam tradisi Latin, ada sebuah ungkapan yang sangat pas untuk mengingatkan kita pada tanggung jawab ini:

TERRA NON EST NOSTRA, SED FILIORUM NOSTRORUM

Maknanya adalah “Bumi ini bukan milik kita, melainkan milik anak cucu kita.” 

Kita hanyalah penghuni yang dititipkan rumah oleh Sang Pemilik. Jangan sampai saat kita pergi nanti, kita meninggalkan rumah yang sudah hancur lebur bagi generasi setelah kita.

Selamat melakukan pertobatan ekologis. Mari kita mulai dari hal hal kecil di rumah kita sendiri, karena keselamatan bumi dimulai dari kesadaran hati yang merasa cukup.