40 Hari Mencari Makna #10 Ujian Karakter dan Waktu

Berbicara tentang godaan terbesar umat manusia, sejarah selalu menunjuk pada satu hal: kekuasaan.

Ada sebuah adagium klasik yang sangat terkenal dari sejarawan Inggris, Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely” (Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak merusak secara mutlak). Kalimat ini ia tulis pada tahun 1887 dalam sepucuk surat kepada Uskup Mandell Creighton. Saat itu, Lord Acton sedang mengkritik kecenderungan orang-orang, termasuk para sejarawan, yang terlalu lunak memaklumi kesalahan para tokoh besar atau penguasa.

Bagi Acton, jabatan tinggi tidak lantas membebaskan seseorang dari standar moral; justru sebaliknya, tanggung jawab moral mereka jauh lebih besar.

Jika kita menarik lensa ke dunia hari ini, mari perhatikan panggung para pemimpin, baik di pemerintahan, organisasi pelayan publik, maupun di dunia bisnis dan korporasi.

Sebuah pertanyaan reflektif sering kali muncul di benak kita: Apakah mereka benar-benar sedang mengerjakan mandat orang banyak yang menjadi amanahnya? Ataukah di balik jargon-jargon mulia itu, terselubung agenda pribadi untuk memuaskan hasrat dan mengamankan posisinya sendiri?

Ada sebuah kutipan lain yang sangat tajam, yang sering dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln: “Hampir semua orang bisa tahan menghadapi kesulitan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter sejati seseorang, berikan dia kekuasaan.” Kekuasaan itu seperti kaca pembesar. Ia tidak mengubah seseorang, melainkan menelanjangi dan memperbesar siapa diri mereka yang sesungguhnya.

Ketika seseorang memegang kendali, segala ketakutan, keserakahan, atau kebaikan tulus yang selama ini terpendam akan muncul ke permukaan.

Namun, perenungan Prapaskah hari ini bukanlah ajakan untuk menjadi sinis terhadap dunia atau terus-menerus menuding para penguasa. Kesinisan hanya akan mengeraskan hati.

Alih-alih sekadar mengkritik, kita diajak untuk melihat ke dalam diri dan menyadari lingkaran pengaruh kita sendiri. Kita pun memiliki “kekuasaan” dalam skala kita masing-masing, entah sebagai kepala keluarga, atasan di kantor, atau anggota komunitas. Kita sadar bahwa yang namanya jabatan, titel, dan kuasa itu sangatlah fana. Ia hanya titipan yang mampir sebentar. Oleh karena itu, selagi ia ada di genggaman, ia harus digunakan sebaik-baiknya untuk menciptakan dampak yang terasa bagi orang lain.

Dalam tradisi pemikiran Yunani dan iman Kristen, kita mengenal dua konsep waktu: Chronos dan Kairos. Chronos adalah waktu kronologis yang berjalan biasa sehari-hari, detik demi detik, rutinitas demi rutinitas. Namun, Kairos adalah waktu Tuhan; sebuah momen kesempatan, anugerah, atau momentum ilahi yang mungkin hanya datang sekali.

Jabatan, pengaruh, atau kesempatan kita untuk berbuat baik hari ini adalah sebuah Kairos. Kita harus memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh. Sama halnya dengan esensi menantikan kedatangan Kristus: kita tidak dipanggil untuk sekadar duduk diam bertopang dagu, melainkan dipanggil untuk terus berkarya, melayani, dan menjadi terang di tengah dunia, meskipun godaan kekuasaan yang manipulatif selalu mengintai di depan mata.

Selamat merenungkan hal ini.