Di ruang kerja saya, menyusun strategi mitigasi dan menjaga segala sesuatunya tetap dalam kendali adalah makanan sehari-hari. Kita dilatih untuk menggenggam erat apa yang kita miliki dan memastikan tidak ada yang terlepas dari rencana.
Namun, narasi Prapaskah hari ini, melalui kisah Abram dan Nikodemus, justru menghantam telak kebiasaan itu. Tuhan sering kali tidak meminta kita untuk menggenggam lebih kuat, melainkan menuntut kita untuk melepaskan. Melepas kemelekatan. Ketika berbicara tentang kemelekatan, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada harta benda. Padahal, wujud kemelekatan yang paling menyiksa sering kali tidak kasat mata.
Saya merenung, betapa seringnya kita melekat pada seseorang yang dulu begitu dekat, namun kini perlahan berjarak. Kita melekat pada kenangan akan perhatian yang dulu melimpah, yang kini telah memudar dan berganti menjadi sesuatu yang dingin dan biasa saja. Tanpa sadar, kita juga sering terbelenggu oleh ekspektasi, sebuah kemelekatan pada cara pandang tentang bagaimana orang lain seharusnya bersikap baik dan menghargai kita. Ketika kenyataan tak sesuai dengan ekspektasi itu, kita kecewa dan terluka.
Lebih jauh lagi, ada kemelekatan pada rasa aman yang palsu. Ketergantungan yang berlebihan pada sosok tertentu yang kita anggap sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, atau bahkan kemelekatan pada kebiasaan-kebiasaan buruk yang secara diam-diam meninabobokan dan merusak kita dari dalam.
Lalu di ruang sosial, ada ego yang tak kalah mengikat: kemelekatan pada jabatan, status sosial, posisi, atau kedudukan. Kita merasa berharga karena kursi yang kita duduki atau titel yang melekat di belakang nama kita. Kita lupa bahwa pada akhirnya, semua atribut itu fana, layaknya debu yang akan tersapu angin.
Membaca narasi Abram (Kejadian 12:1-4a), saya membayangkan betapa radikalnya perintah Tuhan. Abram disuruh pergi, meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan segala kemelekatannya pada masa lalu dan zona nyamannya. Ia diminta melangkah hanya dengan kompas iman.
Di malam yang sunyi, Yesus juga menantang Nikodemus (Yohanes 3:1-17), seorang petinggi agama yang sangat dihormati. Yesus memintanya melepaskan kemelekatan pada kebanggaan intelektual dan status sosialnya, untuk mau “dilahirkan kembali”. Roh itu seperti angin, kata Yesus, bertiup ke mana Ia mau. Kita tak bisa menangkap dan mengendalikan angin. Kita hanya bisa membentangkan layar dan berserah.
“Menangkap dan mengendalikan angin” adalah metafora dari kemelekatan kita. Ketika kita memaksakan kehendak—misalnya, memaksa seseorang untuk tetap peduli pada kita, memaksa sebuah karir harus berjalan sesuai ambisi kita, atau memaksa Tuhan menjawab doa kita dengan cara spesifik—kita sedang berusaha memasukkan angin ke dalam toples. Semakin keras kita menggenggam, semakin kita kelelahan, frustrasi, dan terluka, karena angin itu akan tetap lolos dari jari-jari kita.
Lalu, apa yang bisa dilakukan seorang pelaut jika ia tidak bisa mengendalikan angin? Ia membentangkan layar.Membentangkan layar bukanlah kepasrahan yang malas atau sikap apatis. Membentangkan layar adalah tindakan berserah yang sangat aktif. Artinya, kita menyiapkan hati kita, merentangkan kesadaran kita, dan berkata: “Tuhan, aku melepaskan ilusiku bahwa aku bisa mengendalikan segalanya. Ke mana pun Engkau menghembuskan arah hidupku hari ini, entah itu ke perairan yang tenang atau menembus badai, aku akan menyelaraskan diriku dengan kehendak-Mu.”
Dalam konteks “Melepaskan Kemelekatan”, membentangkan layar berarti kita berhenti melawan arah angin kasih karunia Tuhan hanya karena kita terlalu sibuk memegangi jangkar masa lalu, status, atau ego kita. Kita mengangkat sauh, melepaskan kemelekatan itu, dan membiarkan Roh-Nya membawa perahu kehidupan kita ke arah yang jauh lebih baik dari yang bisa kita rencanakan.
Mazmur 121 dan Roma 4 mengingatkan titik tumpu yang sesungguhnya. Pertolongan dan pembenaran kita tidak datang dari genggaman tangan kita sendiri yang keras kepala, melainkan dari Tuhan semata.
Mengapa Tuhan meminta kita melepaskan kemelekatan-kemelekatan itu? Jawabannya sederhana, namun butuh seumur hidup untuk dihidupi: karena tangan yang mengepal kuat tidak akan pernah bisa menerima pemberian yang baru. Terkadang, Tuhan harus membiarkan kita kehilangan perhatian, ditinggalkan, atau melepaskan kebanggaan demi kebanggaan, agar tangan dan jiwa kita kembali terbuka. Pelepasan ini menyakitkan, memang. Namun, proses mengosongkan diri ini adalah satu-satunya cara agar kita siap menerima anugerah terbesar-Nya: sebuah hati yang baru. Hati yang tidak lagi disandarkan pada manusia yang bisa berubah atau jabatan yang bisa lengser, melainkan hati yang berlabuh utuh pada kasih-Nya yang abadi.

Hari ini, mari perlahan membuka kepalan tangan kita.
Mari kita lepaskan, untuk bersiap menyambut hati yang baru.