40 Hari Mencari Makna #12 Merawat Ingatan

Menulis, bagi saya, adalah salah satu cara paling khusyuk untuk merawat ingatan. Di usia yang telah menyentuh kepala empat, saya semakin sadar bahwa ingatan manusia itu rapuh, mudah tergerus oleh riuhnya rutinitas. Saya merasa perlu lebih rajin meninggalkan “kompas” entah itu berupa tulisan, kenangan, atau serpihan cerita yang kelak mungkin akan dibaca oleh anak saya atau siapa pun yang sedang kehilangan arah. Saya teringat pepatah Latin kuno yang menjadi jangkar aktivitas ini: “Verba volant, scripta manent”: kata-kata lisan akan terbang menguap, namun tulisan akan tetap tinggal menetap.

Dalam upaya merawat ingatan itu, saya pun tersentak oleh cara orang lain mengingat saya. Di usia segini, saat lingkaran pertemanan semakin mengkristal dan mengecil, diingat oleh sesama adalah sebuah keistimewaan yang mahal. Ada Bu Ambar, mantan atasan saya, yang mengirimkan doa panjang dengan deretan emotikon hangat. Ingatan saya langsung melayang pada pakaian batik yang beliau hadiahkan saat kami masih satu kantor dulu; sebuah tanda kasih yang masih tersimpan rapi dalam ingatan saya, sebagaimana beliau menyimpan tanggal lahir saya dalam memorinya. Lalu ada Shinta, kawan “kembar” bulan Februari yang meski jarang bertemu fisik, masih sempat menitipkan kartu ucapan dan tas lewat adik saya di sela-sela waktunya menemani sang ibu berobat. Gestur-gestur sederhana ini menunjukkan bahwa di tengah dunia yang serba digital, ketulusan tetap memiliki caranya sendiri untuk sampai ke alamat yang tepat.

Melihat kebaikan mereka, saya membayangkan betapa Tuhan pun sedang mengingat saya. Meskipun saya masih sering meraba-raba misteri waktu-Nya, tentang mengapa Uda saya harus dipanggil secepat itu, atau tentang penantian panjang mengenai siapa yang akan mendampingi saya nanti, saya memilih percaya bahwa Tuhan sedang mengingat dan membentuk saya melalui setiap peristiwa.

Firman Tuhan dalam Mazmur 103:2 menjadi pengingat yang telak: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Inilah alasan saya untuk terus bersyukur: agar tak ada satu pun jejak kebaikan-Nya yang luput dari catatan batin saya.

Namun, syukur yang paling jujur justru tidak lahir dari kondisi beruntungnya saya saat ini mengetik di LRT yang nyaman dan dingin, melainkan saat saya berdiri memanggul sisa duka yang belum kering dan rencana-rencana yang masih terlihat belum jelas.

Di sanalah ironi Prapaskah menemukan wajahnya yang paling asli: bahwa justru ketika keadaan sedang “tidak baik-baik saja”, diingat oleh sesama, dan terutama diingat oleh Tuhan, menjadi satu-satunya kemewahan yang tak mampu dibeli oleh keberuntungan mana pun.

Selamat memaknai Pra-Paskah dengan merawat ingatan akan kebaikan-Nya.