40 Hari Mencari Makna #11 Seni Berbagi Ruang dan Dua Telinga

Jika Anda mengintip layar gawai kita hari ini, sebagian besar interaksi kita mungkin terangkum dalam barisan teks. Kita berkomunikasi lewat gelembung pesan di WhatsApp, komentar di Instagram, atau cuitan singkat. Uniknya, setiap orang memiliki preferensi “jalur komunikasi” yang berbeda-beda.

Saya punya seorang kawan yang punya jam khusus untuk saling berkirim pesan teks dengan istrinya. Bagi sebagian orang mungkin terasa agak aneh, “Kenapa tidak telepon atau video call saja supaya lebih cepat?” Namun, itulah pilihan mereka. Sebaliknya, ada kawan lain yang setiap ada waktu senggang selalu menyempatkan diri video call dengan anak dan istrinya; ia butuh melihat wajah dan mendengar suara secara langsung.

Saya sendiri belakangan ini merasa lebih “cerewet” dalam tulisan daripada pesan teks. Saya lebih banyak menuangkan berbagai ide yang muncul ke dalam blog pribadi. Entah siapa yang membaca, saya tidak terlalu peduli. Ada kepuasan tersendiri saat ide itu berhasil dialirkan keluar.

Namun, di akhir minggu, ritme digital itu biasanya melambat. Saat berkumpul keluarga, makan bersama, beribadah di gereja, atau momen buka puasa bersama, komunikasi kembali ke bentuknya yang paling murni: obrolan informal yang mengalir begitu saja. Di sana, kita berbagi lebih dari sekadar kata-kata; kita berbagi kehadiran.

Secara etimologis, kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare, yang berarti “berbagi” atau “menjadikan milik bersama”. Akar katanya adalah communis (umum/bersama). Jadi, esensi komunikasi bukan sekadar mengirim data, melainkan upaya untuk menciptakan pemahaman yang sama atau “menjadikan satu” apa yang ada di pikiran kita dengan pikiran orang lain.

Pertanyaannya: apakah kita sudah benar-benar “berbagi”? Sering kali kita merasa sudah berkomunikasi hanya karena kita sudah banyak bicara. Kita cenderung lebih sibuk menyusun apa yang akan kita katakan selanjutnya daripada benar-benar menyerap apa yang sedang dikatakan orang lain. Kita lupa bahwa komunikasi adalah jalan dua arah yang membutuhkan keseimbangan antara memberi dan menerima.

Banyak hubungan antarmanusia retak dan salah paham bukan karena kurangnya kata-kata, melainkan karena buruknya kualitas pendengaran. Kita mengabaikan keterampilan mendengar, padahal itulah kunci dari empati.

Kitab Suci memberikan nasihat yang sangat praktis mengenai hal ini dalam Yakobus 1:19:

 “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.”

Masa Prapaskah ini adalah momen yang tepat untuk melatih telinga batin kita. Mungkin kita perlu belajar menjadi pendengar yang baik yang tidak hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati. Sebab, sering kali orang tidak membutuhkan solusi atau ceramah kita; mereka hanya butuh ruang untuk didengarkan.

Ada sebuah pepatah Latin kuno yang mengingatkan kita akan desain tubuh kita sendiri:

“Aures habemus duas, os autem unum, ut plura audiamus quam loquamur.”

(Kita memiliki dua telinga, tetapi hanya satu mulut, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara).

Mari perbaiki kualitas hubungan kita dengan mulai menyediakan telinga yang lebih luas bagi sesama.