40 Hari Mencari Makna #4 Tubir Laut dan Pengampunan

Suatu saat, saya merapikan koleksi foto-foto di ponsel dan cloud storage, pandangan saya terhenti pada sebuah jepretan tahun lalu, potret lautan lepas dengan matahari yang sedang bersiap tenggelam di ufuk barat. Ada ketenangan yang magis dari gradasi warna senja itu, kontras dengan gemuruh ombak di bawahnya.

Melihat lautan itu, ingatan saya melayang pada sebuah percakapan dengan seorang kawan beberapa waktu lalu. Ia datang awalnya dengan senyum dan bersemangat, kemudian percakapan berlanjut dengan hal yang lebih personal soal pilihan-pilihan hidup yang terakhir. Dengan tatapan yang lelah, ia menumpahkan atas keterlukaan yang ia alami atas rentetan kesalahan yang baru saja ia perbuat, ia mengalami hantaman yang begitu keras yang ia sebut politik korporasi, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Dalam isaknya, ia merasa telah mengecewakan orang-orang dekatnya, bahkan kepada dirinya sendiri yang tidak dapat menunjukkan bahwa ia mampu untuk lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Saya tidak memahami secara lengkap apa kesalahan yang ia maksud, namun dari matanya terus meleleh air hingga ke pipi.

Sebagai pendengar, terkadang kita kehabisan kata-kata. Nasihat sebaik apa pun terasa terlalu dangkal untuk mengukur kedalaman luka batin seseorang yang sedang dihakimi oleh rasa bersalahnya sendiri. Saat itu, saya hanya bisa menyediakan telinga dan secangkir empati, menyadari bahwa kekuatan manusia untuk menenangkan hati sesamanya sangatlah terbatas.

Namun, menatap foto lautan senja itu, saya teringat pada janji yang menggetarkan dari Kitab Mikha 7:18-20. Nabi Mikha melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang indah: “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa dan memaafkan pelanggaran… yang tidak mempertahankan murka-Nya untuk selamanya, melainkan berkenan kepada kasih setia?”

Ada kekuatan kasih sayang yang luar biasa dalam teks tersebut. Tuhan digambarkan bukan sebagai sosok kejam yang berdiri dengan buku catatan dosa di tangan-Nya, siap menghukum. Sebaliknya, Ia adalah Pribadi yang “berkenan kepada kasih setia.” Bahkan pada ayat 19 tertulis sebuah metafora yang luar biasa: “Ia akan menyayangi kita kembali, akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir laut.”

Tubir laut. Bagian terdalam dari samudra, yang tak terjangkau oleh cahaya, tak tersentuh oleh manusia. Jika kita membuang sesuatu ke sana, ia akan hilang dan tak akan pernah bisa ditemukan lagi.

Itulah kekuatan sejati dari kasih sayang ilahi. Di masa Prapaskah ini, kita memang diajak untuk merenungi kefanaan dan dosa-dosa kita. Namun, tujuan akhirnya bukanlah agar kita terus-menerus meratap dan membenci diri sendiri. Tujuannya adalah agar kita menyadari betapa besar, luas, dan tak terukurnya pelukan pengampunan Tuhan.
Ketika kita berani datang kepada-Nya dengan hati yang remuk, Ia tidak mengungkit-ungkit masa lalu. Ia mengambil semua kegagalan, keegoisan, dan kelemahan kita, lalu melemparkannya ke dasar samudra, ditelan oleh samudra kasih-Nya.

Jika sang Pencipta saja sudi mengasihi dan mengampuni kita sedemikian rupa, pertanyaannya untuk kita hari ini: masihkah kita menahan amarah terhadap sesama yang bersalah kepada kita? Atau bahkan, masihkah kita menghukum diri kita sendiri atas kesalahan masa lalu yang sudah Tuhan ampuni?

Semoga kasih sayang yang memulihkan itu memampukan kita untuk melepaskan beban, memaafkan, dan melangkah dengan ringan esok hari.