Pagi ini kami berdiri dengan latar belakang Gunung Merbabu yang menjulang megah, seperti yang terlihat dalam foto ladang dan gunung yang saya abadikan. Pemandangan itu begitu sempurna hampir terasa seperti lukisan yang sengaja disiapkan Tuhan untuk kami berfoto. Semalam kami memang memutuskan untuk mendirikan tenda di sekitar area kemah Taman Nasional Gunung Merbabu bersama keluarga Kak Ester.

Perjalanan ini adalah kelanjutan momen mudik kami setelah sebelumnya menginap dua malam di Salatiga. Pagi ini, saya, Bang Ronald, Kak Ester, dan Didi, melangkah jalan pagi, keluar dari tenda. Namun kejutan terbesar hari ini bukanlah kemegahan Merbabu melainkan sebuah pertemuan tak terduga yang terjadi tak lama setelah kami mulai melangkah. Di jalan kecil, kami berpapasan dengan seorang bapak berkaus oranye yang sedang sibuk memikul rumput untuk sapi dan kambing peliharaannya, memperlihatkan betapa tegap bapak berusia delapan puluh tahun ini. Namanya Pak Budi Wiyanto.

Pak Budi yang menyadari logat bicara kami berbeda dengan logat setempat menyapa kami dengan ramah. Dalam obrolan singkat itu ia bercerita dengan penuh semangat. Ia berkali kali menyebutkan kebanggaannya bahwa anak anaknya ada yang bekerja di Cimanggis, di Batam, dan keluarga mereka bukanlah orang sembarangan. Wajah keriputnya tampak gembira saat menceritakan kesuksesan anak anaknya itu.
Hati kami tersentuh mendengar ketulusannya. Kak Ester kemudian tergerak untuk mendoakan keselamatan dan kesehatan Pak Budi. Maka terjadilah momen yang luar biasa itu di jalan tanah yang sempit dan sepi. Kami semua menundukkan kepala dan Kak Ester memimpin doa untuk Pak Budi di antara kami.
Ternyata keajaiban pertemuan ini tidak berhenti di situ. Setelah Kak Ester menyelesaikan doanya, Pak Budi, yang mungkin belum pernah kami temui sebelumnya, membalas kebaikan kami dengan cara yang paling mengejutkan dan merendahkan diri. Bapak tua itu bersujud ke tanah, merendahkan dirinya sepenuhnya di hadapan Pencipta, dan mendoakan kami semua dengan sangat tulus. Dalam doanya yang sederhana ia terus menerus bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan dipertemukan dengan kami. Ia berkali kali mengucapkan terima kasih dalam doanya seraya memohon berkat kesehatan dan perlindungan bagi perjalanan kami.
Kerendahan hatinya begitu terasa dalam setiap kata yang diucapkannya.
Ketika Pak Budi mengakhiri doanya dengan kata amin, kami semua tersentak. Tanpa kami sadari ternyata sudah ada tiga orang warga lainnya yang bergabung berdiri diam di sekitar kami. Mereka ikut menundukkan kepala mendoakan kami karena melihat Pak Budi sedang didoakan. Dua orang di antaranya ternyata satu persekutuan gereja yang sama dengan Kak Ester.
Bahkan kebaikan itu terus mengalir. Ibu Tumini dan suaminya Pak Karsidi kemudian mengajak kami mampir ke ladang mereka. Dengan keramahan yang luar biasa mereka membawakan kami sayur mayur segar sebagai hasil ladang mereka untuk kami bawa pulang.
Pengalaman tak terduga ini adalah jalan Tuhan yang indah untuk mempertemukan kami dengan diri Nya melalui keramahan dan kebaikan orang orang di sini.
Kejadian ini mengingatkan saya bahwa kebaikan Tuhan pun ternyata harus kita jemput dengan sebuah tindakan sederhana. Bayangkan bila pagi tadi kami memilih malas bangun pagi. Bayangkan bila kami tidak menyapa Pak Budi lebih dulu, atau tidak tergerak mendoakannya. Seluruh rantai kebaikan yang luar biasa ini tidak akan pernah terjadi.
Dalam masa Prapaskah ini kejadian kecil pun dipakai Tuhan untuk menunjukkan diri Nya. Sering kali kita merasa kitalah yang membawa berkat bagi orang lain namun hari ini justru kami yang diberkati habis habisan oleh kehadiran mereka. Warga di kaki Gunung Merbabu ini mendoakan kami, bersujud untuk kami, berbagi hasil bumi mereka, dan menunjukkan wajah Tuhan dengan begitu nyata tanpa perantara, tanpa perlu media apa pun, murni karena ketulusan hati mereka.
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:12 terasa begitu nyata dengan kejadian ini:
“Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih Nya sempurna di dalam kita.”
Hari ini kami melihat wajah Tuhan yang nyata terpancar dari senyum Pak Budi yang mendoakan kami dan dari tangan Ibu Tumini yang memberikan sayur mayur.

Sebagai renungan akhir saya teringat pepatah Latin kuno yang berbunyi:
“Gratia gratiam parit.”
(Grace/Kebaikan melahirkan grace/kebaikan kembali).
Pertemuan tak terduga ini membuktikan bahwa cinta Tuhan tidak dibatasi oleh sekat pertemanan atau rencana manusia yang kaku. Cinta Tuhan itu cair, mengalir ke mana Nya mau, dan sering kali menyapa kita di saat dan di jalan setapak yang paling tidak terduga, melahirkan kebaikan kembali yang melimpah bagi batin kami semua.
Semoga di sisa perjalanan Prapaskah ini kita semakin peka menemukan kebaikan – kebaikan kecil Tuhan yang terselip dalam keajaiban-keajaiban tak terduga.
