Malam itu, Pelabuhan Tanjung Priok diselimuti cahaya gemerlap lampu pelabuhan yang memantul di permukaan air yang tenang. Di antara kerumunan dan hiruk-pikuk peti kemas, pandangan saya terpaku pada satu kapal yang berdiri megah dan anggun: KM Kelud. Pemandangan ini, dengan sekoci-sekoci merah yang berbaris rapi di dek atas dan peti kemas yang tertumpuk di dermaga, persis seperti yang terekam dalam foto malam ini, sontak memutar waktu memori puluhan tahun ke belakang.
Kenangan itu datang pada seorang anak muda dengan hati yang berdebar, membuat keputusan besar untuk bertaruh nasib demi masa depan. Saya memutuskan untuk melangkah ke luar dari zona nyaman, menempuh pendidikan lanjutan ke pulau Jawa. Saat itu, ketakutan dan kekhawatiran adalah satu-satunya ‘peta’ yang saya miliki. Saya tidak punya bayangan sama sekali tentang “negeri’ apa yang akan saya datangi, kecuali namanya yang sudah tersohor sebagai pusat peradaban Indonesia. Namun, seperti ada tenunan DNA yang kuat dalam diri leluhur yang tak terbantahkan: saya harus lebih maju.
Cita-cita itu, meskipun tampak rapuh, adalah kompas yang menuntun saya ke dermaga ini.
Dari Belawan, dengan KM Kelud inilah, perjalanan dimulai. Selama 3 hari 2 malam, kapal ini menjadi rumah sementara saya. Saya tidak sendirian; saya diantar oleh ibu dan inang tua, bibi saya.



Pikiran saya saat itu adalah kanvas kosong yang dipenuhi coretan pertanyaan: “Seperti apa saya nanti? Mau jadi apa saya? Bagaimana masa depan saya?”
Dua hari di tengah laut rasanya seperti keabadian, tak ada yang bisa dilihat kecuali bentangan laut yang tak berujung. Namun, di dalam kapalnya tenang, seolah memberikan waktu bagi saya untuk merenungkan setiap jawaban. Berkali-kali saya keluar ke dek luar, dan pemandangan sekoci-sekoci itu serta peti kemas di pelabuhan lain adalah saksi dari kecemasan saya.

Pemandangan itu, seperti yang saya lihat di foto ini, adalah latar belakang dari setiap keraguan saya.
Kini, berdiri di dermaga ini lagi, bayangan masa lalu itu datang kembali dengan begitu nyata. Saya melihat para penumpang yang baru saja turun dari gangway Kelud, mungkin dari mereka melangkah ke tanah Jawa untuk pertama kalinya. Mungkin ada di antara mereka yang memiliki tatapan gentar dan penuh harap, sama seperti saya dulu.
Saya ingin berbisik kepada mereka bahwa KM Kelud adalah kapal yang baik untuk menampung ketakutan dan cita-cita mereka.
KM Kelud, dialah saksi sejarah hidup saya. Di dalam lambungnya yang kokoh, saya pernah pertama kali memulai suatu hidup baru. Ia seperti sebuah gerbberlayar menghubungkan ketidakpastian masa lalu dengan harapan masa depan.
Kini, saya menanti petualangan-petualangan baru, entah kemana pun arus kehidupan akan membawa saya. Doa saya hanya satu: semoga kaki saya dimampukan dan hati saya dikuatkan. Untuk terus melangkah, untuk terus mencintai hidup, dan untuk terus merangkul pasang surut kehidupan yang hadir dalam setiap pelayaran saya.
Terima kasih, KM Kelud, telah menjadi bagian hidup saya.
Selamat kembali berlayar.