40 Hari Mencari Makna #20 Tetelestai – Sudah Selesai

Di tengah kegelapan yang menyelimuti Golgota, saat napas terakhir hampir terlepas, Yesus tidak mengeluarkan rintihan kekalahan. Ia justru menyerukan sebuah kalimat pendek yang mengguncang sejarah batin manusia: “Sudah Selesai.”

Suasana saat itu begitu mencekam. Langit yang seharusnya terang di tengah hari justru berubah menjadi kelam pekat seolah alam semesta sedang menahan napas. Bumi berguncang, bukit batu terbelah, dan tirai Bait Suci robek menjadi dua. Ada rasa ngeri yang merambat di antara kerumunan orang yang sebelumnya bersorak sorai mengejek. Kesunyian yang berat menyusul setelah teriakan kemenangan itu dilepaskan.

Dalam teks asli bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “Tetelestai” (Τετέλεσται). Kata ini memiliki bobot yang sangat dalam karena sering digunakan dalam tiga konteks kehidupan masyarakat saat itu:

– Ketika sebuah utang telah lunas dibayar, sang penagih akan menuliskan kata Tetelestai di atas dokumen utang tersebut, yang berarti “Lunas Dibayar”.

– Saat seorang imam memeriksa hewan kurban dan mendapati bahwa hewan itu sempurna tanpa cacat, ia akan berkata Tetelestai yang berarti “Sempurna”.

– Ketika seorang hamba telah menyelesaikan tugas berat yang diberikan tuannya, ia akan melapor dengan kata Tetelestai yang berarti “Tugas Telah Dilaksanakan sepenuhnya”.

Jadi, saat Yesus mengucapkannya, Ia sedang memproklamirkan bahwa misi penyelamatan Nya telah mencapai garis finis dengan sempurna.

Kalimat “Tetelestai” atau “Sudah Selesai” adalah garis batas yang sangat tegas. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala Nya dan menyerahkan nyawa Nya. (Yohanes 19:30)

Di satu sisi, perjalanan hidup Yesus di dunia sebagai manusia secara fisik memang selesai. Masa pelayananNya, penderitaan Nya, dan segala caci maki yang diterima Nya telah mencapai garis finis. Namun, di sisi yang lain, justru di detik itulah perjalanan keselamatan manusia dimulai.

Pelajaran terbesar bagi kita adalah Kepastian. Sering kali dalam hidup, kita masih merasa perlu “menambahkan” sesuatu agar Tuhan mengasihi kita. Kita terjebak dalam rasa bersalah yang berkepanjangan atau merasa harus melakukan matiraga yang ekstrem untuk menarik perhatian Tuhan.

Namun, Tetelestai mengingatkan kita bahwa keselamatan bukan tentang apa yang kita kerjakan, melainkan tentang apa yang sudah Kristus kerjakan. Tugas kita bukan lagi mencoba menyelamatkan diri sendiri, melainkan hidup dalam ucapan syukur atas keselamatan yang sudah tuntas itu.

Kematian Nya bukanlah titik akhir, melainkan gerbang pembuka bagi era anugerah. Utang dosa lunas dibayar, sekat pemisah dengan Allah runtuh, dan jalan menuju kekekalan kini terbuka lebar bagi siapa saja yang percaya.

Dalam tradisi Latin, momen transisi ini dapat digambarkan dengan pepatah:

MORS JANUA VITAE

“Kematian adalah gerbang menuju kehidupan.” 

Prapaskah mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup kita yang baru dimulai dari kematianNya. Kita tidak lagi berjalan dalam ketakutan akan penghukuman, melainkan berjalan dalam terang keselamatan yang sudah tuntas dikerjakan.

Mari kita berdiam sejenak di depan salib Nya. Rasakan beratnya tubuh yang diturunkan itu sebagai pengingat betapa mahalnya harga kebebasan kita. Hidup Nya selesai agar hidup kita memiliki arti yang baru selamanya