Perjalanan saya dengan dunia trekking sebenarnya dimulai dari sebuah rasa penasaran yang dibiarkan tumbuh lama. Saya ingat betul, dulu gereja saya tidak berdinding. Dari bangku panjang tempat saya duduk, mata saya sering kali melayang menatap barisan gunung di kejauhan. Di sana, di antara nyanyian jemaat, saya berimajinasi: apa sebenarnya yang ada di balik gunung itu? Bagaimana rasanya menanjaki dan menuruni puncaknya?
Namun, imajinasi itu sempat patah oleh pengalaman buruk. Suatu kali, tanpa persiapan matang, tanpa sarapan, dan tanpa membawa air minum yang cukup, saya nekat berjalan di bawah terik matahari yang memanggang. Fisik saya menyerah. Pandangan menggelap, saya roboh dan jatuh. Beruntung, saat itu tidak ada jurang di samping saya. Kejadian itu sempat membuat saya “kapok”.
Lalu, “badai” lain datang. Sebuah relasi yang hancur meninggalkan luka yang cukup dalam. Sebagai pelarian untuk mengobati hati, saya memilih jogging. Tanpa disadari, di jalanan aspal tempat saya membuang rasa pedih itulah, fisik saya mulai terlatih. Rasa lelah berlari perlahan menggantikan rasa sesak di dada. Seiring waktu, lari menjadi kegemaran. Saya jarang ikut ajang lari bergengsi; saya hanya berlari saat ada undangan komunitas atau sekadar “kesambet” keinginan sendiri.
Tahun ini, jalur Sentul menjadi pelipur lara saya. Dua kali saya ke sana sebagai penghibur hati karena belum kesampaian mendaki Gunung Pangrango, rencana yang harus batal karena saya harus segera pulang ke Medan. Lewat perkenalan dengan Bang Damon, saya akhirnya menapaki titik-titik di Sentul yang selama ini saya baca di harian Kompas.
Bagi sebagian orang, jalur Sentul mungkin dianggap “cupu” karena tingginya masih di bawah 1000 MDPL. Saya mungkin tidak bisa se-puitis Fiersa Besari saat menceritakan pendakian. Tapi bagi saya, bodo amat. Saya memilih mencicipi apa yang kecil, apa yang saya mampu, dan apa yang ada di depan mata.


Perjalanan trekking ini adalah sebuah ritual persiapan: bangun buta pagi hari, menyiapkan logistik, bermotor menembus udara dingin, hingga keringat yang membanjir saat menanjak. Selebihnya?

Menghirup udara segar, menyapa penjaga warung, merasakan keramahan penduduk lokal saat jajan, dan tentu saja lelah yang nikmat.

Banyak orang menolak melakukan ini dengan seribu alasan: sibuk, jauh, atau melelahkan. Mungkin karena mereka belum terkena “nagihnya” perjalanan ini. Ketimbang menghabiskan waktu menimbun kalori dan ego, di sini kita belajar kebijaksanaan dari panas terik yang menyegarkan.


Ternyata, perjalanan ini bukan soal adu tinggi puncak gunung, melainkan tentang keajaiban-keajaiban kecil yang menyapa di sepanjang jalan.
Ada senyum ramah penjual warung yang terasa begitu tulus, bunyi jangkrik yang menenangkan, hingga nikmatnya secangkir kopi hitam dan semangkuk Indomie yang rasanya berkali lipat lebih lezat di udara terbuka. Menemukan sungai dengan air yang jernih dan dingin di tengah lelahnya raga adalah sebuah kemewahan yang tak terlukiskan. Di sana, saya tersentak oleh sebuah kesadaran: Oh, betapa “cukup” adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Inilah yang dalam filosofi Yunani disebut sebagai Autarkeia, sebuah kemandirian batin untuk merasa cukup dengan apa yang ada.
Dalam masa Prapaskah ini, belajar “cukup” adalah semangat yang harus terus dijaga agar kita tidak menjadi serakah. Belajar bersyukur atas apa yang mampu kita capai, meski itu hanya bukit kecil, bukan puncak tertinggi.
Firman Tuhan dalam 1 Timotius 6:6 mengingatkan:
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”
Pagi ini, saya kembali berefleksi: hidup memang tentang memperjuangkan kesenangan-kesenangan kecil yang mahal harganya. Senang itu sederhana, capek itu nyata, dan dicukupkan oleh Tuhan itu luar biasa.


Selamat berefleksi di jalur pendakiannya masing-masing, rendah ataupun tinggi. Mulus ataupun terjal.