40 Hari Mencari Makna #14 Rangkasbitung, Bona Fide dan Rahasia Kecukupan

Malam ini saya mengetikkan barisan kata ini dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Tubuh saya lelah luar biasa. Perjalanan hari ini dimulai dari Pamulang menuju sebuah kota yang namanya diabadikan Multatuli dalam Max Havelaar yaitu Rangkasbitung.

Terakhir kali saya menginjakkan kaki di stasiun ini adalah tahun lalu, tepat di momen puasa yang sama. Bedanya, saat itu saya masih mengemban tanggung jawab sebagai pimpinan HSE. Ada rasa kehilangan yang menyelip di dada ketika mengingat momen Lebaran atau Tahun Baru dulu, masa di mana saya berkeliling memberikan briefing dan semangat kepada rekan-rekan front liner. Tahun ini peran saya telah berganti, namun keterikatan emosional itu rupanya masih tertinggal di sana.

Stasiun Rangkasbitung telah bersolek jauh lebih baik dan jauh lebih ramai. Di sela hiruk-pikuknya, saya menemui Pak Dede, koordinator lapangan parkir. Dari beliaulah narasi orang lapangan yang sesungguhnya mengalir. Ia bercerita tentang drama menangkap maling helm, bahkan yang pelakunya adalah oknum pegawai sendiri, hingga kegelisahan kolektif mengenai status pekerja kontrak yang belum menemui titik terang. Saya melihat luka di matanya saat ia menceritakan bagaimana beberapa orang meremehkan profesinya, namun saya juga melihat ketabahan yang luar biasa.

Saya juga sempat bersua dengan Deni, kepala Klinik Rangkasbitung yang baru enam bulan bertugas. Namun ada satu penyesalan kecil karena saya gagal bertemu Maria, staf klinik di sana. Padahal salah satu alasan kuat saya menempuh perjalanan panas ini adalah untuk menjenguknya secara langsung setelah ia bercerita melalui pesan singkat tentang pergumulan sakitnya.

Perjalanan pulang adalah ujian fisik yang nyata. Saya berdiri di KRL dari Rangkasbitung ke Tanah Abang selama hampir 1,5 jam. Kaki pegal, udara panas, dan rasa haus yang mencekat di tenggorokan karena sedang berpuasa. Namun Tuhan rupanya sudah menyiapkan takjil bagi batin saya. Saat berpindah ke LRT, udara dingin yang membalut kabin terasa sangat mewah. Tepat saat tiba di Harjamukti, azan berkumandang. Saya berbuka dengan takjil gratis di stasiun dan menikmatinya dengan syukur yang meluap. Sebelumnya, di luar jendela, sebuah pemandangan sunset yang sangat cantik seolah tersenyum menghibur lelah saya hari ini.

Keajaiban kecil terakhir datang melalui Akbar, driver GoCar yang saya pesan karena harga ojek motor sedang menggila di angka 42.000. Akbar telah sembilan tahun di jalanan. Ia bercerita tentang mobilnya yang pernah diisi bensin hingga penuh oleh pelanggan baik hati hingga pengalaman dimaki-maki. Dari Akbar saya belajar lagi tentang esensi pelayanan, tentang bagaimana menjaga kontrol diri dan tetap ramah meski keadaan sedang tidak berpihak.

Orang-orang baik yang saya temui hari ini seperti Pak Dede, Deni, hingga Akbar mengingatkan saya pada sebuah ungkapan Latin:

 “Bonus vir, bona fides.”

(Seorang yang baik bertindak dalam niat baik dan kejujuran).

Mereka adalah pengingat bahwa di balik kesulitan hidup selalu ada ruang untuk kesabaran dan ketulusan. Saya teringat akan janji Tuhan mengenai persahabatan dan waktu yang tepat dalam Amsal 17:17: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Kunjungan saya mungkin singkat, tapi perjumpaan itu adalah bentuk kehadiran yang tulus.

Maka pada akhirnya, perjalanan yang melelahkan ini menjadi sebuah ziarah Prapaskah yang nyata bagi saya. Kelelahan luar biasa yang saya rasakan sejak melangkah dari Pamulang ternyata adalah cara Tuhan mengosongkan diri saya agar bisa diisi oleh wajah wajah yang saya temui di sepanjang jalan. Prapaskah memang bukan hanya soal berpantang, melainkan tentang kerelaan untuk lelah demi sebuah perjumpaan yang tulus.

Pipi yang terbakar matahari dan kaki yang pegal adalah bentuk matiraga kecil yang membawa saya pada kesadaran bahwa ketika tenaga saya habis, justru di situlah kekuatan Tuhan menjadi sempurna. Hari yang bermula dengan rasa letih ini ditutup dengan sebuah kepastian bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan ziarah anak Nya sia sia. Benarlah apa yang dikatakan dalam Matius 6:34:

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Namun bagi saya hari ini, kesusahan sehari cukuplah untuk sebuah hari yang sangat berarti. Saya pulang dengan tubuh yang remuk, pipi yang masih terasa panas terbakar matahari Rangkasbitung, namun dengan hati yang penuh akan kebaikan Tuhan.

Terpujilah Tuhan.