40 Hari Mencari Makna #7 Sepotong Kenangan Pahit – Manis

Bagi banyak orang, berbuka puasa adalah tentang melepas dahaga dan lapar dengan yang manis-manis. Namun bagi saya, Ramadhan kali ini adalah tentang menuntaskan sebuah rasa penasaran yang telah mengerak selama puluhan tahun; sebuah keinginan yang terkunci rapat di sudut Jalan Aksara, Medan.

Dulu, setiap kali pulang dari bimbingan studi, apalagi pas puasa, mata saya selalu tertuju pada kepulan asap di pinggir jalan. Di sana, para penjual menjajakan batang-batang rotan muda yang dibakar. Itulah Pakat, kuliner khas Mandailing yang legendaris. Asap pembakarannya kemana-mana dan menarik perhatian, namun saat itu, saya hanya bisa menelan ludah. Sebagai pelajar dengan uang saku yang “ngepas”, membeli Pakat adalah kemewahan yang harus saya tunda.

Saya simpan keinginan itu, tanpa tahu bahwa butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk mewujudkannya. Kepulangan saya ke Medan beberapa waktu lalu membawa suasana yang berbeda. Ada duka yang menyertai, Paman saya berpulang pada Sang Khalik. Di tengah momen perpisahan itu, saya “kabur” membawa bibi saya itu membeli takjil, sekaligus mengurai duka yang masih bergelayut di pikirannya.

Saat batang rotan itu dikupas dan isinya yang putih terpapar, ada rasa haru yang ganjil. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, lidah saya langsung disambut rasa pahit yang getir.

“Harus dimakan pakai sambal atau kecap, Bang,” ujar si penjual sambil tersenyum.
Benar saja, ketika saya tambahkan rawit dan juga lemang (ketan bakar dalam bambu), rasa pahit itu berubah menjadi karakter rasa yang kaya.

Seperti itulah hidup, bukan? Terkadang kita harus melewati pahitnya perjuangan, perjalanan waktu, dan kehilangan, sebelum akhirnya bisa mengecap makna rasa yang utuh.

Malam itu, rasa penasaran saya resmi lunas. Meski harus menunggu puluhan tahun, pengalaman ini menambah kekayaan batin saya. Buka puasa kali ini memberi saya pelajaran berharga: bahwa keinginan yang terpuaskan selalu punya waktu yang tepat, meski ia datang di tengah suasana duka dan rasa yang pahit.

Mari sesekali berbuka dengan yang getir.