Di tengah keriuhan kantor saat momen Lebaran tiba, kita sering terjebak dalam sebuah ritme yang sangat mekanis. Ada sesi bersalaman beramai ramai, ada pesan teks yang dikirim secara masal ke ratusan kontak, atau unggahan foto dengan takarir manis di media sosial. Kalimat “Mohon maaf lahir dan batin” meluncur begitu saja, seolah menjadi prosedur tetap tahunan yang wajib diselesaikan agar hubungan sosial tetap terjaga.
Namun, di sela sela jabat tangan yang erat dan senyum yang tersimpul, sering kali muncul sebuah keraguan yang mengusik batin kita. Apakah jabat tangan ini benar benar sudah menghapus luka yang pernah ada? Apakah pesan singkat itu sudah mewakili perdamaian yang sesungguhnya, atau jangan jangan itu hanyalah upaya “kelahiran” saja supaya kita tidak dicap sombong?

Tentu saja, hanya hati kita masing masing yang sanggup memberikan jawaban yang paling jujur.
Inilah yang Disebut: Dilema “Lahir” dan “Batin”
Memaafkan secara Lahir memang jauh lebih praktis:
– Mengirimkan kartu ucapan atau parsel.
– Membalas pesan WhatsApp dengan kalimat yang seragam.
– Tersenyum lebar saat sesi foto bersama rekan kerja.
Tetapi memaafkan secara Batin adalah sebuah perjuangan sunyi:
– Melepaskan ganjalan rasa saat melihat wajah orang yang pernah meremehkan kita.
– Menghapus catatan dendam yang selama ini tersimpan rapi di ingatan.
– Mendoakan kebaikan bagi mereka yang bahkan tidak merasa bersalah kepada kita.

Dalam peziarahan Prapaskah ini, kita diingatkan bahwa ritual tanpa esensi batin hanyalah sebuah panggung sandiwara. Prapaskah mengajak kita untuk melampaui apa yang terlihat oleh mata manusia dan masuk ke dalam hati yang paling dalam.
Tuhan tidak pernah terpukau oleh seberapa fasih lidah kita berucap maaf jika batin kita masih menggenggam kepahitan. Hal ini diingatkan secara tajam dalam 1 Samuel 16:7:
“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Ritual kantor atau pesan teks mungkin bisa memuaskan pandangan manusia, namun hanya kejujuran batinlah yang mampu memuaskan pandangan Tuhan.
Pengampunan yang sejati adalah ketika “lahir” dan “batin” berjalan beriringan tanpa ada kepura-puraan di antaranya. Dalam khazanah Latin, terdapat sebuah ungkapan yang sangat indah untuk merangkum hal ini:
COR AD COR LOQUITUR
Maknanya adalah “Hati berbicara kepada hati.” Pengampunan yang tuntas tidak terjadi di layar ponsel atau di kerumunan aula kantor, melainkan dalam pertemuan antara hati yang satu dengan hati yang lain. Ia adalah komunikasi spiritual yang melampaui kata kata, sebuah kejujuran yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Sang Pencipta.
Mari kita gunakan sisa masa Prapaskah ini untuk memastikan bahwa setiap “maaf” yang kita ucapkan secara lahir, telah benar benar menemukan akarnya di dalam batin. Biarkan hati kita yang menjawab, dan biarkan jawaban itu membawa kedamaian yang sejati.
Selamat melanjutkan ziarah batin dengan hati yang makin jernih.