Suasana sore menjelang magrib selalu memiliki keajaiban tersendiri, terutama saat kita duduk di meja yang sama untuk sebuah tradisi bernama buka puasa bersama. Di momen-momen menunggu azan berkumandang, ada sebuah transformasi sosial yang indah. Tanpa aba-aba, semua orang menanggalkan jubah jabatannya. Gengsi, level struktural, dan segala atribut profesional menguap begitu saja. Di meja itu, tidak ada lagi atasan atau bawahan; yang ada hanyalah sesama manusia yang sama-sama menahan dahaga dan lapar, tertawa bersama, dan mensyukuri sebuah perjumpaan.
Esensi dari buka puasa bersama memang bukan terletak pada menu “buka puasanya”, melainkan pada kata “bersama”. Ada kehangatan yang meruntuhkan sekat-sekat formalitas.
Namun, sebagai pengamat diam di tengah keramaian itu, pandangan saya sering kali menangkap sebuah paradoks yang ironis. Ketika beduk akhirnya berbunyi dan waktu berbuka tiba, pemandangan di meja makan terkadang berubah menjadi sebuah kontradiksi. Piring-piring diisi dengan porsi yang berlebihan, menggunung dengan segala macam takjil dan lauk pauk, seolah lambung manusia tiba-tiba meraksasa.
Lalu, pada akhirnya, banyak makanan yang tersisa dan terbuang karena perut tak lagi sanggup menampungnya.
Di sinilah letak ironinya.
Sepanjang hari, puasa dihayati sebagai sebuah laku spiritual yang agung untuk mengekang hawa nafsu dan menundukkan ego. Namun, tepat di garis akhir saat puasa itu dibatalkan, benteng pengendalian diri itu justru jebol. Hawa nafsu yang dikurung sejak fajar, tiba-tiba meledak tak terkendali saat senja.
Pemandangan ini menjadi sebuah teguran batin bagi perjalanan Prapaskah saya sendiri. Betapa seringnya kita merasa sudah “menang” melawan godaan, merasa sudah suci karena telah melakukan matiraga, namun seketika jatuh kembali pada keserakahan di saat kita merasa berhak untuk memberikan reward pada diri sendiri.

Pada hakikatnya, puasa, baik dalam tradisi Ramadan maupun Prapaskah, adalah urusan yang sangat individual dan sunyi. Ia adalah arena pergumulan pribadi antara manusia dan egonya sendiri, bukan sekadar menahan jam makan. Penderitaan fisik berupa rasa lapar dan haus adalah sebuah metode latihan. Latihan untuk menempa ketabahan mental agar kita siap menghadapi ujian-ujian kehidupan yang sesungguhnya di masa depan.
Rasa lapar mengajarkan kita batas kekuatan tubuh kita, mengingatkan betapa bergantungnya kita pada anugerah Sang Khalik. Dan ketika kita memahami kelemahan itu, puasa bermuara pada satu sikap batin: kepasrahan yang tabah untuk menyerahkan segala rupa kehidupan kita ke dalam tangan-Nya.
Dengan hal ini, saya diingatkan kembali: menahan lapar butuh kekuatan, tetapi menahan diri saat hidangan sudah tersedia di depan mata, butuh ekstra kekuatan, karena itulah ujian pengendalian yang sesungguhnya.