Masih Relevankah Sumpah Pemuda?



Bandung, 28 Oktober 2025
Masih pagi, dan saya memulai hari dengan rasa lelah yang belum tuntas. Semalam baru pulang dari Bandung, tapi pagi ini harus kembali ke sana lagi untuk ikut rapat. Subuh-subuh, saya sudah naik travel dari Cibubur. Jalan tol MBZ mengguncang hebat, setiap sambungan beton seperti menggoyang tubuh saya di baris belakang. Tak bisa tidur, hanya menatap keluar jendela, mencoba menenangkan kepala yang masih berat.

Tiba di Bandung, saya lanjut naik ojek dari Pasteur. Upacara sudah dimulai, saya datang paling belakang. Tapi justru di situ, di sela udara Bandung yang sejuk dan adem, saya merasakan sesuatu yang lama tak saya rasakan: rindu pada suasana seperti ini.



Saya tidak mengikuti isi upacara dengan saksama. Tapi di tengah barisan, pikiran saya melayang: Masih relevankah Sumpah Pemuda hari ini?
Tiga kalimat sederhana: bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu: Indonesia, tiba-tiba terasa begitu dalam. Di tengah derasnya arus informasi, di saat orang lebih bangga memakai istilah asing daripada bahasa sendiri, di saat perbedaan sering jadi jurang ketimbang jembatan. Saya merasa Indonesia perlu terus menguatkan identitasnya.
Cinta Indonesia itu bukan sekadar slogan. Ia hadir dalam hal-hal kecil: pakai bahasa Indonesia dengan baik, makan kuliner lokal, jalan-jalan di kota-kota kita sendiri, dan bangga menceritakannya. Dalam banyak tulisan saya tentang kota dan perjalanan, saya semakin yakin: Indonesia itu luar biasa indah, penuh keramahan, penuh kebaikan.

Tapi bagaimana dengan para pemuda hari ini? Apakah semangat itu masih ada — semangat untuk bersatu, untuk merasa satu nadi, satu tanah, satu cita?

Upacara selesai. Saya bersiap menuju tempat rapat. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar: “Om Lae!! Halooo!” Itu Bu Susan.

Ah, hangat sekali. Rasanya seperti disapa keluarga sendiri setelah lama tak berjumpa. Kami dulu satu unit kerja, lalu terpisah setelah pandemi. Selama ini hanya berkomunikasi lewat pesan singkat — ucapan Natal, Paskah, dan terakhir, ucapan duka ketika ibunya berpulang.

Saya melihat matanya berkaca-kaca. Ada haru yang tak bisa disembunyikan. Saya menepuk lembut punggungnya, “Ibu baik-baik kan?” Kami tertawa kecil, lalu berfoto bertiga — saya, Bu Susan, dan Bu Uci — di depan lokomotif tua di halaman kantor.

Momen itu sederhana, tapi bagi saya sangat dalam. Kalau bukan karena rasa “satu” — entah karena bahasa, karena hati, karena semangat yang sama — mungkin sapaan hangat itu tak akan pernah sampai.

Itulah yang saya sadari hari ini: Sumpah Pemuda tetap relevan. Ia hidup dalam hal-hal kecil, dalam sapaan hangat, dalam kebaikan hati seperti Bu Susan dan Bu Uci. Dalam rasa ingin menyapa, menolong, dan tetap merasa satu, meski waktu dan jarak memisahkan.

Saya membereskan tas. Dari kejauhan, saya masih melihat Bu Susan mengusap matanya. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Sehat-sehat selalu, Bu Susan dan Bu Uci. Semoga kita bisa bertemu lagi karena di setiap perjumpaan hangat seperti itu, saya kembali percaya: semangat Sumpah Pemuda belum pernah benar-benar padam.