Stop comparing

Saya masih suka menulis dengan pena di batas kertas.

Ada rasa tenang ketika tinta mengalir, ketika jari, mata, dan pikiran seolah berkomunikasi tanpa suara.

Entah kenapa, menulis dengan tangan seperti ini terasa lebih jujur, lebih dekat dengan diri sendiri.

Biasanya saya menulis di buku tulis yang sudah hampir habis halamannya. Kadang isinya materi rapat, kadang ide yang muncul tiba-tiba saat mendengar orang presentasi, atau seperti kali ini—saya menulis ulang kalimat dari sebuah artikel di grup Telegram yang membahas “how to stop comparing yourself to others.”

Penulis artikel itu bilang, kita punya kebiasaan buruk: terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.

Soal pekerjaan.

Soal rumah.

Soal status sosial, hubungan, mobil, bahkan barang-barang kecil yang mereka punya dan kita tidak.

Saya jadi terdiam lama.

Karena saya pun kadang masih kepancing soal ini.

Soal karier, soal apa yang sudah saya capai, soal apa yang saya miliki—dan belum.

Dan sering kali, itu semua bukan muncul dari dalam diri saya, tapi dari lingkungan.

Saya sudah cukup kenyang dengan komentar yang setengah bercanda tapi menohok:

“Kenapa masih sendiri?”

“Apa lagi yang dikejar?”

“Nanti keburu begini, nanti keburu begitu.”

Sering.

Dan kadang melelahkan.

Tapi penulis artikel itu mengingatkan hal sederhana:

Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain—yang mungkin tak akan pernah bisa kita menangkan—bandingkanlah diri kita hari ini dengan diri kita setahun lalu.

Catat, apa yang membuat kita sedikit lebih baik hari ini?

Saya suka bagian itu.

Karena kadang kita terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan standar orang lain, sampai lupa menghargai progres kecil dalam hidup kita sendiri.

Padahal menjadi pribadi yang baik, peduli pada orang lain, itu pun bentuk kemajuan yang nyata.

Menjadi lebih sabar, lebih waras, lebih mampu mengendalikan emosi, itu juga pencapaian.

Bagi saya, aktivitas menulis seperti ini juga bagian dari menghentikan kebiasaan membandingkan.

Saya tak akan bisa menyusul teman-teman yang sudah menikah, punya anak, punya rumah, atau punya sesuatu yang besar.

Tapi saya bisa punya tolok ukur sendiri.

Saya bisa menghargai diri yang masih belajar menguasai hal-hal kecil, misalnya belajar menulis dengan lebih jujur, mengatur waktu dengan lebih baik, atau sekadar menjaga diri untuk tetap waras dan berani mencoba hal baru.

Termasuk menulis catatan ini.

Saya tahu, mungkin tak banyak yang akan membacanya.

Tapi saya bahagia, karena tulisan ini menjadi semacam warisan kecil—jejak perjalanan saya, refleksi hidup yang saya bagi tanpa pretensi.

Dan dari situ, saya belajar untuk lebih bersyukur.

Saya setuju dengan satu hal: memantaskan diri adalah bentuk menghargai diri sendiri.

Bukan untuk terlihat sempurna di mata orang lain, tapi untuk terus menabur kekuatan dan keberanian, versi kita sendiri.

Saya akhirnya menambahkan satu hal dari artikel itu:

bahwa setiap hari, kita bisa selalu menemukan hal-hal kecil yang baik.

Entah itu menyapa orang baru, tersenyum pada orang asing, menjawab dengan ramah, atau sekadar menawarkan bantuan kecil.

Hal-hal seperti itu mungkin tampak sepele, tapi sebenarnya menjadi cara terbaik untuk membebaskan diri dari perasaan “belum mencapai sesuatu.”

Karena saat kita berhenti mengejar validasi dan mulai memberi makna—kita akan sadar bahwa memberi, sekecil apa pun, jauh lebih membahagiakan daripada sekadar mencapai sesuatu yang kadang justru menjerat kita pada rasa tidak puas yang tak ada habisnya.

Selamat berproses menjadi versi terbaik dirimu.

– di atas LRT Harjamukti – Cikoko, 4 Nov 2025