Saya gemar menelusuri jalanan dengan kamera, saya belajar satu aturan penting: jika sebuah pemandangan terasa biasa saja, ubahlah angle atau sudut pengambilan gambarnya. Lanskap yang tadinya tampak datar bisa tiba-tiba bercerita.
Membaca sebuah halaman buku The Dignity of Words, karangan Ki Ju Lee hari ini, saya tersadar bahwa prinsip fotografi itu adalah esensi dari berempati. Di sana tertulis bahwa untuk mempraktikkan empati, kita harus melepaskan diri dari diri kita sejenak dan menempatkan diri di posisi orang lain, serta melihat masalah dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Mengubah sudut pandang inilah yang disebut dengan perspective taking.

Namun, realitasnya tentu tidak sesederhana memutar lensa kamera. Penulis buku itu pun mengakui bahwa hal itu tentu tidak mudah, karena kehidupan tidaklah mudah untuk dijalani, dan sangat tidak mudah untuk mengubah sudut pandang ke arah lain yang benar-benar berbeda.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat kita sering gagal berempati? Mengapa begitu sulit memahami kondisi orang lain?
Sering kali, kegagalan itu bermula dari kelelahan kita sendiri. Ego kita terlalu riuh oleh beban keseharian, membuat kita enggan bergeser seinci pun untuk memahami pergumulan orang lain. Di sisi lain, ada sebuah realitas pahit yang kerap menjadi dinding penghalang: trauma akan manipulasi. Terkadang, ketika kita menurunkan pertahanan diri dan memberikan empati yang tulus, yang terjadi justru sebaliknya. Ada saja orang yang memanfaatkan kelonggaran itu untuk memanipulasi perasaan kita. Kebaikan kita dikuras, simpati kita dijadikan alat untuk menjustifikasi kesalahan mereka, hingga akhirnya kita merasa lelah dan kapok.
Pengalaman semacam ini membuat kita cenderung mengeraskan hati sebagai bentuk perlindungan diri.
Namun, di tengah sinisme dan kehati-hatian itu, ada sebuah kejujuran yang diam-diam muncul dari dasar batin: kita sendiri sebenarnya sangat ingin di-empatikan oleh orang lain. Di balik ketegaran yang kita tampilkan setiap hari, ada kerinduan agar seseorang mau memahami rasa lelah dan luka kita, tanpa kita harus susah payah menjelaskannya.
Dari paradoks inilah saya menyadari satu hal yang fundamental. Belajar empati ternyata bukan sekadar menyetujui atau menyerap emosi orang lain secara membabi buta hingga kita bisa dimanipulasi. Belajar empati adalah belajar mendengar dengan hati, bukan hanya dengan telinga.
Seperti anjuran dalam buku tersebut, kita diajak untuk melihat inti dari sudut pandang tersebut dan mengubah arahnya perlahan-lahan. Dengan begitu, kita akan melihat sesuatu bukan dengan mata telanjang, tapi dengan mata hati. Mata hati memberi kita hikmat untuk membedakan mana keluhan yang tulus dan mana yang manipulatif. Mata hati memampukan kita menangkap hal yang tidak bisa dihitung dengan angka.

Di masa Prapaskah ini, mari kembali melatih penglihatan batin kita. Siapa tahu akan ada pemandangan baru yang terpancar di mata kita; kita pasti bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat sebelumnya, termasuk melihat batas yang sehat antara mengasihi sesama dan menjaga batin dan hati kita sendiri.