Sabtu lalu, napas dan fisik saya sebenarnya sudah disiapkan untuk sebuah perjalanan panjang. Saya dan sahabat saya, Mas Widi, sudah merencanakan untuk menanjak Gunung Pangrango. Rencana ini bagi saya, ini sangat personal: gunung pertama yang didaki di tahun 2026, sekaligus sebuah selebrasi syukur atas usia yang baru saja bertambah.
Walau saya selalu menyadari sebuah ironi kecil, bahwa bertambahnya satu tahun usia, hakikatnya adalah jatah waktu di dunia yang berkurang satu tahun.
Sejak pagi, pikiran saya sebenarnya sudah sedikit terbagi. Uda saya, paman, dijadwalkan menjalani operasi. Baru kemarin ia dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh kakinya tiba-tiba terasa kebas. Paginya di grup keluarga turut mendoakan dengan doa dan harapan bahwa prosedur medis itu akan berjalan lancar.
Udara Cipanas menyergap dengan dinginnya saat saya tiba. Sedikit lagi saya akan mencapai basecamp tempat kami menginap, bersiap untuk pendakian yang sesuai arahan Mas Widi, harus dimulai pukul empat pagi mengingat panjangnya trek Pangrango. Namun, sore itu langit mendung dan gerimis mulai turun agak rapat. Saya terpaksa menepi dan berteduh di sebuah tempat bernama Moonlight Cafe.
Sambil berlindung dari hujan dan menyesap kehangatan di tengah udara yang semakin dingin, telepon genggam saya tiba-tiba berdering. Layar menampilkan nama Yoland, adik saya.
Saya mengangkatnya, dan kabar duka itu menyambar telak bagai petir di tengah gerimis.
Jlederrr!
Uda telah berpulang.
Saya terpaku. Tenggorokan saya tercekat, saya setengah berteriak. Udara Cipanas mendadak terasa jauh lebih sunyi dan menusuk tulang. Puncak Pangrango yang sudah ada di pelupuk mata seketika pudar.
Pendakian batal. Tanpa ragu, saya memutuskan untuk memutar arah. Saya harus pulang.
Peristiwa di Moonlight Cafe ini membawa saya pada sebuah perenungan Prapaskah yang sangat menghentak. Kita, manusia, sering kali adalah perencana yang merasa memegang kendali. Kita merancang kapan harus memulai langkah di jam empat pagi, kita menargetkan puncak mana yang harus dicapai, kita merayakan ulang tahun seolah waktu akan selalu berpihak pada kita.
Namun, sore itu Tuhan mengingatkan sebuah realitas yang paling sejati: bahwa sekuat apa pun kita merencanakan langkah, ketetapan akhir kehidupan ada pada Sang Pencipta. Kepergian Uda yang begitu cepat menjadi gema yang nyata dari renungan ulang tahun saya sendiri, bahwa hidup ini sungguh fana, dan waktu kita di dunia ini sedang terus bergerak mundur menuju garis akhir. Memento mori. Membatalkan pendakian dan memutar arah pulang mengajarkan saya tentang esensi Prapaskah: keikhlasan untuk melepaskan ambisi dan rencana pribadi. Terkadang, Tuhan menghentikan langkah kita menuju “puncak” kebanggaan yang kita tuju, karena ada “lembah” duka di mana kehadiran dan cinta kita jauh lebih dibutuhkan oleh keluarga.
Salib saya hari ini bukanlah pendakian fisik berjam-jam menembus hutan Pangrango, melainkan langkah pulang membawa kabar duka, menata hati yang kehilangan, dan bersujud merelakan jiwa yang kembali kepada Sang Khalik.
Selamat jalan, Uda.
Puncak keabadianmu kini jauh lebih indah dari gunung mana pun.



