Please be Nice

Pagi kemarin, cuaca sedang cerah, padahal semalamnya hujan lebat, di kejauhan Gunung Salak berdiri diam, seperti sedang mengingatkan bahwa tak ada yang benar-benar tetap, kecuali perubahan. Udara terasa lebih jernih dari biasanya, mungkin karena saya sedang belajar melepaskan hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan.

Oktober begitu padat, rapat, laporan, perjalanan, perjumpaan, juga beberapa kelelahan yang tidak sempat saya ceritakan di jurnal ini. Namun di sela-selanya, ada juga tawa, belajar, dan rasa syukur yang diam-diam tumbuh merayap memenuhi hati.

Sore kemarin sepulang dari rumah sakit Harapan Kita, saya ikut mengantar kakak dan inanguda untuk datang di Ancol. Senja sudah hampir selesai. Lembut sekali warnanya. Langit memudar pelan, dan ombak kecil di tepi pantai seperti sedang berbisik: bahwa setiap bulan, sesungguhnya hanyalah bab baru dalam perjalanan yang sama, tentang menjadi lebih sabar, lebih tenang, dan lebih tahu arah.

Terima kasih, Oktober, atas segala pelajaran dan jeda. Hai, November, semoga kamu datang dengan kabar baik, udara yang menenangkan, dan langkah yang lebih ringan.

Seperti kata Nietzsche, “He who has a why to live can bear almost any how.” Setiap orang yang punya alasan untuk hidup, selalu punya alasan untuk menanggungnya. Bahwa selama masih ada alasan untuk melangkah, setiap perubahan, betapapun melelahkan, akan selalu bisa kita hadapi dengan kepala tegak dan hati yang penuh rasa syukur.

November, please be nice.